What I Hope is Just..

Every single person has a fear of marriage and its stuffs. Well, emang sensitif sih ya kalo ngebahas masalah pernikahan. Secara aku juga punya referensi nyata pernikahan yang kurang baik. Bukannya jadi parno atau trauma gitu, tapi bawaannya berhati-hati aja kalo ngomongin soal nikah. Dan entah kenapa, akhir-akhir ini aku jadi restless mikirin pernikahan.

Boong lah ya kalo aku ga stres, Aa ngeributin soal pernikahan lah nabung lah tapi giliran diajak diskusi malah menghasilkan banyak omongan yang bikin aku nyelekit sendiri. It’s only 3 months since the first day of us dating tapi aku mulai anxious. Did I choose the right one?

I know I’m already 25 and being an Indonesian, a woman in my age these days should have married and had at least one child. Kalo mau bilang iri, ya jelas bingid-bingid dah ngirinya. 25 harusnya udah gendong anak tapi ini mah masih jadi anak kosan. Bosen mak, boseeennn… Tapi karena ada ini dan itu, aku belum nikah. Pas giliran ada greget untuk nikah yang terjadi adalah ketemunya sama yang… emmm… susah jelasinnya ini mah.

My Aa, you see, sebenarnya udah punya niat yang baik sekali untuk nabung demi memenuhi biaya nikah nanti. Nikah kan tetekbengeknya banyak, kalo ga disiapin dari sekarang yang ada waktu keburu berlalu gitu aja sia-sia. Maksudku tuh sebenarnya cuma pengin mengarahkan dia untuk berdiskusi tentang detil persiapannya, mau yang gimana, berapa, dimana dan lain-lainnya. Lah wajar kan, nabung juga harus ada target biar bisa terealisasi dengan halangan seminim mungkin.

But what happened was, diskusi yang bikin tekanan darah tinggi jadi naik. Ujung-ujungnya mulai berpikir yang aneh-aneh, is it the right choice? we’re only 3 months dating, after all. Banyak hal bisa terjadi setelahnya, dan kalo di awal gini aja udah banyak keraguan gimana nanti?

Jujur aja aku orangnya gampang illfeel sama orang. Walaupun sayang, sekali mengecewakan kayaknya keinget aja terus. Buatku hal ginian harusnya dibicarain dangan serius, ga asal ngomong sambil ngacuhin seolah bisa di urus nanti. Pernikahan kan harusnya sekali seumur hidup, lah kalo diskusinya aja selengekan gimana nanti? Semenjak aku adu mulut sama Aa soal ini, tiap keinget bawaannya baper bangey dan stres. Depresi deh jadinya.

Aa, I know you love me and so do I. But marriage is not just a word, it’s a lifetime moment which we shoukd think over and plan carrefully. I just hope you understand that I can’t take jokes lightly when it comes to something important to me. After all, we’re planning to live forever, not just having fun while setting everything aside. And above everything, I just hope it’ll work for us.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s