Melody JKT48’s Appointment is Unnoticed

Melody JKT as Fruit Ambassador

Credit to Taka-san (@IwanPalsu)

Yesterday was the inauguration day for Melody JKT48 as the Fruit Ambassador of Okayama Prefecture, Japan. Many Japan news had reported about this and we can find the videos on Youtube. But
I wonder… Why Indonesian news isn’t concerned with it?

A friend on my twitter had voiced his thought regarding to this case by saying,

“Indonesian common people are ignorant with Melody JKT48 named as fruit ambassador. It’s not acknowledged as an achievement.”

Somehow I agreed with his opinion. On Twitter it may be spreading so fast, from tweets and retweets amongst the fans. It’s gratifying, but another story happens on Facebook, or online news. When I posted several links from JKT48stuff contained the English translation from Japanese news, no one even made a single like on those three posts, let alone to post a comment. I even posted in on Fans JKT48 Lampung Facebook group, but it was ignored. We can take the conclusion based on these events : Melody’s appointment as the fruit ambassador of Okayama Prefecture, Japan is as normal as having a sunny breakfast in the morning. Or, the news is only a late bloomer in Indonesia, since only one day past after the news had been published. Either way, I have to say it’s upsetting if there’s only a few amount of people who’re concerned about it. It’s not exaggerating, right? We should have been happy with her appointment. It deserves at least one single report on TV news.

I, as any other fans of JKT48 was kinda hoping that at least Indonesian people consider the good effect and potencial given from this news. Even if I weren’t a fan and simply just happened to see the news, I’d be proud of her and feel that it’s a waste if I didn’t want to share it. According to the JKT48stuff articles (here and here), Melody will be homestaying in Okayama for three days and learning about algriculture in Japan. Since Melo is taking agriculture as her major and attempts to be the Ministry of Agriculture, it’s a perfect opportunity for her as well as Indonesia’s relationship with Japan. But unfortunatelly I still haven’t heard much of her in Indonesia. No national news covers this appointment. Sort of dissapointing, if you ask me. While on the other hand there’s a bad rumor lurking anywhere due to people fast judgement on something that isn’t clear, Melody doesn’t even have any acknowledgement of her achievement here.

Well, I have nothing to say about Indonesian news broadcast. Let’s just hope that they are just a bit slow to respond… Or anything. *shrughs* I’m sure it’ll be recorded in their show eventually. Nevermind though, I will still bid a great congratulation for Melody’s appointment. She is not my oshimen, to be honest. But now I’m fully impressed with her. She’s got to be very shining right now as an idol. Good luck for your homestay in Japan, Melo! 🙂

Pro dan Kontra itu Biasa

Salah satu teman mengirim message lewat Facebook, “Aku mau follow Twitter-mu tapi kok isinya JKT48 mulu. Ntar TL penuh sama tweetmu.”

Reaksiku? Ya ketawa. Sejujurnya belakangan ini aku lagi ngefas berat sama JKT48 dan sering banget ngetweet tentang mereka. Mungkin kelihatannya agak berlebihan ya? Maaf, aku ga bermaksud lebay gitu kok. Namanya juga ngefans, jadi suka khilaf. Hehe.. Waktu temanku bilang gitu di pesan tersebut, aku cuma bisa jawab bahwa itu terserah dia. Kami masih bisa kontak lewat hp dan FB kalau dia ga mau follow aku di Twitter, ini kan bukan masalah serius. Ga ada paksaan.

Tapi memang sih, suka duka mengidolakan suatu figur tertentu itu kebanyakan kerasa di socmed. Jamannya aku suka Justin Bieber, ada yang langsung me-remove aku
dari friend list padahal dia duluan yang add. Masalahnya cuma gara-gara status FB-ku yang isinya tentang bashing comments di fanpage JB. Di Twitter, ada yang pernah retweet tweet-ku tentang Owl City yang ngetweet bahasa Alay mengatakan, “Ih Owl City alay. Ga banget.” Jelasnya aku heran kok ada aja yang masih repot-repot begitu padahal bilangnya ga suka. In my honest opinion, if you don’t like it, just let it. Memprovokasi orang lain kan capek bok, dan untungnya juga ga ada kan ya?

Ga cuma dalam dunia fandom, hal-hal semacam ini memang banyak terjadi dalam perjalanan hidup kita. Paling gampang aja, ketika memilih gaya pakaian. Kita bilang bagus, belum tentu orang setuju. Ada yang mendiamkan, ada yang langsung blak-blakkan bahkan sampai pakai kata-kata yang menyakitkan. Apakah kita bisa menahan mereka untuk berkomentar begitu? Tentu saja ga mungkin bisa. Sama halnya ketika menjadi orang yang mengomentari, adakah jaminan bahwa pendapat kita akan di terima secara positif? Atau berkaca pada diri-sendiri, apakah kita lebih baik daripada orang yang kita komentari? Belum tentu. Begitu pula dengan seorang fans terhadap idolanya. Temanku yang ngefans berat sama SuJu aja ga pernah kukomentari yang aneh-aneh, atau bahkan sekedar bertanya, “Apa sih bagusnya SuJu itu?” Karena aku bukan orang yang mengidolakan SuJu sehingga ga bisa melihat apa yang bagus dari SuJu. Sekarang sebagai fans JKT48, ada yang mau frontal habis-habisan ngomongin JKT48 ya ga masalah. That’s their right to have those opinions. Tapi ga perlu memprovokasi orang lain yang menyukainya, tinggalkan aja bila perlu. Gampang kan?

Dulu pun di awal JKT48 muncul aku sempet emosi baca komentar sebuah akun di fanspage JKT48. Bahkan saking keselnya pernah kutulis post berisi kekecewaan terhadap komentar tersebut. Setelah beberapa lama akhirnya aku mikir, “Well, ga penting juga nih ngurusin omongan orang. Kenal kagak, emosi-emosi dewek.” Nyesel sendiri karena terlalu nanggepin hal sepele seperti itu. Pro dan kontra cuma berbuntut panjang kalau terus jadi perdebatan. Itu yang aku rasakan selama menjadi seorang fans. Yaa biasalah, intermezzo katanya. 😉

Tapi kalo mau jujur lagi nih, aku trauma kalau di suruh masuk grup fans di socmed. Kecuali grup atau forum tersebut cukup secure dari gangguan haters (minimal bisa di netralisir hingga kemungkinan haters bikin rusuh mendekati zero), baru aku mau gabung.
Terus, karena aku ini lumayan agak takut kalau ngobrolin soal idolaku, biasanya kalau ga dengan yang bener-bener sesama fans aku lebih banyak diam. Hehe.. 😀 Saat ini kalau fans Owl City aku ga banyak ketemu. Aku juga ga terlalu aktif di fandom Owl City meskipun semua lagunya aku sukaaa banget, banget gitu. 😆 Lain dengan JKT48, aku cukup aktif. Aku sering ngobrol dengan sesama fans dan ngikutin perkembangan mereka terus. Di JKT48stuff aku selalu berusaha ngikutin berita terbarunya. Asyik deh pokoknya

Jadi fans itu seru sebenarnya ya. Ahahaha.. :mrgreen:

Seruit Meriah

Katanya harus seperti filosofi makan seruit. Tau makanan khas Lampung ini? Aslinya sebenarnya cuma campuran sambal, lalapan dan ikan di dalam sebuah mangkuk yang di campur dan dimakan bersama nasi. Pakai tempoyak silahkan, atau jerus nipis saja ya bolehlah. Katanya sih, maksudnya memaknai makan bersama di satu lauk dan mengambil dari mangkuk yang sama. Jadi kesannya hangatlah gitu, keluarga sehati. Hehe.

Tapi kalau acara makan aku malah ga pernah ikutan, apalagi ngepas ada menu ikan. Berhubung kalau pulang kampung ke rumah Yayik dan Ji’da itu pasti wajib ikan sesuai dengan kebiasaan makan orang Lampung, daripada ga dimakan aku lebih baik belakangan aja deh.

Ga cuma di saat seperti itu aja, pernah ke rumah makan yang ada di dekat terminal Menggala, cuma aku sendiri yang makan sementara yang lain bersantap ria. Habis ga ada menu daging ayam, atau bahkan telur! Sudah nyoba untuk maksain diri-sendiri supaya bisa makan ikan, tetep aja ga bisa. Saudara dan kerabat sampai heran, kok anak orang Lampung ga suka ikan? Ga tau juga nih, aku sendiri bingung. Hahaha. Jangankan makan seruit atau ikan tok, dari jarak tertentu kalau sudah aromanya tercium itu pasti udah gimana gitu. Hegh, ga nahan. Bukannya ga pernah nyoba lho, tapi justru karena udah nyoba itu yang bikin aku ga suka. Hehehe..

Tapi jujur kalau ngomongin seruit, salut aja gitu. Isiannya bisa dibilang komplit, sambal terasi, rebusan seperti terong atau apa aja sesuai selera, tempoyak dan ikan tentu aja ga boleh ketinggalan. Ga selalu harus pakai tempoyak sih, kalau ga suka. Cuma tinggal di campur di mangkuk, udek-udek terus ambil aja dikit-dikit dan makan sama nasi. Yang seru liat tangannya itu, bentar-bentar ada yang nyomot, ada yang nambahin sambal atau ikan, ada lagi yang ngudek-ngudek, dan seterusnya. Makanya seru meskipun aku ga ikut makan. Jadi kerasa meriahnya makan bersama, ya toh? Dan makannya ngepas di tengah ruangan ala lesehan gitu, di gelaran tikar panjang. Itu momen yang hangat dan menyenangkan untuk dilihat. Pokoknya kalau makan di rumah orang Lampung tanpa menu seruit, katanya mak bangek alias ga enak. Maksudnya ga enak kalo belum nyeruit lho. 😛

Mau lihat seruit?


Image randomly taken from Google.

Presentasi kebudayaan semester 2 dulu pas dapet tentang budaya Lampung, seruit aku deskripsikan sebagai, “a food that holds a deep philosophy about intimacy and warmness in family, which you can see how all members eat from one bowl of seruit together.” Ibarat makan sepiring berdua, kalau seruit itu kan makan semangkuk bersama. Lebih meriah kan jadinya? Nah, siapa yang udah pernah nyoba makan seruit bersama keluarga? Mau nyoba bikin sendiri pun, ga susah. Sambel terasi, ikan goreng atau bakar, terong rebus (atau yang lain juga bisa sih ditambahkan), dan tempoyak. Yang lainnya bonusan, kalau mau. Dipikir-pikir, gampang juga ya. Hahaha… 😀

Nonton Jaranan

Jaranan itu…. Kesenian tradisional seperti apa ya? Meskipun sering ada yang mempertunjukkan kesenian jaranan di daerah tempatku tinggal, aku ga pernah tertarik untuk nonton. Dasarnya ga suka di keramaian begitu, dan kayaknya ga berkesan buatku. Diajak nonton jaranan sama tetangga yang lain juga ga pernah mau, soalnya pasti ngajaknya malam hari. Males ah, takut pulangnya kemalaman.

Lalu Senin malam, Emak ngajak nonton. Berhubung saat itu lagi pemadaman listrik, bosan juga kalau cuma di rumah aja. Ya jadilah, bareng sepupu dan tetangga nonton jaranan di balai desa. Sedikit penasaran juga, soalnya selalu ditanya ibu-ibu, “ndak nonton jaranan bareng cowokmu toh, dik?” Ibu-ibu agak kepo, biasa hahaha. Aku jadi kepingin tahu apa bagusnya nonton jaranan itu.

Lalu ketika sampai di lokasi kala itu jam 8.30 malam, jejeran motor diparkir di luar pagar halaman balai desa. Di sekitarnya juga banyak pedagang menjajakan makanan dan minuman, tapi kami datang tentu aja bukan untuk makan donk.. Hehe. Iringan musik lumayan heboh suaranya, tapi belum ada tuh tanda-tanda akan di mulai. Katanya sih tadi sudah keluar, tapi penarinya masuk lagi mau dandan. Ga taulah aku, ga ngerti euy. Biasanya kalo nonton joget Bali sih wajar-wajar aja yang menari lama dandannya. Berhubung aku belum pernah nonton jaranan, meskipun kesal nunggunya at least bisa liat sebentar lah.

Jam 10 malam, baru para penari keluar dari tirai merah di samping pemusik. Kalau ga salah ada 5 pasang, 2 pasang berbaju biru dan yang 3 merah. Kata sepupu yang biru itu penari senior, mungkin dia lebih ngerti kali. Aku sih manggut-manggut aja. Kerumunan yang tadinya pergi menjauh saking kelamaan nunggu pun berkumpul lagi mengelilingi pagar pembatas yang mengelilingi tempat penari akan pentas. Begitu gamelan mulai bermain, mereka pun akhirnya menari. Lengkap dengan kuda dan pecutnya, yang suara pecutannya bikin aku kaget di awal-awal. Kalau dari yang aku tonton, kurang kompak sebenarnya. Ada yang antusias sekali menari, ada pula yang salah terus dan sering tertinggal dengan yang lain. Cuma yaa.. Lama, agak membosankan. Semua gitu sih aslinya, baik joget Bali, atau Barongnya, termasuk juga jaranan. Waktu tiba-tiba gerakan tari mulai berubah jadi aksi pecut-pecutan, eehh.. Seru juga nih. Beberapa konsisten memecut dengan semangat, tapi ada dua penari yang cuma sekedar bergerak saja tapi ga benar-benar mecut. Waktu lari berpindah tempat beberapa kali pun dua penari itu cuma jalan, ga menari dengan benar. Lucu deh pokoknya sampai aku ketawa, walaupun cuma sebentar.

Ketika irama tabuhan berubah, tiba-tiba suasana jadi lumayan seram. Dua penari berbaju biru kesurupan (?), kemudian di susul sekitar 3 orang dari kerumunan penonton. Mereka semua melakukan gerakan aneh, ada yang tengkurap, lalu ada yang melata sambil lidahnya terjulur, ada pula yang meliuk kesana kemari. Tapi setelah itu mereka menari diiringi musik tabuhan, kadang-kadang sambilan bergerak aneh macam hewan. Irama musik yang sama berulang sekitar 3 kali dan hal yang sama terjadi pula, sehingga kami akhirnya memutuskan untuk pulang berhubung waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 malam. Lagian dari tadi sebenarnya aku sudah capek berdiri terus, belum lagi ngantuknya itu. Minimal sudah pernah nonton meskipun belum bikin aku terkesan. Hahaha.

Tapi ada bagusnya sih tontonan seperti itu digelar, apalagi untuk aku yang awam dengan kesenian tradisional. Mungkin kalau ada yang lebih bagus lagi dan aku berkesempatan untuk nonton, bolehlah sebagai hiburan. Daripada nganggur kan ya. 😆

Merdeka Ya Merdeka

Pertama-tama ngucapin dulu, Selamat hari Kemerdekaan RI yang ke 68. Telat ya hehehe… Rencananya kemarin udah kepingin post tapi terlalu banyak yang mesti di kerjakan sehingga yang mau di tulis di blog kehapus dan ga sempet disimpan di draft. Habisnya biasanya cuma di save lewat feature copy text hp sih… (lho jadi curhat ya ini?)

Yak, dua hari kemarin berbagai pesta kemerdekaan meramaikan suasana perayaan hari bersejarah bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus. Upacara, bendera merah putih berkibar di mana-mana, perlombaan dari balap karung hingga panjat pinang, atau konser-konser khas kemerdekaan. Yaah.. Kalo ga di rayain sih kebangetan juga deh, secara Kemerdekaan RI itu ga didapat dengan gampang. Perjuangan ratusan tahun rakyat kita melawan penjajah lho. Dibanding kita yang sudah mengecap nikmatnya hidup di negara yang merdeka selama 68 tahun, kehidupan para pejuang dan leluhur kita jauh lebih sulit dan mencekam. Jadi jangan lupa mengapa kita merayakan kemerdekaan, kita diberi amanat mewakili semangat para pejuang dan rakyat yang belum sempat ikut merasakan kata merdeka itu dengan mencintai negara dan menjaga tanah air. Tsaahh sekalinya diriku ngomongnya sok filosofis banget yak hehehe..

Bukan apa-apa sih, selama ini entah mengapa banyak orang mulai “protes” di hari Kemerdekaan. Banyak bisik-bisik tetangga berkumandang, “Gimana bisa merayakan kemerdekaan kalau negara ini belum benar-benar merdeka?”. Bayangin, di suatu masa ada banyak banget orang yang ingin melihat bendera pusaka berkibar serta teks proklamasi dibacakan Ir. Soekarno tapi keburu sudah tutup usia, atau mungkin wafat di medan perang, generasi muda yang lahir saat RI sudah merdeka bertahun-tahun yang lalu aja kok ya masih berkomentar demikian? Aneh, sungguh aneh.

Menurutku, rasanya jadi prihatin kalau kita cuma bisa bicara tapi ga ada tindakan. Misalnya, seperti kemarin ada kasus mengenai insiden saat upacara bendera di ceritakan di social media, ada yang berkomentar bahwa hal tersebut memalukan dan seharusnya lebih baik bukan mereka yang mengibarkan bendera daripada membuat malu seperti itu. Aku teringat saat menjadi anggota PBB dan mengikuti lomba PBB se-kabupaten, tugas tersebut berat sekali untuk dilakukan sehingga tahun selanjutnya aku menolak ikut kembali. Dulu pun aku juga pernah ngerasain malu dan kecewa saat jadi petugas pengibar bendera, aku tahu rasanya dalam situasi tersebut dan rasanya sungguh menyedihkan. Baik menjadi anggota PBB maupun paskibra adalah amanah besar mau itu hanya untuk upacara sekolah aja. Seandainya yang berkomentar itu ada di posisi mereka, pastinya sedih dong. Sama aja seperti para pejuang negeri kita yang sudah bersusah payah agar anak cucunya bisa hidup merdeka, pastinya sedih karena mereka berharap apa yang diwariskan kepada keturunannya bisa di jaga dan dihargai. Sedangkan untuk merayakannya saja masih ada aja suara negatif yang demikian.

Sebagai orang yang senang dengan yang pasti-pasti, bagiku memaknai kemerdekaan juga aku lakukan dengan cara yang pasti-pasti juga. Ngapain ribet, kelihatannya seolah ragu nian dengan tanah dan bangsa sendiri. Harusnya bersyukur kita merayakan 68 tahun kemerdekaan RI, bukannya lagi berperang dan lihat sekeliling kita mencekam porak-poranda oleh bom dan senjata. Coba kalo begitu, apa jadinya Indonesia?

Secara pribadi, jujur aku memang belum bisa ngasih sumbangsih apa-apa sama negara dan pengetahuan tentang Indonesia juga masih sama ceteknya dengan empang sawah. Kadang aku malu juga, liat ada orang-orang yang bisa mengharumkan nama bangsa dengan prestasi atau bisa melakukan sesuatu untuk menunjukkan rasa cinta Indonesia-nya. Diriku belum apa-apa nih, masih mencoba meresapi terus arti kemerdekaan. Hanya aja aku mencoba untuk melakukan suatu hal kecil yang mungkin sepele tapi buatku penting, yaitu menyimpan harapan agar masih dikasih umur dan kesehatan saat merayakan hari kemerdekaan yang seterusnya kelak. Terus saat itu, bisa cerita sama anak-anak atau bahkan cucu tentang Indonesia tempat aku lahir, besar dan insyaallah nantinya beristirahat. Kan itu udah kayak baton touch aja ya dari generasi lama ke generasi baru. Suatu saat kita bakal jadi yang dipanggil generasi lama dan bakal mewariskan Indonesia kepada generasi baru. Yahh… Tinggal tunggu tanggal mainnya aja deh. Jelasnya, apapun yang sudah terjadi di Indonesia, yang namanya merdeka ya merdeka.

Sama Saja Bohong

Senin kemarin, grup FB khusus alumni SMK tiba-tiba heboh karena ada sebuah akun memposting kalimat yang seronok di dinding grup. Waktu itu aku ga terlalu merhatiin karena kupikir admin grupnya juga nantinya bakal menghapus post itu. Ga taunya sampai hari Selasa, post berbahasa buruk itu masih nongol di group dan komentarnya sudah sampai angka 30 lebih. Isi komentarnya pun ga ada yang bisa ngasih solusi, malah sama-sama kasar dan seronok seperti post yang dikomentari. Lha, jadinya kesel kan ya? So aku pun ikut ngomentari. Kutegur member-member supaya post itu sebaiknya dihapus aja dan ga usah dikomentari. Malu kan, kalau sebagai binaan sekolah di bawah yayasan Islam malah berbahasa kasar ga terkontrol. Komentarku cuma dapat jempol, tapi ga ada yang mengindahkan. Malahan komentar lain yang masih dengan bahasa kasar terus berbaris di bawah komentar yang aku buat. Walah… Ya sutralah, los ga mau ngurus lagi. Heboh-heboh lah tuh grup alumni.

Rabu paginya, log in ke Facebook sudah bertengger notifikasi dari grup alumni. Satu persatu kuperiksa tapi akhirnya nyesel sendiri. Kirain udah di urus heboh-hebohnya sama admin grup dan para member bisa sadar masing-masing supaya hal itu ga dibahas terus. Eeee… Makin parah yang ada. Beberapa member mulai posting ke dinding grup membicakan si akun penyebab keributan, komentar semakin ramai, dan si akun biang keladinya sendiri juga ga kalah aksi dengan posting lagi di wall grup alumni. Ya kontan komentarnya sama bejibunnya, diladeni terus tanpa ada yang berinisiatif mengontak admin supaya si akun di blok dari grup. Siangnya baru ada peringatan di posting dari salah satu member (non-admin) agar membiarkan postingan si post tukang bikin rusuh, jangan di like maupun di komen. Tapi aku terlanjur kecewa melihat para member menghadapi kejadian itu. 3 hari keributan di grup, baru ada yang ngasih peringatan. Sedangkan sejak awal aku mencoba menegur ga ada yang dengar, dibiarkan aja seolah jadi hiburan. Admin ga muncul dan ga ada yang berinisiatif mengontak, dan akhirnya sudah kepalang banyak yang was wes wos di kalangan alumni memberitakan kejadian di grup. Inilah percakapan antara aku dan salah satu member yang memposting peringatan;

A : Lucunya, sudah dua hari post si TPS itu di wall grup tapi ga ada yang menghapus atau akunnya di blog. Bukannya sama aja dosa ya mencaci maki orang dengan bahasa yang kasar. Berarti kita sama aja dengan dia.

M : Iya tadinya saya berniat begitu tapi berhubung sudah kelewat kesal jadi ya mau gimana, harap maklum saja.

A : Ya kan lebih baik admin menghapus post-post itu dan TPS di blok dari grup. Akhirnya ribut-ribut juga jadinya. Kalau kita binaan ****** harusnya ga begitu caranya.

M : Masalahnya admin jarang kelihatan jadi anak buahnya yang turun tangan.

A : Ya siapa aja lah yang bisa. Kan lebih baik dihapus aja.

M : jujur aku ga tau dan ga bisa.

A : Lha terus kalau admin grup aja jarang nongol lalu gimana kalau ada masalah begini. Sama aja bohong ada grup alumni. -_- Memangnya ga bisa di kontak adminnya? Siapa gitu yang tahu.

Setelah itu selang beberapa komentar dari member lain, admin baru muncul menyampaikan permintaan maaf dan berjanji akan menghapus post-post yang tidak baik dan mengeluarkan anggota yang mengganggu di grup. Hari ke 3 di jam sore baru admin muncul, dan itupun mungkin dihubungi karena aku ribut menanyakan admin. Tapi yah… Yang terjadi biarlah terjadi. Lebih baik mas admin terlambat datang daripada ga sama sekali, ya kan?

Intinya, sungguh mengecewakan melihat alumni binaan sekolah yang baik dilandasi agama justru ga bisa menghadapi situasi seperti ini dan lebih gampang terpancing untuk ikut nambah dosa mencaci orang lain. Hal yang sepele bisa berlarut jadi panjang karena ga ada rasa tanggung jawab untuk bersama menjaga ketertiban dan lebih senang ikutan berheboh ria, padahal bukannya kapok malahan si biang keladi jadi senang sudah sukses membuat keributan. Yah… Entah ya. Mungkin khasnya orang kita begitu kali. Senang berbicara tapi tangan terlipat. Sedihnya, fakta ini terjadi di grup alumni sekolah. Seandainya terjadi di grup umum, ga akan kecewa amat deh aku. Apakah karena gampang di buat makanya grup FB itu juga gampang aja dibiarkan ga terurus? Berarti benar dong yang kubilang, sama aja bohong membentuk grup. Ckckck…

Reuni SMK Tahun 2013

Ini kali kedua aku hadir di acara reuni SMK, tapi sayangnya masih sama aja seperti tahun lalu. Malahan rasanya agak minder gitu, soalnya angkatanku cuma sedikit yang dateng dan teman satu kelas sepertinya juga ga kelihatan. Beda dengan acara tahun kemarin, aku masih bisa ketemu temen satu kelas dulu. Selain itu, meskipun ruangan yang digunakan untuk acara reuni bagus karena baru dibangun setahun yang lalu, acaranya lelet dari jam yang tertera di RSPV Facebook. Katanya mulai jam 9, tapi molor sampai jam 11 siang. Di situ ga banyak temen yang bisa di ajak ngobrol, jadi agak sedih. Ketemu kakak-kakak kelas dulu yang tahun kemarin ga nongol di acara tahun lalu, pada kaget liat aku yang badannya jauh lebih kurus dibanding jaman SMK. Ehehe.. Iya donk mba’e, masa mau gemuk mulu. Tapi lama-lama akhirnya malu juga, masa ketemu guru reaksinya sama kagetnya. Waduh, sepertinya orang susah nerima kenyataan kalo orang yang gemuk bisa ngurus. Ada yang sampai berkomentar waktu kubilang aku ngurusin badan lewat puasa, “Aku kok puasa ga ngurus-ngurus ya?”. Itu berarti usahanya ga mantep hihihi…

Sambil nunggu acara di mulai, aku coba touring ngeliat perubahan kompleks sekolah yang sepertinya lagi dalam proses renovasi. Gedung lama yang dulu pernah aku tempati salah satu kelasnya pas kelas 10, gabungan dengan STM udah berubah jadi baru dan di cat beda warna. Gedung lain yang sudah dibangun lebih dulu pas aku kelas 12 sudah ada penambahan ruangan dan lantai lagi, dan ruangan yang ada di gedung itu yang digunakan untuk penyelenggaraan acara. Selebihnya, gedung-gedung lama belum banyak yang di bongkar, lapangan sepertinya juga mau dijadikan lokasi masjid karena ada batako dan adukan semen di letakkan sana. Overall, perkembangannya kelihatan so far.

Ini foto-foto kompleks sekolahku, SMK AL-IMAN, Banjar Agung, Tulang Bawang.

SMK AL-IMAN

Acara berlangsung selama dua jam, di buka dengan sambutan-sambutan dan langsung di tutup setelah sambutan di berikan. Cuma satu orang yang menyampaikan kritik dan saran di forum, tapi saking panjangnya para hadirin akhirnya langsung makan siang. Setelah itu yaa pulang deh, secara memang cuma segitu acara reuninya. Haha.. Untungnya sebelum pulang, aku bela-belain nungguin semua foto yang diambil selama acara di copy ke flash disk. Saking banyaknya hampir sekitar 20 menitan aku harus nungguin pengkopian. Kasihan banget sama adek yang nungguin aku sambil panasan, soalnya memang aku di antar dia menghadiri reuni. Aih.. Menghadiri reuni penuh perjuangan ya.

Yang kusedihkan adalah bahwa teman-teman satu kelas ternyata ga datang ke acara reuni. Padahal dari jauh hari aku udah ngobrol dengan beberapa teman supaya pada dateng ke acara, tapi entah apa karena ga tau waktunya, ga bisa, atau malahan udah reunian sendiri di tempat lain. Soalnya waktu itu ada yang ngusul kepingin di luar acara kampus, tapi ga ada yang konfirmasi satu pun baik lewat Facebook maupun sms/telpon. Diriku kecewa bok, tapi nasi telah menjadi bubur ayam sayangnya. Gapapa deh, jadikan pelajaran. Mungkin karena kurang info dan koordinasi jadi pada ga dateng, soalnya tahun ini jumlah yang hadir lebih sedikit.

Gini nih suasana acaranya di hari Minggu (11/08).

Reunion

Mungkin agak illfeelnya sama acara kemarin, karena waktunya ngepas Minggu jadi aku harus rela ga nonton acara favorit, terus terlalu molor waktu, dan akhirnya ga ketemu temen-temen sesuai harapan. Yaa mau gimana lagi, reuni tetep reuni. Cuma sekali setahun ini lah, sayang juga ga dateng. Moga-moga tahun depan ada hal yang lebih menarik terjadi dibanding tahun sebelumnya.