Iseng Iseng Ngeband

Kalo ada yang baca post ini termasuk penggemar karaoke, pasti tau juga lah bedanya nyanyi diiringi musik karaoke dengan yang asli dari band. Kalo nyanyi karaoke, mau suara bagus atau nggak yang penting ikut musik, namanya juga buat have fun. Aku ga pernah bener-bener merhatiin kalo suaraku sebenarnya amburadul juga meskipun beberapa ada yang bilang aku punya vocal yang bagus. Ga tau aja mereka yak.

Dari bulan kemarin, teman kerja ngajakin ngeband iseng-iseng. Rencananya mau ngisi festival di bulan Januari gitu, tapi belum tau kapan. Mumpung nganggur kupikir, ‘Ok dah, suara gue juga nggak jelek-jelek amat kok’. Sampai saat ini beranggotakan 4 orang SPG dan SPB (masing-masing 2 cewek dan cowok) plus satu anak SMP yang kebetulan adik salah satu anggota parking boy di area parkir Chandra Teluk Betung. Latihan baru 3 kali dan masih stuck di lagu Takkan Pisah by Eren dan Cinta Terbaik by Casandra. Bingung mau nyari lagu apa, soalnya ekeh ternyata kagok yak, nyanyi ini itu susah. Mau gimana geh, udah biasa nyanyi dibantu lirik, giliran ngeband yaaa… sesuai seadanya kemampuan deh. Hihi. Tiap latihan maunya ketawaa aja, sayah kok ancur gini ya? Malu-maluin aja.

Tetapi, bisa dibilang kegiatan baru ngeband iseng ini adalah impian masa abege yang akhirnya bisa terwujud. Jaman SMK dulu aku ngarep banget diajak orang ngeband, ikut-ikut festival nampangin suara. Karena selama SMK ga pernah ikut lomba nyanyi apapun, bawaannya jadi ga puas. Kok masa 3 tahun terakhir sebelum jadi orang dewasa malah ga punya cerita, di ajak ke studio nonton orang pada ngeband mah hepi aja. Kalo lagi classmeeting maka waktu kosong berakhir dengan main sama teman, diam-diam ke studio musik terus jam 2 balik lagi ke sekolah di mana jemputan pastinya udah dateng atau lagi otewe. Lewat jalan tikus donk tentunya, biar ga kena damprat. Tapi ya itu, acaranya cuma nonton dan ga jadi yang ikut terlibat dalam sebuah band. Kalau diingat lagi sih sekarang aku malah ngerasa agak bodoh karena waktu yang luang seperti itu terbuang sia-sia.

Yang bisa aku syukuri adalah bahwa Allah masih ngasih aku kesempatan untuk mengalaminya meski agak telat. Gapapa, better be late than never. Toh passionnya sama besar dengan waktu sekolah dulu, tapi sekarang ga perlu nyumput-nyumput lagi deh dari orang tua. Um, post ini pendek karena ga terlalu banyak yang aku bisa ceritain, berhubung juga latihan masih bisa diitung berapa kalinya. Doain aja deh moga-moga bisa dapet kesempatan manggung. Amienn…

My Impression on D’ Academy Asia

The first time I heard about D’ Academy Asia in Indosiar really gave me a bit nervous feeling because how dramatic our national channel shows could be. It’s lived streamed via Vidio.com and has been airing for 5 days at 7 PM until midnight. I thought something ridiculous would happen to the point of shaming our faces. Please don’t get me wrong because I really appreciate Indosiar’s effort to air such a big competition like this. If the producer didn’t come up with this idea, I would have never known that there’s a lot of non-Indonesian singers who can sing Dangdut very well. But I can’t help myself from frowning over the choices of elements in this show, for example; the hosts. If it were me, I would have chosen different hosts or added one host another country. Instead of usual faces or jokes I already used to hear in D’ Academy or Bintang Pantura, I would love to invite a famous host from other three countries and share new jokes with Indonesian hosts. I would be an interesting distraction to prolong this show duration.

For the format, I think it should have been different with D’ Academy or Bintang Pantura, for example; like showing contestants’ background in PT to make an introduction for unfamiliar faces. I knew some of the faces like Mimifly or Shiha, but got blank on others like Abby Tinara or Sai Firza. For me it’s such a pity I don’t get to know them first because it could give a fresh impression to the contestants and the show itself. The show has very long duration slot and how the creative crew only waste it with jokes and unnecessary distractions made by the hosts irks me so much. The only thing gets into my mind is, “Annoying! Why can’t you make it different with what I’ve usually seen in D’ Academy or Bintang Pantura?” I mean, if it’s meant to be an international show (or regional, because the purpose is only for 4 countries) the production team should have made some observations about what an international show would be expected. If it’s only based on usual Dangdut competitions held by Indonesian channel, what’s the different? What I can only see is an Indonesian Dangdut competition which invited singers from neighbor countries to join, with usual boring and prolonging distractions. Not international kind of show held in Indonesia.

Let’s make a comparison with shows like Indonesian Idol or X-Factor. I know they’re adapted from America so the format looks so international-like. It’s expected from this kind of show. I don’t say we should do the same; adapting international shows to make our look as international-like, but at least it’s expected to be different. Like the shooting angles, the stages, or other supporting elements. I feel somehow it’s missing, or actually kinda avoided. Dunno.

The plus point of this show is that we got a new feeling of watching Dangdut competition. The contestants come mostly unknown and promise us an excitement; we don’t actually know which is better and it’s such a fun to hear new faces singing their way/version of dangdut. And I feel somehow that this is the real competition I’ve been wanting to watch. I love watching our songs sung by singers from other countries. I hope it wouldn’t be the only Asisn Dangdut competition to be held, and there will be more after this. By the way, please remember that this is just my own personal impression and thought and this has nothing to do with the show itself. I’d be glad if you like this show, but don’t let this change your own thoughts. I really appreciate this competition because I love Dangdut so much, so no matter what I wrote in this post the show gets full support from me. 🙂

SPG Ngobrolin : Dillema Makeup

Makeup itu memang dilema perempuan. Dulu sebelum kerja ga pernah pusing sama warna-warni pemulas wajah, cukup pake bedak sama eyeliner doank trus capcus dah kemana-mana. Kalo diinget lagi, aku sering banget ngalamin ‘muka topeng’ gegara salah bedak. Dulu kan masih cabe sih ya, hahaha.

Sekarang mah malu atuh kalo kerja diantara para wanita cantik trus bawa muka topeng jaman bien. Mau ga mau dakupun mulai belajar pake makeup yang bagus. Lagian di kerjaan udah macam kelas makeup, senior-senior pada ribut ngomongin produk makeup yang bagus sementara pasukan Shaun The Sheep (alias anak-anak training putih-hitam) diam-diam ngeliatin SPG lama lagi dandan. Jaman aku masih training dulu ya gitu, sampai kadang jadi malu sendiri kalo nimbrung dandan bareng anak lama. Pernah waktu itu masih pake compact powder Fanbo Gold yang harga 12rebuan langsung dikomen, “Wah, ini sih bedak emak gw!” dengan susulan tawa membahana. Kalo tahan malu ya palingan ikutan ketawa aja deh.

Aku mulai pake produk makeup ‘branded’ pun karena rekomendasi Emak. Waktu Emak bilang kalo Wardah Lightening two way cake bagus dan tahan lama, pas gajian aku coba deh beli dan pake. Setelah pake beberapa bulan pake aku sadar kalo tekstur bedak Wardah emang padat banget sehingga wajar tahan lama. Beberapa temenku yang lain lebih prefer La Tullipe Compact Powder padahal harganya sama wae sih. Aku ga pernah nyoba, tapi sekali liat udah tau bedaknya padat ga ketulungan jadi sama aja sih mau pake yang mana. Lagian aku juga ga mau sering-sering gonta ganti bedak daripada kena resiko iritasi kulit. Dan dari perubahan pilihan bedaklah jadi nyamber ke hal lain, seperti moisturizing cream buat makeup base, eyeshadow kit, lipstik sampe ke blush on. Dari yang ga pernah pasang budget makeup lebih dari goban akhirnya mau ga mau harus pinter ngatur gaji biar semua kebeli. Inilah dilema pertama, pengin cantik tapi ga sejalan sama budget. Makanya aku nulis di post sebelumnya kalo makeup itu one rule only; siap nyoba atau mending ga usah sama sekali.

Kalo kerja ga nuntut makeupnya mesti lengkap dan at least enak diliat sih aselinya ga guna juga ngoceh ginian. Abisnya buat apa pula pusing kalo ga wajib kan yah? Sayangnya ini wajib, dan dilemanya jauh lebih berat ketimbang masalah bugdet. Namanya juga wajib, harus ada, sedangkan belum tentu kondisi keuangan memadai. Contoh kecil aja waktu blush on aku habis sementara sisa uang gaji cuma cukup buat makan doank. Akhirnya darurat beli blush on murah meriah meskipun akhirnya jerawat nongol satu-satu di pipi dan kadang suka berasa gatel kalo udah berjam-jam dipake. Mau gimana lagi, Lebih baik gitu daripada dibilang Supervisor kayak abis aborsi lah atau semacamnya. Sekedar warna lipstik pun juga ga ketinggalan bikin repotnya. Ga punya lipstik merah cabe jangan harap boleh masuk area kerja. Akhirnya kadang harus beli lebih dari 1 jenis warna lipstik, karena takutnya lagi asik kepingin pake lipstik warna favorite eh taunya di suruh ganti warna merah. Boros dah akhirnya. Gimana ga dilema tuh kalo tiap hari gini?

Sebenarnya bukan cuma masalah di atas, kalo mau di sebutin satu-satu gemporlah tangan adek bang. Tapi semua cewek pasti ngalamin dan bisa relate dengan dilemaku soal makeup. Dengan masalah-masalah tersebut aku harus tetep retouch makeup minimal 2-3 kali selama jam kerja. Minimal tiap bulan repurchase bedak dan lipstik jadi averagenya ya IDR80k per bulan. Ditambah dengan keperluan lain dan bayar kosan maka keinginan lain dengan berat hati harus dipendam dalam-dalam (beli buku misalnya). gajiku 1,5 juta per bulan dan sisanya paling dikit berkisar IDR300k-500k. Berasa jadi wonder woman ini yah ahahaha. 😀

In case if you’re wondering, ini peralatan perang bulanan aku;
1. Pixy Radiant Finish Lightening Cream, variant Complete Barrier. Sampe saat ini masih ampuh nyatu sama bedak yang kupake.
2. Wardah Lightening Two Cake, No. 01 Natural Beige. Yang selama ini cukup cocok di kulit dan keliatan proses mutihinnya.
3. Sariayu Black Eyebrow Pencil. Lembut dan pekat jadi ga perlu tebel aplikasi udah langsung kelihatan warnanya. Tadinya pake yang Pro tapi ga cocok buat aku yang gampang keringetan.
4. Mirabella Eye Shadow Kit. Awet banget jadi wajar harganya agak mahal karena staying powernya dijamin.
5. Nonna pink Pro Make Up Blusher. Merk lokal tapi hasilnya bagus kok di mukaku.
6. My darling Liquid Eyeliner dan Pixy Black Eyeliner Pencil. Buat upper dan lower lid, tapi jarang pake Pixy karena bikin mata berair mulu.
7. Evany Senses Mascara. Murah, gampang di bersihin, tapi kalo waterproof sebenarnya ga juga. Kalo aplikasinya tebel buat nambahin volume trus kena air (misal pas wudlu) Bakal melting, kayak nggumpal di bulu mata. Jadi aku jarang pake tebel-tebel.
8. Lipstik : Pixy Silky Fit Satin Lipstick “Strawberry Pink”, Beauty Kiss 3D liptint, Viva Lipstick No. 5, Pixy Pink Lip Colour Conditioner. Semuanya dipake lho. Ganti-ganti tapi.

SPG Ngobrolin : Fashion VS Makeup

Sekarang begitu sudah tau rasanya punya uang sendiri entah kenapa maunya ngomongin fashion dan make up, berhubung profesinya jadi SPG baju cewek. Dulu sih taunya buku ama inet, tapi sekarang review buku di blog aja udah ga pernah. Memang kayaknya aku ini orangnya cepet berubah ngikutin perjalanan hidup. Sekali waktu bisa jadi seorang fans JKT48 yang siap kapan aja nge-translate Q&A atau video buat fans luar nagri, eh ga taunya sekarang pikirannya cuma gimana biar bisa dapet look di fashion dan makeup yang bagus biar selfie juga keren gituh. Padahal, selfie pun jarang. Hadeh. Pening pala.

Pas siang lagi break makan di kosan, sempet ngobrol sama tetangga cabe. Lalu si Cabe pun berkomentar, “Walaupun umur gw udah 20 mbak, gw masih kepingin jadi cabe-cabean yang pengin pake baju bagus kemana-mana. Biar ga disangka tua.” Terus aku mikir, apa pula kabar diriku yang udah 24 ini kalo masih mikir soal baju dan makeup sementara di umur segitu orang lain mah udah punya anak dua biji dan mulai nabung buat masa depan keluarga. Ibarat kalo aku ngikutin jejak si Cabe, yang ada macam paprika kali yah. Bentuknya aja gede bantet, lah rasanya? Alhamdulillah kalo masih enak dimakan.

Sebenarnya cewek manapun dan di umur berapapun pasti doyan fashion dan makeup. Cuma seleranya aja beda-beda. Seleraku sama Cabe soal berpakaian jelas udah beda banget, mungkin dia masih greget kepingin beli baju branded padahal bahan mah ga jauh beda ama pasar sedangkan aku lebih milih ke sisi comfortnya. Kalo bagus tapi bikin nyesel karena mahal, kan ga comfort juga. Aduh, padahal bisa nunggu diskon atau mungkin bisa dapet di Simpur/Bambu Kuning. Suka gitu tuh yang muncul di kepala abis beli baju di mall, padahal diri sendiri yang milih. Makanya sekarang prinsipku ya belilah yang bikin nyaman di badan dan di kantong. Karena kalo nyesel, ga bisa di balikin. Ujung-ujungnya cuma numpuk ga guna di lemari, kan ngeselin.

Itu kalo soal pakaian. Soal makeup, ini lain cerita. Makeup cuma punya 1 rule utama, coba atau mending ga usah sama sekali. Soalnya menurutku makeup tuh lebih adiktif ketimbang baju dan kawan-kawannya. Sedangkan harga makeup tuh ga murah yah bu, padahal makenya ga cukup sebulan. Kalo baju dkk kan mehong juga bisa dipake dalam waktu yang lama, sedangkan makeup kalo boros pemakaian mah wasallam deh. Anehnya aku malah lebih demen ngurusin makeup ketimbang pakaian. Salah baju bisa di akalin dalam waktu cepet dan ga makan waktu, tinggal ganti doank. Lah salah makeup? Hasil jelek jadi kayak topeng onyit, eh taunya jerawat nongol sana-sini. Makanya dibanding pakaian, aku lebih care soal makeup, soalnya ga bisa sembarangan.

Tapi ini sih ga berlaku di setiap keadaan. Kadang juga males sih mau ribet-ribet soal makeup dan ngandelin penampilan biar ga keliatan kayak lagi ngegembel. Kadang juga udah males juga sama keduanya jadi sebodo deh diliat orang nggembel ria. Well, intinya yang penting semua dibawa hepi dan nyaman aja. Lagian kalo keduanya bisa jalan bareng sih lebih baik. Haha.

BeGAL-nya Newendi Septian

Hati adek juga dibegal ya bang? *mesem

Baru aja kemarin abis ngupingin temen-temen kerja ngerumpi tentang Stand Up Comedy Academy Indosiar yang lagi heittzz belakangan ini, pulang kerja nyari nama Wendi di Youtube. Nemunya di ajang SU tetangga, tapi it’s indeed Newendi Septian the Lampung-born Comic. Kak Newendi beda 2 tahun yey sama aku, haha. 😀 Sayang banget setiap open mic di SUCA Indosiar pasnya selalu di hari aku lembur, jadi ga bisa liat deh. Pada bilang Kak Wendi ini gokil abis, tapi doi emang bukan sosok baru dalam dunia StandUp Comedy terutama di Lampung. Menurut Wikip dia juga bikin semacam project bersama Stand Up Comedy Indo Lampung yang diunggah ke Youtube mengulas tentang Lampung dalam bentuk miniseri (bisa liat di akun twitter @begal_series) . Hebat ya, bisa berkarya sebagai Remaja Lampung dalam bentuk lawak. Aku aja belum tentu bisa ngebanyol seger kalo lagi ngobrol. Ini salah satu video open micnya;

Yang ini di Metro TV, tentang Begal nih;

Materi lawakannya yang paling khas itu soal Begal di Lampung, yang emang udah familiar banget buat kami sendiri sebagai warga Lampung. Dari berita serius ampe sepikan gombal kita mah ga jauh-jauh dari begal. Kata temenku, “Ibarat begal, kamu tuh udah begal-begal hati adek, bangg..” Ciee. Tapi BeGAL (Becanda Gaul Anak Lampung) a la Kak Wendi dijamin ga merugikan kok, kecuali masalah kesehatan terutama yang punya penyakit asma. Yaa ga lucu kan kalo lagi ngakak-ngakak, eh bengek deh akhirnya gegara terlalu asik nonton. Aku pernah sih soalnya, haha.

Anyway, aku juga pengin deh bisa membawa kekhasan Lampung sebagai seorang Blogger. Ngiri juga ada yang bisa sukses bawa nama Lampung secara nasional lewat hal yang ditekunin. Jujur aja, selama 3 tahun jadi blogger kayaknya belum ada kontribusi apa-apa deh buat negeri tercinta. Apalagi aku punya wadah yang tepat untuk eksplorasi lebih luas mengenai Lampung, jadi minder. Belum bener-bener greget sih buat ngelaksanain makanya ga pernah kesampaian. Yang kayak gini menginspirasi bangey terutama bagi komunitas muda Lampung untuk lebih antusias berkarya. Yah, semoga aja Kak Wendi menang. Good luck ya. 🙂

Oh, dan twitternya @Newendi, in case if you’re asking. 😉

Things These Days

I think I should make an update after weeks of hiatus. Well, not really hiatus, but a laziness. You know how I am as usual. I’m actually a bit confused of what title I should use for this post, so if it seems out of topic then please ignore and just read. And comment, as well.

I moved into a bigger rent room after its former user decided to move away due to our electricity problem. I’ve been waiting for this actually, so I called father to negotiate the price with my landlord for that room. The price is higher by 50k, but I got bigger size room which will benefit me if my family or relatives want to visit. It’s a good change. On the other hand, I had just been cruelly busted. Something I don’t want to share in details but let me tell you this; don’t trust anyone easily even if you really love them. Especially for those who are in long distance relationship, make sure that your lover has a good and genuine intention towards you. I don’t have much experience in dating guys and the current one I just had was a LDR, but it ended up with something so simple that it really hurts me. Trusting someone you think will love as much as you do but being betrayed eventually, is hurtful. But, well, it’s the real truth of life. For now, I will only focus on my job and family and try not to think about it anymore.

By the way, in 16th and 17th we’ll be having themed costumes to celebrated Indonesia Freedom Day. I plan to post the pic of my costumes in those dates. I got two themes; fishermen in 16th and Balinese in 17th. The preparations are giving me headaches everyday, but I’m also excited with it. I hope my sacrifice for not taking three days leave will pay me a great work time and sale. And also, we’re paid higher in ‘red date’, lol.

Oh, and since my leave is cancelled until next month, I hope this time I could post my second ‘going back home’ experience without being hindered by laziness. Haha.

Making Review, No Answer, But No Review Displayed After That

Okay… I am actually miffed to find something like this happened. I recently updated my bbm app and was surprised to see the whole new design of my updated app. Which is like these;

I’ve been so used to old design that I instantly complained the round shape of display picture. I mean, WHY. ROUND. WHY?!?! Why the BBM needed to change its shape duplicating other apps look? I was actually okay with the functions and others except for that part, because when I changed my pic several times the round shape looked reaaallllyyy disturbing. What did I do after that? I complained. I made a review on BBM page telling that I hated its display picture round shape. Clicked submit button and left it for hours.

Only to find it got deleted. None. Nada. No trace of my review on BBM page. How rude. Tsk, tsk.

I would have screenshoted the review after submiting it if only I knew they were going to delete any flaring review and ignore users’ complaints. But, well, it’s not new and unsual in internet to get your thought ignored and deleted. At least I hope the BBM team could take my suggestion about changing back display picture shape to old one into account. For such a popular used app, surely you could just accept it instead of deleting?