The (Sucked) Adventure of Bikin e-KTP

Isra Mi’raj tahun ini bisa dikatakan berbeda daripada yang sebelum-sebelumnya, karena biasanya di isi dengan molor seharian memanfaatkan momen tanggal merah.😛 Ternyata justru di hari ini aku merasakan pengalaman yang bakal jadi salah satu yang cukup ngenes untuk diinget. Tjiahh… Gayanya hahaha. Well, ceritanya di Balai Desa lagi diadain pembuatan e-KTP gratis selama 3 hari. Kemarin bapak dan emak udah ke sana duluan untuk buat e-KTP, jadi sekarang giliranku untuk hari ini. Ya ngepas toh, mumpung dapet libur sehari. So jam 9 pagi capcus dah barengan sama sepupu yang kebetulan juga berencana bikin e-KTP juga untuk ngelamar kerja (baru lulusan kemarin nih). Berbekal copy Kartu Keluarga masing-masing, kami berdua berangkat menuju Balai Desa yang saat itu sudah ramai dengan antrian para penduduk di level senior. Ckck, sampe minder sendiri begitu nyampe di sana soalnya yang dateng serombongan ibu dan bapak dengan anak-anaknya yang digendong atau juga yang ikut membuat e-KTP. Awalnya mau nunggu di luar aja pas ngeliat antrian yang ramai itu, tapi pas duduk di dalam ruangan Balai, kok ya semakin ramai sehingga akhirnya langsung aja kukumpulin KK punyaku dan si sepupu ke panitia. Nah, bagian sini nih… Nyelenehnya prosesi pembuatan e-KTP.

Jadi kemarin, ternyata ada masalah sama data KK kepunyaanku sehingga data Emak ga muncul di komputer. Bapak jadi foto, ambil sidik jari dan retina mata, sementara Emak ga bisa menjalankan proses pembuatan. KK tersebut kemudian di kasih memo DATA HILANG di bagian atas, dan staff minta bapak untuk membawa kembali KK tersebut untuk di rekap. Berdasarkan cerita bapak sih, dataku udah diperiksa dan valid, jadi seharusnya tadi itu tinggal ngejalanin aja proses foto dan segala macemnya. Waktu kukasih ke staff tersebut, kujelaskan kalo ada data yang hilang di KK kepunyaanku, tapi yang hilang bukan dataku melainkan data Emak. Entah mungkin ga mudeng maksudku ato gimana, KK tersebut di pisah dari tumpukkan yang lain dan di masukkan ke dalam laci. Bilangnya sih, “Ooh.. Ini sih di rekap dulu.” Lha kok, gitu? Dengan bingung kutimpal, “Mbak, yang hilang data ibu saya bukannya saya.” Jawabannya? Cuma anggukan kecil terus, “Iya, tapi ini musti di rekap dulu.” Sementara KK-nya ga di keluarin dari laci. Disitu aku udah mulai was-was, jangan-jangan bakal ada masalah dan proses jadi ga lancar. Anndd, sesuai dugaan yhaa… There’s a problem. Setelah 2 jam lebih nunggu, nama paman (bapak si sepupu) di panggil, dan 20 menit kemudian sepupu keluar dari ruangan dengan KK di tangan dan senyum lega. Nama bapakku ga dipanggil padahal aku ngumpulin KK-ku barengan dengan punya sepupu. Jelas donk aku ga termasuk dalam daftar orang-orang yang akan melakukan proses pembuatan e-KTP. Sendirian aku masuk dan nanyain para staff serta kembali menjelaskan bahwa data yang hilang bukan dataku tapi data Emak, sekaligus ngasih tahu mereka kalo kemarin dataku udah diperiksa dan jelas valid. Anehnya jawaban salah satu staff, KK-ku ga bisa ditemukan dan kalo pemeriksaan kemarin udah ga berlaku lagi hari ini. Ya ampun, ga kebayang deh jengkelnya aku waktu dapet jawaban semacam itu dari si staff. Kekeuh ku jelaskan kalo dataku udah diperiksa kemarin dan yang hilang adalah data Emak, tapi staff tersebut malah balik pasang muka jengkel dan nyuruh aku sendiri yang nyari KK-ku. Di keluarkanlah dari laci setumpukan KK yang berlabel DATA HILANG dengan keadaan berantakan. Beuh…

Nyabarin diri, kusortir kumpulan KK berlabel DATA HILANG pake kecepatan super (beneran cepet kok) dan (obviouly) ketemulah tuh KK. Kukasih ke staff tersebut, nyebutin nama, terus tumpukan KK yang lain masih sempet kurapiin walaupun dalam hati berasa dongkol karena harus bela-belain nyari sendiri KK-ku. Walah, ga taunya masih tetep aja namaku ga dipanggil hingga waktu menunjukkan waktu dzuhur. Karena ga enak sama sepupu yang nemenin, kusuruh aja dia pulang duluan sementara aku tetep di Balai Desa. Sambil nungguin break selesai aku makan lontong sayur di depan BD. Hehe maksudnya hemad gituh.. Ga taunya Bapakku dateng dan ‘menyelamatkan’ daku dengan ngomong langsung ke lurah dan staff soal Data Hilang dan pembuatan e-KTP-ku. Long story short, I think you can imagine the rest. Foto, sidik jari, tanda tangan dan mata, daku pun ngibrit dengan merdeka ke rumah, kira-kira pukul 2 siang. Jyahahaha selesailah adventure 5 jam bikin e-KTP.😆

Kesimpulannya untuk cerita di atas ini sebenarnya ga ada (menurutku) selain urut dada ngeliat prosesnya yang ribetnya minta ampun dan sempet miskomunikasi juga. Susah sih ya memutuskan mana yang bener dan yang salah untuk kasus ini, tapi harapanku untuk selanjutnya ga bakal lagi kejadian kayak gini. Soalnya kalo setiap pembuatan e-KTP gratis harus melalui hal semacam ini, ehmm… Kayaknya ga siap deh aku bikin sekuel adventure bikin e-KTP. No thank you deh, masih sayang energi dan waktu masbro. Hopely that won’t be happen again. Amienn… #PrayForE-KTP

3 thoughts on “The (Sucked) Adventure of Bikin e-KTP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s