Jurnal Tentang Perubahan : Isi Tas

Keseharian dan Kebiasaan Yang Mempengaruhi Isi Tas..


Sebenarnya, sadar dengan isi tas yang menumpuk itu adalah hal yang biasa terjadi. Pas jaman sekolah dulu, tentu yang dibawa ya seputar buku dan alat tulis. Begitu masuk kuliah, bertambah jadi sedikit-sedikit harus bawa charger handphone dan earphone, atau laptop, atau USB drive berbagai ukuran besar daya penyimpanan. Lebih heboh lagi waktu masih bekerja di mall, segala perintilan makeup jadi satu dalam pouch lalu masuk ke dalam tas berikut dengan tissue pack, minyak kayu putih atau freshcare, parfum, kacamata, vitamin rambut, case lensa kontak, dompet dan tidak lupa handphone. Saking lengkapnya seisi tas selama kerja disana dulu, begitu kena musibah kejambretan ya hilang segala barang-barang penting. Tapi ya begitulah…. Live must go on kan?

Ketika Musibah Dan Pengalaman Membuat Kita Mulai berpikir..

Setelahnya, kejadian yang untungnya sampai saat ini cuma sekali terjadi (dan amit-amit jangan sampai kejadian lagi) bikin aku mikir lagi tentang apa yang sebenarnya harus dibawa ke dalam tas saat bepergian. Awalnya sih karena masih kebawa rasa paranoid, kemana-mana hampir nggak pernah bawa dompet atau pouch makeup. Uang juga cuma seperlunya aja, dan kadang smartphone ditinggal di kosan. Tapi yah, namanya juga cewek. Mana betah kalau isi tasnya nggak lengkap. Akhirnya kembali lagi deh miss bedak plus lipstik, miss kacamata ala kekinian, dan dompet yang gemuk diisi uang cash. Mikir sih mikir, penting banget harus dibawa? Tapi dasarnya sudah kebiasaan, tuman, kalau kata orang, akhirnya nyemplung dah isi barang-barang yang sama seperti  sebelumnya ke dalam tas. Yang katanya trauma jadi kembali lagi beraksi.

Kemudian, aku mencoba kerja di pasar lokal daerahku. Dapat kerjaan di toko grosir pakaian, yang punya kebetulan baik banget memperbolehkan aku tinggal di rumahnya. Selama 1,5 bulan bekerja disitu, ada 10 hal yang wajib aku bawa : Handphone, bedak, lipstik, pensil alis, sisir, kaca, lotion, parfum, dan mukena. Terakhir tinggal uang yang cuma sebagai pelengkap, karena makan minum sudah ditanggung bos. Di luar dari 10 barang itu, aku hampir nggak pernah bawa hal lain lagi. Anehnya justru nggak ada masalah, nggak merasa ada yang kurang. Dibanding dulu yang mungkin kerasa aneh kalau makeup nggak dibawa satu pouch lengkap, atau handphone tanpa earphone, vitamin rambut supaya rambut nggak berantakan kalau keluar rumah, dan bahkan tissue pack bisa beranak jadi dua atau tiga di dalam tas.

Awalnya aku nggak merasa hal ini penting dan cuma mencoba untuk go with the flow aja. Toh, kebiasaan kan ga bisa diubah dalam sekali atau dua kali tindakan. Kalau semisal aku dapet kerjaan di Retail lagi atau jenis kerjaan lain yang bakal harus bawa makeup lengkap, bisa jadi isi tasku bertumpuk seperti sebelumnya. Karena itu, belakangan ini aku berusaha banget untuk strict dengan kebiasaan baruku yang sekarang; menyederhanakan isi tas.

Kenapa Harus memilih dan Memilah Isi Tas Agar Sederhana?

Kalau ditanya kenapa, yaa jawabannya jelas. Karena seharusnya kita cuma bawa yang perlu aja kan? Kalau dipikir lagi, memang dari dulu juga sebenarnya makeup lengkap cuma diperlukan selama jam kerja. Selebihnya ya bebas, nggak perlu harus pakai makeup segitu full di luar jam kerja. Hanya aja, kebiasaan dan gaya hidup membuat segala sesuatu harus ada dan tersedia sehingga sulit memilah mana barang yang lebih penting untuk dibawa. Kenyataannya, isi tas jadi nggak pernah selaras dengan kebutuhan asli. Misalnya aja, sudah pakai softlens demi fashion masih juga bawa kacamata. Atau Lipstik yang rasanyarasanya nggak afdol kalau cuma punya 1 warna. Padahal, Isi tas sudah segitu seabreknya pun tetep harus pakai dompet yang modelnya besar biar macam orang berduit. Nah, jadi malu sendiri kalau ingat aku yang waktu itu.

Itulah kenapa aku rasa mengevaluasi dan menyederhanakan isi tas sendiri merupakan hal yang penting, supaya kita bisa menekan perilaku konsumtif dan bersikap lebih efisien. Sedikit – sedikit aja sih, pelan – pelan mulai mengeluarkan barang yang ga perlu dari dalam tas. Pilihan tas yang aku pake pun sekarang jauh lebih kecil dari yang selama ini biasa aku pake, biar lebih compact dan ga ribet. Jadi, sekarang ini list barang yang aku biasa bawa di dalam tas;

1. Bedak, lipstik, kaca.
Well, rasanya hampir mustahil kalau 3 benda ini nggak jadi benda wajib yang mesti di bawa. Tapi setidaknya aku bisa tahan untuk nggak bawa mascara, eyeliner dan pensil alis. Selain karena mascara dan eyeliner sudah jarang di pakai, pensil alis juga dirasa cukup kok dipakai sekali pas sebelum berangkat. Bedak dan lipstik juga aslinya dibawa buat jaga-jaga aja, siapa tahu makeup luntur kena keringat.

2. Tissue pack
Karena aku gampang keringetan dan kena flu. Ini benda wajib yang kayaknya susah lepas dari tas.

3. Kacamata
Walaupun nggak minus, mataku gampang berair kalau kena debu dan angin kencang. Jadi gunanya kacamata sih sebenarnya sebagai pengganti helm.

4. Card holder
Isinya E-KTP dan uang seperlunya. Fungsinya sebagai pengganti dompet aja sih, biar ga makan tempat dan mengurangi kebiasaan membawa uang lebih.

5. Lotion dan parfum
As always, supaya tetap wangi dan bersih aja. Terutama untuk kulit tangan. Kalau kaki, aku biasa pakai kaus kaki sekarang. Biar nggak belang kena sinar matahari kalau keluar rumah.

6. Handphone dan earphone (Di foto nggak ke-capture karena lupa)

List barang-barang di atas alhamdulillah bisa muat ke dalam satu tas kecil dan semuanya kepake sesuai kebutuhan. Kadang aku mencoba untuk nggak membawa kacamata dan earphone, biar ga merasa butuh banget. Intinya cukup menyesuaikan jumlah barang yang kita bawa dengan apa yang mungkin dibutuhkan selama keluar rumah, jadi bisa membiasakan diri untuk hidup lebih efisien dan minimalis. Aku belajar dari beberapa kali melihat video di youtube tentang minimalism life dimana dengan mensortir kepemilikan barang sesuai kebutuhan sebenarnya lebih menyenangkan dan melegakan ketimbang kebiasaan shopping atau mengoleksi barang untuk melepas stres. Lebih sedikit barang yang kita punya justru bikin hidup lebih tenang, karena kebanyakan orang membeli sesuatu lebih karena laper mata, kebiasaan, atau demi gengsi pribadi yang nggak diperlukan. Padahal setelah dibeli juga belum tentu dipakai terus, atau bahkan malah nggak dipakai sama sekali.

Meninggalkan Ketakutan Akan, “Aduh, Aku Nggak Bisa Kalau Nggak Bawa..”

Guys, memang terkadang hal sepele semacam isi tas sering luput dari pandangan. Orang kebanyakan berpikir, “Lah, kalo nggak ada, pasti susah.” Padahal dunia juga nggak bakal kiamat di tempat cuma gara-gara nggak bawa satu atau dua benda. Pernah kok sekali dua kali aku lupa bawa handphone, dan hidup ini baik-baik saja. Kalaupun ada yang menghubungi, paling tinggal dikasih tahu aja “Maaf, tadi lupa bawa hp,” And that’s it. Nggak pernah tuh sampai ada masalah berarti. Menurutku ini bisa jadi year’s goal yang bagus untuk mengubah perilaku diri sendiri yang terbiasa hidup “harus ada”, toh nggak ada salahnya untuk lebih praktis sama isi tas. Tertarik untuk nyoba?

Esenses akhirnya Official

Waterproof volume mascara dari Esenses kebetulan jadi salah satu produk wajib yang aku pakai sejak awal kerja sebagai SPG. Alhamdulillah banget selama kerja dapet ilmu permakeupan yang mumpuni dari teman kerja dan para senior, jadi ga bego-bego banget kaan kalo mau kondangan atau acara formal mesti gimana biar syantik. Eh eh pas lagi iseng buka youtube, si Esenses besutan PT Aulia Cosmetics Indonesia ini sempet di review sama salah satu beauty vlogger yang lumayan nyentrik karena si doi nih lanang cuy (FYI aku ga tau orientasinya apa yaa tapi kan dia beauty enthusiast so it’s safe to say dia tuh pretty boy). Awalnya aku ga yakin brand Esenses yang direview itu sama dengan yang udah aku pakai dari 4 tahunan yang lalu, apalagi produknya lumayan banyak dari cushion, eyeliner, sampai lipcream. Tapi begitu si mascara dewanya muncul, ohemji aku terpukau. Hebat sekali kamuh Esenses, sekarang kamuh sudah official. Aku ketinggalan berita lho yaa… Tapi pokoknya congrats. Lempar bunga deh buatmu.

Kalo mau ngomongin perkembangan Essenses, aku akuin doski cukup menjanjikan dengan ngasih brand image yang kekinian banget. Agaknya semangat juga produsennya ngikutin trend pasar kosmetik yang lagi perhatian soal kemasan. Dulu packaging mascaranya ga coklat doff dengan label gitu kayak sekarang ini, tapi lebih ke hitam glossy dengan corak seperti batik berwarna fuschia. Setahu aku namanya juga dulu bukan Esenses, tapi Evany Senses. Jadi kalo nyari mascara di pasar atau toko kosmetik sering juga bilangnya “Mascara Evany”. Sebenarnya aku suka tampilan yang lama karena warnanya hitam, tapi yang sekarang jadi keren banget sumpah kayak elegan banget. Kotak kemasannya juga ga ada gambar popart cewek amrik gitu, tapi lebih ke warna pink pucat dengan label warna hitam. Entah ya kalo sekarang, tapi dulu mascara Essenses tersedia ga cuma warna hitam, tapi ada warna birunya. Sayangnya karena warnanya kurang keluar dan mascara warna biru kurang populer jadi jarang ada yang nyari.

Kemasan lama Esenses, dulu namanya masih Evany Senses (taken from Google).

Kemasan Esenses yang baru dan unyu-unyu (taken from Google).

Untuk kemampuan mascaranya sendiri, aku setuju banget sama review si beauty vlogger kalo essenses ga ngasih volume yang wah dibanding mascara yang lain. Malahan jatohnya lebih ke manjangin daripada bikin tebel, dan harus di apply berulang kali kalo emang ngebet kepingin bulu mata badai. Bentuk brushnya lebih lurus sebenarnya, jadi kalo udah terbiasa dengan bentuk brush mascara yang melengkung mungkin agak ngerasa susah saat pengaplikasian. Kalo membandingkan dengan QL mascara yang akhir-akhir ini sering aku pake, Essenses lebih lama keringnya apalagi kalo di aplikasiin agak banyak. Makanya dulu aku ga begitu sering menggunakan mascara karena males kalo harus ngebersihin bekasnya yang belepotan di bawah mata, apalagi kalo buru-buru. Essenses tuh memang jenis mascara yang bakal smudge parah banget kalo accidentially nempel di muka. So kalo ada yang mau coba, mendingan hati-hati supaya ga belepotan kemana-mana.

Selain itu, mungkin banyak yang kurang suka sama efek spidery alias bentuk bulu mata yang jadi mirip kaki laba-laba kalo di apply berulang kali. Mungkin itu akibat kemampuannya yang bisa manjangin bulu mata kali’ ya. Ngebersihin mascaranya pun mesti hati-hati karena meskipun termasuk gampang dibersihin (tanpa remover juga bisa), kalo kena air tau-tau bisa jadi ngenggumpal dan berjatuhan ke muka. Itu pengalaman yang paling sering aku alamin kalo pake mascara Esenses dalam jumlah yang banyak terus abisnya mesti wudhu buat sholat. Makanya kalo lagi ga berhalangan, aku cuma pake seperlunya aja dan baru all out kalo lagi masuk masa menstruasi. Huehehehe… (Kalian bisa perhatiin dari insta-story yang aku ambil, bulu mataku jadi lebih panjang tapi jatohnya keliatan “spidery” dan ada smudge di bawah mata. Karena posisinya juga udah panas banget dan aku udah males buat bersihin muka, ya udah aku biarin aja sampe sore biar sekalian dibersihin waktu mandi).

Aku udah jadi langganan Mascara Esenses dari jamannya masih seharga 15ribuan sampai sekarang mencapai angka Rp 20,000an. Kalo kalian kepingin beli langsung dari penyalur aslinya, sekarang PT Aulia Cosmetics Indonesia sudah membuka official store di Shopee dan Lazada. Harga yang dibandrol di Lazada sih Rp 17.000,- tapi biasanya di Shopee lebih murah. Sumpah aku penasaran banget kepingin nyoba Eyeliner sama Cushionnya karena eyeliner adalah benda favoritku dan dalam bermakeup sementara harga cushionnya termasuk jajaran cushion termurah. Iihhh terus yah pas kemarin aku mampir ke ofc-store Lazadanya, ternyata doski jual micellar water juga. Waooo jadi kepoh abis kepingin nyoba, sayangnya belum ada fitur COD untuk yang Lazada. Kalo di Shopee gimana ya? Ada yang udah beli?

(Update : Aku udah nyoba nyari review mengenai Esenses di Youtube dan ternyata udah ada beberapa youtuber yang bikin one brand tutorial untuk brand ini. Aduh aku emang telat banget kali ya hehehe… Salah satunya bisa kalian tonton di bawah ini.)

Nyobain Micellar Water Dari Ovale

Aduduuhhh… Setelah ngalamin debat hati apakah harus ngereview ni produk, secara kalo lagi-lagi nulis tentang kosmetik dan skincare rasanya masih awam banget soal ginian. Berasa ga pede gimana gituh.. tapi daque ga tahan syekali mantemans kalo lagi banyak ide ngeblog kayak gini. Yagapapalahyah biar ga nganggur-nganggur amat heheheheee… 😋 Lagian aku emang kepingin ngereview juga kesanku setelah pake micellar water, perasaan kok ni aer viral amat yak di kalangan MUA dan beauty blogger? Berdasarkan penjabaran dari blog tetangga, micellar water adalah pembersih wajah berbahan dasar air dengan teknologi micelle , kandungan di dalamnya membantu membersihkan wajah dengan cepat, juga mencerahkan wajah. Jadi ntar pigmentasi asli wajah kita kembali seperti semula, trus bisa glowing naturally. Kalo mau yang putih instant jangan ngarep dapet dari sini yah, emang ketok mejik kali’ yaa hahahaha 😂.

Mohon abaikan backgroundnya 😂

Anyway, di postingan sebelumnya yang nyebutin list produk sehabis shopping di toko kosmetik langganan dan di Alfamart, aku nulis kalo Ovale micellar water punya formula yang lebih menyenangkan ketimbang Ovale Facial Lotion karena ga bikin ngeringis gegara perih di kulit. Ovale facial lotion sendiri emang udah jadi pembersih muka paling pertama yang aku coba sejaman SMP karena waktu itu sok ikut-ikut mamak ngebiasain skincare routine tiap malem. Itu tuh lagi masa-masanya Ovale ngetren banget sampe Mamak rada obsessed gegara efeknya emang bikin muka kinclong kayak pantat panci yang masih baru. Tapi perihnya kagak nahan bokkk untuk ukuran anak SMP kayak aku. Makenya juga cuma sebentar sih, kayaknya hitungan beberapa bulan gitu dan akhirnya pindah ke Ponds cleanser yang ada minyaknya itu loh (biasanya kalo belom dikocok kan minyaknya ada di atas air cleanser dan ada varian pink sama hijau). So I kinda have a love and hate relationship with Ovale, dan hampir ngira micellar waternya bakal ngasih efek yang sama. Cuman waktu mau belinya juga ga ada niatan sama sekali sih, wong tadinya mau nyari Sari Ayu 3 in 1 cleanser. Untungnya walaupun ga sengaja beli, it turns out well somehow karena sampe sekarang aku ga punya permasalahan berarti setelah pake produk ini. Not that special, but not that bad lah.

Penjelasan dan ingredients.

Ovale micellar water punya 2 varian hijau dan pink, tapi aku dapetnya yang pink karena yang dijual cuma itu doank 😁. Setahu aku kalo yang warna hijau itu khusus buat yang berjerawat, sementara kulit aku bertipe normal cenderung berminyak. Seperti pembersih muka dengan brightening effect pada umumnya, sehabis bersihin makeup muka berasa kinclong abezz. Ga bikin muka kaku kayak kanebo kering juga sih, jauh lebih ringan dibanding after using Ovale facial lotion. Tapi karena aku udah jarang banget makeupan dan lebih sering pake Viva Air Mawar jadi ga tau juga tuh ngaruh apa kagak efek brighteningnya. Micellar water ini juga mengandung ekstrak magnolia dan kalo kalian ga familiar dengan nama bunga ini, FYI ‘Magnolia’ itu nama lain dari ‘cempaka’ (baru tau juga aku). Menurut para penelitian yang dilakukan oleh peneliti jepang menemukan bahwa magnolia mengandung zat kimia yang dinamakan dengan “Honokiol” serta “magnolol”. Aplikasi efek magnolol dan honokiol dapat berkhasiat 1000 kali lebih besar dibanding Vitamin E sebagai antioksidan. Selain itu manfaat lainnya adalah dapat digunakan sebagai obat antiinflamasi, antibakteri, anti tumor.

Pic taken from Google

Seperti yang bisa kalian liat di foto, untuk ngebersihin makeupku yang cuma pake Wardah BB cream sama Purbasari Loose powder aku perlu 3 kapas bolak-balik dan pas dilanjut pake Viva air mawar juga masih ada sisa makeup yang keangkat. Jadi kemampuannya menurut aku ga istimewa banget. Palingan lebih cepet bersih aja ketimbang waktu pake Sari Ayu 3 in 1 cleanser, sekali usep bisa ngangkat cukup banyak kotoran. Mungkin kalo untuk makeup yang lebih berat dan full ini itu bisa ngabisin sekitar 4-5 kapas bolak-balik.

Bagian yg mengkilat itu adalah kondisi setelah sekali usap dengan Ovale Micellar Water

Ada salah satu review dari beauty vlogger yang nyebutin kalo Ovale Micellar Water ini pas di tuang ke kapas tuh berasa terlalu basah, tapi aku sih ga terlalu peduli sama hal gituan karena hal yang sama juga terjadi kalo aku lagi pake toner air mawar Viva. Untungnya micellar water yang satu ini ga punya bau yang terlalu menyengat, again not like its sister si Ovale Facial lotion. Pokoknya aku cukup apresiatif sama Ovale yang akhirnya mengeluarkan produk micellar water karena dulu saking takutnya sama Ovale aku kayak kesel gitu setiap liat ni produk dipajang di etalase. Review-review para blog tetangga bilangnya itu ‘sensasi rasa menthol yang seger’. Oh-em-ji kalo itu dibilang seger aku harus gimanah kakakkk??? 😂 Harganya masih terbilang mahal untuk ukuran pembersih muka, tapi affordable lah kalo di bandingin sama harga makeup remover yang dapetnya dikiiiitt banget dengan harga yang sama atau bahkan lebih mahal. Apalagi makeup remover kan ada minyaknya dan aku lumayan males mau nyoba lagi produk yang banyak mengandung minyak.

Yang aku suka dari Ovale Brightening micellar cleansing water;
1. Formulanya lebih bersahabat kalo dibandingin sama pendahulunya, Ovale Facial Lotion.
2. Ga berbau menyengat, lumayan cepet ngangkat kotoran tapi masih butuh sekitar 3-4 kapas. Cuman lebih enak dibanding pembersih yang biasa aku pake (Sari Ayu 3 in 1 cleanser)
3. Termasuk gampang dicari karena bisa didapat di drugstore (aku dapetnya di Alfamart)
4. Karena hypoallergenic dan dermatologically-tested, jadi aman dipake ke daerah yang sensitif kayak bagian mata dan bibir. Dan pas aku apply juga ga bikin mata perih sih, jadi cukup terbukti klaimnya.

Yang ga aku suka;
1. Mungkin untuk jajaran micellar water yang sama, Ovale micellar water ini ngasih harga yang relatif murah (Rp 32.000,- untuk 200 ML jadi masih terjangkau lah). Tapi kalo buat aku masih mahal karena udah terbiasa pake Sari Ayu 3 in 1 cleanser yang selisih harganya 10-12rban. Trus, sekarang udah jarang juga kan makeupan jadi terbilang mubadzir kalo mau beli pembersih muka seharga segitu.
2. Kemampuannya ga istimewa-istimewa banget jadi belum tersugesti buat repurchase. Masih cukup standard sebagai pembersih muka.

Bandrolannya mungkin beda-beda tergantung dari tempat doi di beli dan sampe sekarang masih lumayan penuh soalnya jarang dipake. Bolehlah yaa sebagai micellar water pertama ga bikin aku kapok nyoba micellar water lagi. Tapi mungkin lain waktu aku bakal coba dari brand lainnya supaya bisa ngasih review yang lebih akurat mengenai produk ini. Doain aja dapet duit segepok yee wkwkwk 😂.

Loose Powder Perdana, Purbasari Daily Series Loose Powder

Pas mesen ni produk sebenarnya ga ngarep apa-apa sih, secara aku juga jarang banget gonta-ganti bedak. Biasanya mentok-mentok ke Two Way Cake lagi dan itupun dari Wardah. Masalahnya, gegara dicengokin seorang ibu tak dikenal waktu mampir ke Alfamart tempo hari, aku ngerasa mungkin sebaiknya sedikit ngerubah tampilan makeup menjadi ke arah yang natural. Padahal waktu itu setahuku pakenya cuma bedak, lipstik sama alis doank. Mascara aja tipis binggo kayak ga pake sama sekali 😌, Tapi diliatinnya beeeuuuhh kayak ada penganten lewat.. sampe diputer tuh badan. Tadinya mau beli Wardah loose powder aja, tapi karena Purbasari Daily Series Loose Powder ini di jual sama seller yang ngejual My Darling Eyeliner juga, ya udah mendingan sekalian aja itung-itung jadi pengalaman. Aku juga beli QL mascara bareng sama Purbasari dan My Darlingnya, totalnya Rp 101.800,- (udah sama ongkirnya Rp 15.300,-).

Dengan bandrolan harga Rp 26.000,- aku dapet 30 mg loose powder no. 01 (Natural). Aku ga tau sama sekali lho kalo kemasannya gede, toh juga selama ini ga pernah punya dan pake loose powder jadi rada sumringah gitu begitu terima paketnya dari kurir Lazada. Muwehehehe… Biasanya beli bedak udah abis gobanan aja tapi ini harganya 1/2 dari Wardah Exclusive TWC, gimana ga hepi coba?

Pas dibuka, wangi bedaknya bikin keinget sama Viva (iya ga sih? Atau aku aja yang ngerasa mirip?). Bau-bau produk lokal gitu lah pokoknya, susah dijelaskan hahaha.. pas aku coba dabbing sedikit di tangan ya so so aja sih, tapi belum expect apa-apa soalnya warna kulit punggung tangan sama muka kan kayak langit dan bumi lohh alias yaa ga bisa disamain.

(kiri) sebelum, (Kanan) sesudah.

Seperti yang bisa diliat di foto, permukaan punggung tangan aku emang buanyak luka sana-sini akibat nyamuk 😂. Coveragenya biasa aja tuh, tapi lumayan lah buat menyamarkan bentuk-bentuk ga karuan dari bekas gigitan nyamuk yang ga banget itu. Jadi kalo pas muka lagi bopeng-bopeng seenggaknya masih lumayan cantique walaupun ga semua bisa tertutupi kan yah..

Eh.. tapi tapi tapiii aneh banget nih waktu aku aplikasiin ke muka, kok jadi berasa ada warna pinknya yak? Mata aku doank yang liat ato gimana sih? Ini padahal aku aplikasiinnya tipis kayak cuma ditepuk manjah gitu tapi warnanya berasa keputihan syekali sodarrrahh… 🤦🤦 Aku sampe takut aja loh beneran salah shade ato gimana gitu coz kan sayang yah beli onlen terus kebuang sia-sia. Apalagi karena udah kebiasaan sama two way cake dan BB powdernya Wardah yang full coverage, bawaannya masih gemes liat bekas-bekas jerawat yang masih keliatan semua. Namanya juga loose powder jadi ga bisa diharapkan kalo mau yang bener-bener nutup sempurna. Haishhh mana juga pakenya bukan buat pergi keluar jadi rada ga pede gini bokk… 🤦🤦🤦

Ini aku pakenya tanpa pelembab ataupun alas bedak jadi beneran ketahuan perbedaan antara kulit asli aku dengan hasil aplikasi powdernya. Soalnya waktu itu aku lagi jaga warung dan kebetulan cahaya matahari lagi bagus banget buat ambil foto yang jelas. Tadinya aku mau langsung hapus aja, tapi karena masih penasaran sama ketahanannya aku coba diemin sekitar 1 jam buat testing siapa tau warnanya jadi lebih nyatu sama kulit. Alhmadulillah loose powdernya lama-lama ngeset juga sama skintone aku. Berati ada kemungkinan bakalan oksidasi.

(Kiri) Saat pertama kali di aplikasikan, (Kanan) Setelah 1 jam

Ya ya ya mohon dimaafkan kalo ga pake lipstik yah. Tadinya aku mau beli liptint juga sekalian sama yang lain, tapi 3 barangnya udah diitung 1 Kg sama Lazada jadi kalo mau nambah itungannya jadi 2 Kg. Wadohhh rugi donk adek kalo mesti bayar ongkir 2 kilo buat 4 biji printilan doank. Selain itu aku juga males mau make lipstik karena bibir aku lagi kering kayak padang pasir. Jadi gapapalah sekali-kali liat diriqu yang aslinya tanpa beban apa adanya hihihi.. (perasaan dari tadi nulisnya banyakan haha hihi mulu yak gw??)

Yang aku suka dari Purbasari Daily Series Loose Powder;
1. Ga seberat pake TWC/BBpowder, jadi bawaannya ga panas-panas amat. Secara TWC/BBpowder kan nutup pori-pori sementara aku tuh orangnya gampang keringetan. Kesannya muka jadi lebih breathable.
2. Walaupun tekstur muka seperti pori-pori besar dan bekas jerawat cuma keliatan ngeblur dikit, tapi bagian muka yang ga ada masalah jadi keliatan smooth banget. Beneran ini mah. Terus biasanya kalo pake TWC/BBpowder udah biasa liat muka berminyak terutama di daerah pipi dan dahi, tapi kali ini mah ga parah-parah amat. Waewww kayak matte gitulah muka eikeh.
3. Aku make loose powdernya tanpa pelembab dan fondation. Ga geser, ga ilang-ilangan, ga berubah jadi bersisik karena berminyak. Kaget ih kaget.
4. Alhamdulillah sekali bisa lumayan nyatu sama warna kulit aku walaupun harus nunggu dulu lah beberapa saat.
5. Murah. Udah pokoknya murah. Fix ini mah.

Terus yang ga aku suka;
1. Gede banget kemasannya. Isinya emang banyak sih and I really appreciate that, tapi karena udah biasa sama TWC/BBpowder yang tipis kecil jadi berasa ribet. Apalagi powder harus di tuang dulu dari tempatnya dan berasa mubazdir kalo masih ada sisa. Aku pernah liat kemasan BLP loose powder yang dikasih sekat semacam kain kassa, jadi kalo mau ngeluarin powdernya tinggal di tekan aja. Kalo Purbasari bikin kemasan yang kayak gitu juga mungkin aku bakal pikirin lagi buat repurchase.
2. Baunya agak aneh, walaupun ga sengeselin itu tapi sedikit ngeganggu aja. Ya itu sih di aku yah, ga tau kalo orang lain.
3. Seharusnya biar lebih aman, kalo box loose powdernya ga dikasih plastik pembungkus minimal kemasan powdernya yang diseal. Jadi yang beli juga masih percaya kalo barangnya bener-bener perawan. Untungnya lubang sekatnya di kasih seal jadi produk yang aku beli itu masih beneran baru. Cuma yah.. bikin aku skeptis aja jadinya.
4. Ini kemasannya akrilik gitu kan yah? Takut pecah kalo jatoh.

Kesimpulannya, sebagai loose powder perdana yang aku punya yaa lumayan lah buat makeup harian. Sekarang aku lagi bener-bener kepingin ngurangin pemakaian makeup yang terlalu medhok jadi sebagai starter oke-oke aja sih. Perkara bakal repurchase atau ga, hmmm… Mesti mikir-mikir lagi karena ini baru percobaan pertama. Aku mau coba ke rencana awal yang kepingin beli Wardah loose powder, tapi kalo ga jadi mungkin aku bakal beli Purbasari tapi yang kuning langsat biar bisa liat mana yang lebih bagus di muka aku.

P. S. (15/12/18) : Setelah bikin post ini, aku akhirnya iseng cari review dari blog tetangga supaya bisa tau shade mana yang cocok kalo nanti mau repurchase. Beberapa dari yang aku baca bilang shade ‘Natural’ ini emang ada pink undertone-nya, jadi yang aku bilang mukaku berasa warna pink ternyata ga salah. Mata aku masih bener ternyata 😂. Sayangnya sedikit banget blog yang ngereview shade ‘Sawo matang’ dan dari yang aku liat shade ‘Kuning Langsat’ juga kuning banget. Udah gitu, ada yang bilang shade ‘Sawo Matang’ juga bikin muka jadi abu-abu. Waohhhh susah syekali nyari yang cocok. Mungkin ada yang bisa kasih pencerahan?

Btw, ini hasilnya kalo pake Wardah Everyday BB cream dan di dalam ruangan. BB creamnya juga honestly bikin abu-abu di muka, jadi jarang banget aku pake. Malahan sebenarnya aku hampir ga pernah sama sekali pake foudation kecuali kalo ada acara penting, sekedar buat nambah coverage aja. Anyway, masih pink banget kan?

The Palace of Illusions, A Draupadi story

Image taken from : Here

“Through the long, lonely years of my childhood, when my father’s palace seemed to tighten its grip around me until I couldn’t breathe, I would go to my nurse and ask for a story. And though she knew many wondrous and edifying tales, the one I made her tell me over and over was the story of my birth. I think I liked it so much because it made me feel special, and in those days there was little else in my life that did.”

– From First Chapter “Fire” –

I’ve always been a big fan of Mahabharat’s story since its Indian adapted soap opera was aired in my elementary school days, so this novel of course would really interest me much when I first spotted it on Google (I didn’t remember the exact point where I found the title actually, but I guess it’s when I randomly searched for new novel for reading). Published on 1st January of 2008, it tells Draupadi’s point view about all events in her life, from her extraordinary birth to the worst moment of her life such as the legendary Swayamwara which made her a wife of 5 Pandu’s children and Pandavas’ lose of gamble game. What I really like about this novel is, that I’d never imagine that Draupadi who’s always been phrased as one of the only love for Arjuna could have a twisted plot as someone who loves another man while being a wife of Pandavas. And to the top of that, Chitra had chosen a phenomenal character like Karna of all people, who I’d never give much respect for.

In this novel also, I begin to see Draupadi not as a woman who’s praised by history for all her good qualities, but as someone human enough to have desires she can’t fulfill even when all people rely on her wisdom and kindness. The way its writer tells the story almost makes me feel like Draupadi was a modern-born woman, in contrast with actual description about her from the original story. Pretty unique in its own way. Especially in the first chapter, Draupadi tells how she took advantage of her unique appearance (having a black skin almost to the point of blue) and charms everyone with her beauty. In Indonesia something like this would be rarely seen since our standard of beauty is still all about white skin. But in this novel, you’ll realize that even the Holy being such as Krishna Dev is loved by all his thousand wives not because he’s strikingly white as milk. After all, He’s named after the colour of his skin, right?

Few days ago when I started writing this post draft my brother (who’s a big fan of Game of Thrones) talked about one character from this serial who seems so Modern-like with her feminist act while the series itself set in medieval age where women didn’t act like that. I failed to tell him the similarity because my brother isn’t interested in Hindu mythology, but telling him instead that it’s something people will always add when they make some stories. I myself don’t actually agree with that kind of ideology though my personality seem to lean that way. I just don’t understand the way women seem too eager to express themselves, it only looks like to me that they are too independent and not accepting men’s role as the leader. Well, it’s only my thought so it’s to all of you to accept feminicity or not. 😊

Sebagai orang yang udah berkali-kali nonton cerita Mahabarata dari adaptasi paling jadul sampai ke yang paling modern tahun 2015an lalu, aku termasuk hafal sama seperangkat kisah klasik ini baik alur maupun para tokoh yang ada di dalamnya. Menurut aku sih penulisnya kepingin menghadirkan sosok Drupadi seperti seorang yang berpikiran kritis dan modern di tengah kehidupan para wanita tradisional di masanya. Cumaaa entah kenapa yaaaa…., meskipun aku suka dengan bagaimana Draupadi diceritakan di novel ini, aku ngerasa aneh aja kalo tetiba Draupadi dikisahkan dengan banyak pemikiran kritis seperti itu. Jatohnya jadi ga cocok, kayak bukan Draupadi banget gitu. Apalagi dengan plot twist dimana Draupadi diceritakan malah jatuh cinta sama Karna, bikin aku ngerasa agak-agak keki sekaligus penasaran selama ngebaca Pallace of Illusions. Rasanya agak rancu seorang Draupadi sampai bisa mencintai Karna yang jelas-jelas mempertanyakan kehormatan dan martabatnya sebagai seorang wanita bangsawan cuma gegara dia nikah sama 5 orang bersaudara. Kalo aku dihina begitu, mau awalnya cinta kayak manapun aku ga bakal sudi lagi lihat mukanya. Soalnya meski aku bukan feminist sejati yang apa-apa bicaranya tentang hak dan kesetaraan gender, kalo orang sudah menghina pribadi seseorang itu ga pantas buat di cintai. Yah.. tapi untuk segi ide cerita memang cukup bikin aku ngerasa lega pernah berpapasan dengan novel ini. Nora Roberts pernah menulis di salah satu novelnya bahwa Jantung wanita terdapat pada rumahnya, dan Draupadi mengekspresikan dengan bagus banget betapa kehilangannya dia ketika Istana indah yang ia cintai harus dirampas akibat konspirasi. Makanya ya guys, ada alasan kenapa perjudian dalam hukum Islam sangat dilarang karena banyak sekali bukti yang menjelaskan dampak buruk yang diakibatkan. Buatku sendiri yang sudah pernah ngerasain kehilangan harta dan keutuhan keluarga akibat perjudian emang cukup relate sama cerita Mahabarata yang sarat moral dan nilai kehidupan.

I got this E-book version via Google so there’s not that difficult to read the novel for free. Or ypu can contact to have the E-book and I’ll email it to you. Aku kurang tahu apa versi terjemahan Indonesianya sudah ada atau belum, tapi kalau ada, aku rekomen banget buat kalian yang senang dengan kisah kolosal terutama Mahabarata.

My Stupid Boss, and My own Work experience

Kayaknya aku belum pernah review buku ini yak? Hehehe.. padahal belinya udah lama deh, tapi aku emang rada males bikin postingan blog selama masih kerja. Sekarang mudah-mudahan bisa sering posting kayak dulu dan ga melulu nontonin orang di youtube. Hihi..

Well, aslinya kenapa majang buku ini karena menurutku pengalaman Chaos@work ngehadepin bossnya yang alakazam kelakuannya itu menghibur banget. Terus setelah berkali-kali baca buku ini aku jadi keinget pengalamanku sendiri pas masih kerja. Di mana-mana emang akan selalu ada aja atasan dengan kelakuan yang aneh, tapi kebetulan tempat kerjaku sih orang-orangnya masih sangat amat normal dibanding Bossnya mba Kerani. Lagi marah ya sewajarnya aja ga pake acara main langsung tuduh sana-sini. Malah karena mungkin lingkungan kerja diisi hampir semuanya perempuan (secara kita-kita kan SPG), bawaannya kayak lagi arisan. Yang kenceng sih ngomongin orangnya aja kali’ ya. *Mesem-mesem*

Suplayerku misalnya, orangnya lumayan agak cerewet dan kalo marah tuh ga bakal berhenti ngomong. Awal kerja dulu aja sampe pusing karena hampir tiap hari dapet wejangan meskipun akhirnya aku sadar kalo semua itu penting dalam pekerjaan. Kalau sudah ribut soal kompetitor dan omset kayaknya udah maleeesss banget mau jawab bbm/sms-nya, tapi kewajiban ya tetep mesti dipenuhi sebagai bawahan. Misalnya kalo sehari ga ngereport, doi bakal ngirim sms/bbm dari SPG lain sebagai contoh gimana seharusnya SPG itu tanggap dan aktif bekerja. Jadi tuh maksudnya ngode gitu biar dismsin yak.. hehehe.. *ngakak sendiri gw baca ginian* KadangMy-kadang sampe panas dingin sendiri kalo udah ngomongin omset sama kompetitor, ga bakal jauh-jauh dari “Duh, kecil banget..” “Waa rankingnya turun..” Tahu sih kalo harusnya aku mawas diri buat lebih keep up sama ekspektasi sang penggaji, tetep aja rasanya beteeee banget kalo udah dijawabin gitu sama boss. Euuuhhh kayak ga di anggep.

Mulai menginjak dua tahun kerja, aku udah mulai tahan banting sama omongan suplayer yang dikit-dikit ngebahasin pengurangan SPG dan tutup konter kalo lagi chat soal kerjaan. Waktu itu lawan shiftku masih enak, orangnya pintar ngomong juga jadi ga perlu nanya-nanya lagi gimana ngehandle kecerewetan si boss. Begitu doi resign gegara ada masalah, aku ketemu partner yang rata-rata susah beradaptasi dengan kondisi omset konter yang sepi dan suplayer yang cerewet. Pernah ada satu lawan shift yang orangnya polos banget sampe ga mudeng omongan suplayer;

Partner = Mbak, ternyata Bapak itu genit ya? Masa semalem sms aku di bales ‘Oke jelek’. Iihh Emangnya aku pacarnya kali?
Aku = (Bingung) Ha? Apa iya? Biasanya Bapak ga gitu kok. Emang kamu sms apa sama dia?
Partner = cuma kompetitor aja mbak, terus dijawabnya gitu. Ih, aneh ya mbak.
Aku = Hmm.. semalem dapet ranking berapa di kompetitor?
Partner = Ranking 5 mbak.
Aku = (langsung ketawa) Ya elah dek, maksudnya Bapak itu bukannya genit. Dia ngebales sms kamu maksudnya mau bilang Ranking kita jelek. Jadi maksudnya, ‘Oke, rankingnya jelek.” , Gitu..
Partner = Iya tah mba? Yaa orang nulisnya gitu ga jelas banget, kayak ngomong sama pacar.. (terus ketawa-ketiwi)

Kalo sudah gini kadang cuma bisa geleng-geleng kepala sendiri. Makanya setiap anak baru yang jadi partner shiftku pasti udah kukasih wanti-wanti supaya tanya dulu sama aku pas di chat sama suplayer. Untungnya semua pada nurut ya, walaupun masih tetep aja ada miskomunikasi. Secara si bos orangnya syupaaa sibuk jadi kalo ngetik chat itu singkat-singkat, jadinya suka salah pengartian. Sayangnya aku udah lupa sih apa aja kejadian salah baca chat suplayer yang di alami lawan shift aku, tapi yang aku inget emang hampir semuanya ngalamin termasuk aku juga. Aduh.. banyak cerita juga ya setelah dipikir-pikir. Hahaha..

Back to the topic, My Stupid Boss diceritakan dengan gaya bahasa sehari-hari berbumbu banyolan slapstick khasnya humor Indo ala novel-novelnya bang Raditya Dika. Bedanya, aku suka novel ini karena ceritanya konsisten dalam situasi yang sama. Kalo di novelnya Bang Radit tuh jumping dari satu ke yang lain sehingga aku sendiri ga nyambung kolerasinya di mana (jadi ujungnya cuma lucu aja). My Stupid Boss bisa dibilang fiksi humor yang bikin orang relate ke pengalaman kerjanya sendiri sehingga bawaannya jadi ngocol bin terheran – heran kenapa bisa ada orang seaneh itu jadi pemimpin perusahaan dan ada seorang sekuat itu yang bisa menjadikan pengalaman kerjanya jadi sesuatu yang menarik untuk di simak. Ga heran sih kalo akhirnya My Stupid Boss diangkat menjadi film layar lebar dan ga mengecewakan juga. Dan lucky bonusnya, tokoh Boss ini diperankan oleh Reza Rahardian yang sumpah gokil banget ngasil feel yang ngena sebagai atasan super ngeselinnya Diana. Hehehe.. Walaupun ga bisa nonton di bioskop gegara temen-temen aku lebih tertarik sama The conjuring, at least aku bisa nonton via shared video di Facebook. Dan novelnya sendiri aku beli di Gramedia, cuma lupa harganya berapa. Well, aku pengin beli buku lanjutannya karena yang terakhir aku tahu tuh Chaos@work sudah ngeluarin 5 buku serial My Stupid Boss. Semoga dapet kesempatan di lain waktu deh. Anyway, yang belum pernah baca, mendingan beli deh bukunya. Soalnya menurut aku lebih kocak baca bukunya sendiri ketimbang cuma tahu dari film.

Keluar Dari Zona Aman

Duluuuuu banget kayaknya aku pernah baca buku psikologi tentang keluar dari zona nyaman. Kalo ga salah sih pas SD yah (haha). Weits, gini-gini bahan bacaan aku di jaman SD bukan macamnya majalah Bobo atau komik Shin-chan, tapi udah merambah ke intisari-intisari majalah dan buku yang ngomongin life struggle dan history. Kalo anak jaman sekarang mah demennya goyang-goyangin jari telunjuk sama jari tengah aja tuh.

Baca lebih lanjut

This Week’s Reading list

Kayaknya udah lama banget deh sejak terakhir aku bikin post tentang dunia membaca seperti review novel dan sebagainya. Maklum, sekarang jarang banget nyempatin waktu buat nyari bahan bacaan. Dulu kalo lagi di rumah bisa berjam-jam mantengin laptop buat baca novel, eh.. sekarang yang harusnya gampang banget buat baca di aplikasi henpon malah kebanyakan mainan yutub sama instagram. Ehehe.. palingan kalo mau baca buku tuh pas lagi abis kuota doank *mesem-mesem*. Kemarin aku lagi baca buku bang Radit yang pertama, bawaannya kepingin beli buku lagi. Meskipun salah satu temen bilang enakan baca buku/cerita online, well.. hobby is not something you can measure on. Aku ga bilang baca buku lewat jalur online itu ga bagus, malah kebanyakan membantu banget selama ini buat aku yang kantongnya pas-pasan (padahal udah kerja). Tapi karena sekarang udah termasuk mampu beli buku dalam bentuk media cetak, kayaknya kok sayang kalo ga ngambil kesempatan buat menambah koleksi buku. Toh, itu juga termasuk impian aku dari kecil, kepingin punya perpustakaan sendiri. Alhamdulillah sekolahku punya banyak ragam bahan bacaan karena perpustakaannya kebetulan salah satu yang terlengkap di Bandar Lampung (yuk, yuk dateng ke Xaverius 1 Teluk Betung). Dari perpustakaan inilah lahir hobi yang sampai saat ini belum luntur, yaitu membaca. Wah.. dulu di SD aku udah baca banyak banget buku, dari ensiklopedi sampai novel remaja. Sebagian inget, sebagian sih kagak. Jadi kangen, hahaha…

Omong-omong soal aktif di instagram, gegara buka iklan di sono aku jadi donlod aplikasi Webcomics dan nemuin novel “Resign” karya Almira Bastari. Kamvreto banget tuh novel lucu bangettt,, ala-ala drakor gitu yang meskipun english-englishnya bikin aku agak terganggu (I dunno, I’ve never been one who likes english convo or terms added in Indonesian novels) tetep syuka sama kisah Alranita vs Tigran yang unyu. Love and hate relationship emang seru sih ya hahaha.. sayangnya kalo di Webcomics kan mesti dapet koin dulu kalo mau baca chapter non-gratis, dan kupon gratis buat baca “Resign” juga keluarnya tiap 5 hari sekali. Iseng-iseng buka Lazada buat ngintip harga novelnya, lah.. mehong boy! Hiks… Aku lagi belum mampu keluarin uang lebih buat beli kamu nak.. *nangis manja* Doain yaa manteman gajiannya ada sisa buat beli buku, aminnnn.

Aku punya reading list yang sebenarnya recommended buat kalian. Ini beberapa buku yang kemarin aku baca, tapi aku gabungin aja ya secara singkat biar enak;

1. Ten millions of Peach Blossoms, Pillow’s book 1-2 by TanQi GongXi.
Ah. 2 words for these masterpieces : Keren gila. Awalnya aku tau Chinese novel ini pas liat adaptasi dramanya yang aduhai ngena banget di hati. Memang banyak sih yang menghujat karya TanQi karena plagiarism-nya ke novel lain (novel boyslove pulak), tapi ga tau kenapa aku tetep syukaaa banget dengan ceritanya yang lucu dan kompleks ini. Berdasar pada kebudayaan, ajaran agama Budha dan kepercayaan para Dewa di China, serial-serial ini jadi novel Chinese favorit aku so far. Yang masih beredar secara umum sih Pillow’s Book 1-2 (Kisah antara Bai Fengjiu dan Donghua Dijun yang aseli sumpah bikin nagih buat nyimakin), tapi yang Ten Millions of Peach Blossoms udah ditarik peredarannya dari internet. So shame banget pokoknya. Versi Manhua dari ‘Peach Blossoms’ masih bisa di temuin sih, tapi imagenya menurut aku ga terlalu sesuai sama penggambaran di dalam novel. Kalo soal plot, sama persis. Tapi bagi aku yang udah baca dan nonton versi dramanya jelas bisa ngebedain mana yang sesuai dan yang kagak. Yah. We can’t have all we want. But it’s really and highly recommended. Silahkan cari aja Pillow’s booknya di gugle ya. Klo yang ‘Peach Blossoms’ aku dapet di Wattpad, tapi belum full complete jadi belum bisa aku rekomendasikan.

2. Bu Bu Jing Xin (Startling by Each Step) by Tong Hua.
Again, it’s actually a great shame novel ini ga pernah masuk pasar Indo. Ini keren-ren-ren gila! Buat kalian yang udah pernah nonton Drakor “Scarlet Heart : Ryeo”, FYI ceritanya terinspirasi dari novel ini. Bedanya cuma karakteristik awal si Hae Soo yang lebih kekanakan dibanding Maertai RuoXi. But most of all semua sama (namanya juga di adaptasi). Yang bikin lebih ngeselin lagi karena terjemahannya yang beredar di gugle cuma mentok di chapter 8. Meskipun bikin bete, aku pernah ngerasain sih strugglingnya sebagai translator. So let’s there’ll be any continuation for the translation *cross fingers*.

3. Pallace of Illusions by Chitra Banerjee Divakaruni.
Kalo kalian menggemari historical romance atau tertarik dengan cerita Mahabharata, Pallace of Illusions ini jadi novel yang aku rekomen buat dibaca. Novel ini menceritakan kronologi kehidupan Draupadi dan Mahabharata dari PoV-nya si Draupadi sendiri. Karena aku familiar banget dengan kisah Mahabharata karena sering nonton dramanya berulang kali dari kecil (yang versi tahun 70an ituloh), kayaknya unik aja mengikuti penjabaran Draupadi yang diceritakan jatuh cinta sama Karna daripada sama Arjuna. Walah, pokoknya lucu aja. Terus kan kalo Mahabharata biasanya mengisahkan wanita sebagai sosok yang penuh bakti sama keluarga dan suami, berkharisma dan penuh dharma. Lah kalo di sini ceritanya manusiawi banget, yang Ibu Kunti jadi ibu Mertua yang resentful sama menantu, atau si Draupadi sendiri yang menganggap mertuanya sebagai saingan. Aneh banget deh ga kayak cerita Mahabharata yang biasanya. Tapi menurutku disini sih letak bagian uniknya, retelling story emang punya nilai lebih dimana plotnya jadi lebih berkembang daripada versi original. Seneng banget bisa punya kesempatan baca buku ini.

4. Dua Ibu by Arswendo Atmowiloto.
Menurutku Pak Arswendo layak jadi bapak cerita anak-anak, soalnya novel-novel karyanya seperti “Mencari Ayah Ibu“, “Kenapa Bibi Tidak Pernah Pergi ke Dokter“, “Pesta Jangkrik” sampai “Keluarga Cemara” yang diadaptasi ke sinetron itu punya kesan yang ngena banget karena sarat dengan kisah keluarga dan masa anak-anak. Doa Ibu juga termasuk karya yang aku favoritkan, dan alhamdulillah aku bisa punya salah satu dari novel yang Pak Arswendo buat. Dulu aku seneng banget baca “Mencari Ayah Ibu” di perpustakaan, jadi aku familiar dengan gaya bahasa dan cerita Arswendo. Dua ibu dikemas dengan penggalan cerita anak-anak asuhan seorang ibu yang berkorban sepenuh hati untuk mereka meski kehidupannya selalu dalam kekurangan. Di akhir cerita, sang ibu meninggal dan seluruh anak asuhannya baik yang kandung maupun yang di asuh berkumpul sebagai penghormatan bagi ibu yang mereka kasihi. Arswendo Atmowiloto ingin menyampaikan bahwa tidak ada batasan mau itu kandung ataupun tidak, ibu adalah ibu yang bersedia merawat dan membesarkan anaknya dengan cara apapun. Bahkan ga ada batasan agama yang mengikat karena nyatanya dia mau merawat dan mengkhitan salah satu anaknya yang notabene berasal dari keluarga non-muslim. Menurut aku, menulis novel harus yang begini, jujur, sederhana dan pesannya sampai. Kalo sekarang agak susah nemu novel lokal yang ginian sih. Hahaha..

5. Resign by Almira Bastari
*Ngakak membahana* mahap yah mahap.. I can’t help it, beneran! Padahal aku aja belum selesai baca buku ini via Webcomics tapi udah main langsung masuk reading list aja. Abisnya lucu sih ceritanya jadi gemes pengin ngeshare ke blog. Awalnya pas liat judul novel ini aku kira bakal ngebaca novel non-fiksi tutorial resign dengan cara-cara nyeleneh dan kocak (maklum, kebanyakan baca novel humor jadi gini dah). Ga taunya novel romance toh ya hahaha.. Tapi field kerjaannya ga relate sih sama aku, soalnya aku ga yakin ada perusahaan yang karyawannya lembur tiap hari. Cuman ya kalo ada salut aja deh *tepuk tangan*… Aku yang dulu cuma lembur seminggu sekali aja ga tahan, apalagi pas puasa haduhhhh… Itu bisa sampe seminggu terus ga sakit-sakit berarti manusia super. Masa’ si Alranita masih mau lanjut nonton jam 9 malem padahal pulangnya paling cepet jam 7an? Aduh, kalo aku sih mendingan molor broh *nyengir kuda*. Anyway, doakeuuunnn pokoknya bisa beli buku ini ya manteman, sapa tahu diriku dapat bonus nyasar dari kantor terus adminnya insomnia dadakan gituhhh (ngarep). Amiiinnn..

Apa jadinya tanpa teknologi?

Years ago (cieh gayanya sok tuir), dulu kalo ga punya laptop bakalan susah ngerjain dokumen-dokumen penting. Inget banget pas di awal kuliah dulu dan belum punya laptop, ngerjain draft tugas translation yang panjangnya alakazam (tapi itu juga karena aku yang milih sih) sampe mau nangis karena ditulis dan disimpen di blog pribadi. Waktu itu kan ga ada smartphone canggih kayak sekarang yang semua aplikasi A sampe Z tinggal donlod terus dipake. Henpon ekeh cuma sebatas nokia alakadar yang cukup puas buat sms, telpon, denger lagu dan internetan terbatas akses WAP. Mau rental komputer atau ke warnet pun susah gegara di daerahku emang fasilitas yang begitu minim banget, belum lagi mahalnya itu. That’s how my uni life went, which was much of struggle.

Seminggu yang lalu aku dimintain tolong sama temen buat ngeprint data stok opname dari kantornya yang di format dalam bentuk PDF file. Secara karena hp aku yang sekarang (XiaoMi Redmi 5A) ga pake memocard, aku jadi bingung mesti gimana buat ngakses datanya ke komputer. Aku ga mau ngambil resiko connecting hp aku ke komputer yang isinya segala macem dipake orang, takut deh pokoknya. Jadi aku transfer file tersebut ke Google Drive terus aku buka lewat komputer rental deket kosan, abisnya langsung aku print. It’s that easy. Dulu, kenapa ga semudah itu? Seandainya teknologi smartphone merambah lebih cepat ke daerah tempat aku tinggal mungkin dulu aku ga perlu harus ribut minta Mamak beliin laptop. Padahal kalo di pikir-pikir, kebanyakan fungsi laptopnya pun cuma buat donlod anime banyak-banyak numpang wifi kampus dan storing file yang jumlahnya bejibun dari hp entah itu foto maupun lagu. Nah, kalo sekarang yang gituan juga bisa lewat hp kan, atau online storing via sosmed. Beneran, kalo ngebandingin dulu sama sekarang emang advanced banget pertumbuhan teknologi yang terjadi. Dan alhamdulillah aku masih punya kesempatan sebagai salah satu witnessnya ya. Hahaha..

Anyway, kita yang sekarang memang susah survive tanpa teknologi. Kadang suka kepikiran sama aku, “Apa jadinya kita tanpa teknologi?” Terutama kalo ngeliat sekarang konsumsi publik sama internet juga makin besar. Contoh aja kayak fasilitas transportasi online, yang honestly ngasih impact yang besar buatku pribadi. Kemana-mana ga perlu harus afal jurusan angkot, tinggal pesen aja ojek/taksi online. Duh… Seandainya ga ada yang ginian, jarak pasti tetap bakal jadi halangan. Sekarang pun, kalo mau komunikasi sama orang rumah juga ga susah. Ga punya pulsa juga bisa lewat Whatsapp karena adik udah punya smartphone. Walaupun sebenarnya nelpon juga tetep pake pulsa sih.. soalnya sinyal masih suka ngadat. But to me it’s a big improvement loh, dibanding tahun-tahun sebelumnya yang kalo mau nanya apa-apa atau mau kasih liat sesuatu ya ga bisa secara detil karena komunikasinya lewat sms dan telpon doank. Jujur deh, kalo di suruh jawab pertanyaan di atas, aku pasti bakal bilang, “Waduh, bakal repot.”

Tapiiiiii eh tapiii yaaa…. Itu kalo teknologi dipakenya dengan bijaksana lho. Dengan fungisnya yang bener. Kebanyakan orang menggunakan fungsi teknologi dengan cara yang salah, dan meskipun ga merugikan orang tetep aja unfaedah. Apalagi sekarang noh… Pada ngetrend abis bikin video musik atau lipsyinc video yang isinya cuma goyang kanan kiri ngasih liat bentuk badan sementang semok dan cantik. Mending kalo ga berhijab, ini mah berhijab syay.. have fun sih have fun tapi tolong yang berfaedah dikit. Sayang lho sudah menutup aurat tapi malah gitu. Belum lagi resiko-resiko yang lain.. Suka greget aja liat anak-anak jaman sekarang yang menggunakan smartphone mereka untuk hal yang unfaedah. Lah nanti bakal gimana ya?

Well.. intinya sih manusia sulit survive tanpa teknologi, tapi juga harus membatasi penggunaannya pada level yang lebih bisa diterima. Ga mau juga kan di masa depan nanti anak-anak kita baru lahir tau-tau goyang-goyang depan kamera sambil goyang dua jari?

​Nyobain Ayam Geprek Takis


Di Bandar Lampung, atau mungkin secara global di Lampung, menu ayam-ayaman kayaknya jadi sesuatu yang hits dan kekinian banget sehingga agaknya di mana-mana nemunya Ayam geprek inilah, ayam penyet itulah dan segala macem menu ayam lain di sekitaran Bandar Lampung. Tahun kemarin, Ayam Geprek Bensu lagi jadi buah bibir banget di chit-chatnya tempat kerja aku sampe akhirnya aku rasain sendiri enaknya di Lampung Fair. Setelahnya beberapa temen aku mulai posting menu ayam baru di sekitaran sini di IG, ngebikin ngiler yak. Tauk aja yang ngeliat lagi kondisi kanker alias kantong kering, hihi. (Beliin angguran mah, malah dipamerin)

Yaaa jadi pas bulan Januari kemarin tuh aku lagi iseng buka hashtag #TelukBetung di Instagram (maklum, instamania) dan nemuin resto ayam yang ternyata syupa dyeket cyinnn sama kosan ekeh. Cuma jalan 5 menit doank euy, ga pake naik kendaraan dulu sooo syupa hemat mat mat. FYI kalo nyari kuliner emang dimana-mana sih deket, Teluk Betung juga ga segitunya gersang keleus sama cafe dan tongkrongan kece. Ada El’s Cafe, Amnesty Coffee, Tong Tjie Cafe yang emang pas di Ground floornya Chandra Teluk betung sampe yang agak level atas dikit semacam Pavilliun Resto (denger-denger doi harganya hebring, belum pernah nyicip makan di sana sih akunya), Cuma ya berhubung daku ga suka baso, bosen makan mi dan nasi goreng/uduk mulu kan pengin lah ya makan yang dagingan dikit. KFC ya ada sih, tapi mahal mwahahahahaha (ketauan kan kisminnya)



First time going there, tempatnya di daerah pertokoan Pasar Tengah Teluk Betung (atau ada yang suka nyebutnya Mangga Dua, though I don’t know why). Dari Bank BCA KCP Teluk Betung tuh cuma jalan beberapa meter doank udah keliatan semacam spanduk bertuliskan nama menunya, Ayam Geprek Takis. Aku curiga nih kata “Takis”-nya nih aslinya anagram dari “Sikat”, ala-ala gaeol ya bok bahasa di bolak-balik 😁. Standar size for a resto, dengan at least 7 meja tersedia buat makan di tempat (bener kagak sih?). Dekor-dekornya sih juga belum heboh banget lah ya, seingetku ada semacam wall painting atau mural yang kayaknya digambar sama yang punya resto. Aduh, sayah jadi pengin gambar. Nanti ya kalo sempet. Maybe kalau masang plastik pelapis buat mejanya lebih rapi aku bisa bilang tempatnya nyaman, dan kalo masih nampung saran sih bisa kali’ ya dekor di tambah biar lebih ‘instagramable’ gitu (yaaaaaainstamainakkkkk). Nilai plusnya dari tempat ini adalah no noise, alias ga berisik beib! Jalan tempat restonya itu emang turning point yang ga rame-rame banget. Terus pas kesana juga ga banyak yang lagi makan di tempat (jadi ademm), daaaaaaannn da myusik bro.. Gamelan Bali! Ampun dijeeee dakuh makjleb gitu inget rumah, uhuk. Andaikan saat itu lagi makan bareng Memekuhhh… Hiksss…. 😭😭😭

Basically Paket Ayam Gepreknya terdiri dari Nasi + Ayam yang digeprek (YAIYALAH COY!) dan disiram sambal terus ditemenin tempe, timun dan kol goreng. Tingkat kepedasan dari sambalnya punya level dari 1 sampai 30 dan harga 15 ribunya itu untuk level 1 – 5, selebihnya sih nambah harga tergantung dari tingkatan level. Minuman yang ditawarkan sih mulai dari es teh tawar sampe Thai Tea dan kawan-kawan yang ga bisa aku inget, maklumin ya. Kalo penasaran ya dateng aja kali’ kesono. Yang bikin aku sering makan si ayam geprek Takis ini sebenarnya bukan cuma murah bin deket kosannya, tapi delivery service yang datengnya wuss via Whatsapp. Ga pake bete nunggu lama langsung dikirim ke tempat tujuan. Sip ga tuh?

Ada yang mau recommend tempat makan lain di sekitar Teluk Betung, Bandar Lampung? Contact pleeeeeeesssss, ntar aku kesana trus review yess??