Kisahku yang Belum Punya KTP, Mau Bikin Tapi..

Will you believe me if I say that I still haven’t had an ID card?

Tapi,

Emang aku belum punya. *Bete mode : on*

Niatnya kepingin biar langsung kelar, biar kepegang itu yang namanya E-KTP, rencana ke kantor Disdukcapil buat pencetakan E-KTP fisik dramanya pake berhari-hari. Secara karena rumahku sama tuh kantor jauh banget jaraknya dari ujung ke ujung, aku harus minta tolong sama Bapak yang kebetulan tinggal di daerah yang lebih deket buat nganterin. Emang sih, rumahnya sebenarnya sama jauhnya, belum lagi aku juga ga familiar sama tempat-tempat di sini. Ya udahlah sekalian silaturahmi juga, karena emang udah berbulan-bulan ga ketemu sama bapak.

Hari H-nya, aku berangkat sekitar pukul 7 pagi dari rumah. Nyampe ke kota (karena kan rumahku di pelosok) makan waktu setengah jam perjalanan. Sampai disana harus nunggu lagi sampai kira-kira jam 8 baru ada bus yang lewat, dan sampai di terminal jam setengah 9. Jadi waktu perjalanan dari rumah sampai ke kantor Disdukcapilnya kira-kira 1-2 jam. Kebetulan karena gedungnya baru, ya tentu aja bingung mesti kemana. Soalnya karena semua dinas pelayanan masyarakat digabung jadi satu di tempat tersebut, namanya juga udah bukan lagi Kantor individual yang beda nama dan tempat, tapi kemudian menjadi Mall Pelayanan Masyarakat. Untungnya sih kepengurusan catatan sipil kayak Kartu Keluarga, E-KTP seperti itu ada di gedung utama. Langsung menuju pos kepengurusan E-KTP, aku serahin lembar fotokopi Surket tahun 2018 dan duduk di kursi tunggu. Ah, ya memang sudah biasa sih nunggu. Sebelumnya di kantor yang lama juga aku harus nunggu sejam buat bikin Surket tahun 2018. Apalagi sekarang niatnya buat pencetakan, jadi mungkin waktunya bakal lebih lama.

Akhirnya, namaku dipanggil. Tapi disusul dengan info yang bikin shock, “Mbak sudah pernah punya E-KTP? Data di kami E-KTP mbak sudah ada tahun 2012.” Aduduu.. kalo sudah punya yang ngapain toh aku jauh-jauh ke kantor Capil buat ngurus KTP? Perasaan hati sudah ga enak bawaannya. Kubilang, “Saya belum terima, mbak.” Tapi masih diototin sama petugasnya. Sampai akhirnya kujawab dua kali, barulah mbak petugasnya ngasih blanko tanda terima berkas dengan tanggal kembali ke Kantor Capil tertera 04 Maret 2020. Menurut si mbak petugas, blanko E-KTP sedang kosong. Tapi yak kok, harus 4 bulan banget gitu baru bisa punya E-KTP fisik? alamaaakk…

Sudah kadung jauh-jauh datang dan ujung-ujungnya belum bisa punya E-KTP, akhirnya aku minta pembuatan Surket yang baru. Itupun masih harus nunggu lagi setelah jam makan siang. Good grief. Kami keluar dari gedung dan cari tempat makan yang kebetulan cuma menyediakan pecel lontong dan mie ayam. Aish, keselnya. Aku pun cerita, iseng-iseng curhat colongan sama penjual minuman disitu.

“Gimana ini, bang. Masa’ saya mesti bolak-balik lagi buat ngurus KTP. Mending kalo ga jauh.”
“Memang si mbak dari mana?”
“Unit 3, bang.”
“Jauhnyaa.. Itu mah harusnya kasih uang aja mbak. Ga rugi kok kasih cepek, yang penting beres. saya aja yang rumahnya depan sini mending kasih uang, ga tahan repot.”
“Iya nih, bang. Bisa kasih solusi ga nih, yang penting E-KTP saya keurus nih. Mau dipake buat ngelamar kerja masalahnya.”
“Oo.. saya punya sih kenalan orang dalem di sini. Tapi mau teleponnya ga ada pulsa.”

Hehe, modal dulu lah ini ceritanya. Berhubung aku juga jualan pulsa via Payfazz, kuisikan pulsanya ceban itung-itung sebagai komisi. Lalu dia telpon orang yang katanya kenalan “orang dalam”, lari ke arah gedung dan masuk ke dalam. Mungkin ada sekitar 5-10 menit belum keluar. Sebenarnya, aku sudah ga berasa semangat lagi setelah liat tanggal di blanko tanda terima berkasnya tadi. Tapi karena kita hidup selalu dengan kata “Siapa tahu”, teteeeuupp di hati masih ngarep juga kalau-kalau berhasil.

Balik dari gedung, si abang itu kemudian melapor;
“Gini mbak, memang kalau mau buat E-KTPnya sekarang belum bisa karena blankonya sedang kosong. Saran saya sih coba mba cari dulu aja E-KTP yang lama di balai desa atau di Di Kantor camat. Ini sih yang ngomong yang bagian komputernya.”

Sebelum cari tempat makan, aku sama bapak juga sudah sempat menghubungi salah satu aparat desa kami untuk menanyakan perihal E-KTP tahun 2012 yang sampai sekarang masih belum aku terima. Padahal aku dan bapak melakukan perekaman E-KTP di hari dan tempat yang sama, tapi justru cuma E-KTP bapak yang sukses mendarat di tangan pemiliknya. Jawabanya malah disuruh ke balai desa aja untuk buat surat kehilangan E-KTP dan balik lagi ke kantor Capil. Buset dah. Otomatis kesimpulannya E-KTPku memang dari awal sudah tidak ada di balai desa dan kemungkinan memang tidak ada pula di Kantor Kecamatan. Dari tahun 2013 sampai 2018 aku cuma pegang KTP non-elektrik dan memang selama tahun 2012 juga memang tidak ada info apa-apa mengenai E-KTP tersebut. Lantas, kenapa kemana rimbanya tuh piece of plastic? Ada duitnya kah sampai hilang di gondol tuyul? Atau punya ilmu tertentu? Hanya menjadi sebuah misteri. Tapi inilah kenyataan sistem kependudukan Indonesia yang katanya canggih tapi berputar-putar. Tahun 2012 waktu itu, aku masih inget banget gimana alotnya proses perekaman E-KTP sampai harus nunggu dari pagi hingga menjelang sore. Petugas Disdukcapilnya pun datang ketika siang hari dimana orang-orang sebenarnya sudah bolak-balik pulang ke rumah lalu nongol lagi di balai desa. Dengan sejarah yang panjang begitu, siapa yang tahan harus nunggu berbulan-bulan lagi untuk bisa diakui sebagai warga negara Indonesia?

Alhamdulillahnya, Surket bisa dicetak dan aku terima pas pukul 1 siang. Keluar dari Mall Pelayanan Masyarakat, kami cari rumah makan untuk isi perut dan beristirahat sejenak. Meski hasil hari ini jauh dari kata puas, setidaknya aku punya surat identitas sementara sampai 6 bulan kedepan. Awalnya sih mikir gitu. Sampai ke rumah, iseng-iseng aku search di google dengan keyword “Keluhan soal E-KTP” untuk cari info lebih lanjut soal pencetakan dsb. Dari situ, ketemulah nomor whatsapp Ombudsman RI dimana kita bisa mengeluhkan soal E-KTP. Dari sini, mungkin aparat Kantor Disdukcapil daerahku sudah bisa mengetahui siapa yang menghubungi Ombudsman. Tapi jujur, alasan aku menghubungi Ombudsman bukan untuk asal ngelapor karena kesal, tapi aku benar-benar butuh E-KTP tersebut dan tidak tahu harus dengan cara apa lagi harus mengurusnya supaya bisa benar-benar menerima KTP fisik. Coba bayangin, 7 tahun ga punya E-KTP, ngurus apa-apa ga bisa. Bahkan ngelamar kerja saja sudah susah. Yang ngeselin itu saat pihak Ombudsman sedang melakukan konfirmasi ke instansinya, aku sempet dibilangin begini, “Memang E-KTPnya untuk apa mbak, kan sudah ada Surketnya. Toh sama saja.”

I wasn’t really sure if the question was said as a form of curiousity or just for the sake of talking, but I seriously wanted to tell whoever it was at the opposite side of this convo with, “WELL, DUH.” Like, how could you ask someone why they need an ID card? Terlepas dari surketnya yang punya masa berlaku 6 bulan, kepentingan punya E-KTP fisik dengan masa berlaku seumur hidup kan bakalan lebih diprioritaskan. Tapi ya udahlah yaaa… Seharian udah capek mikir keras plus waktu dan tenaga yang sudah terbuang demi E-KTP kalo masih emosi juga kan ga lucu. Setidaknya, setelah menghubungi pihak Ombudsman ada sedikit titik terang kalau aku tetep bisa punya E-KTP baru asalkan dateng sesuai tanggal yang tertera di blanko tanda terima berkasku. Okelah. End of discussion. Mungkin ridha Allah buatku diakui bener-bener jadi penduduk Indonesia masih kepending kali ya? Hihi..

Intinya dari pengalamanku mengurus E-KTP ini adalah, selama kalian para kawula muda masih berjiwa muda dan emang masih muda beneran (maksudnya yaa.. baru lulus sekolah gituu.. ) Uruslah cepet-cepet E-KTP kalian sebelum blankonya habis. Karena diurus buru-buru atau lambat-lambat pun, aku juga ga tau kenapa itu si blanko selalu statusnya kosong melulu. Setiap tahun selalu ada anak berulang tahun ke 17, itung aja berapa puluh ribu orang yang butuh kartu identitas setelah lulus sekolah. Mungkin mereka nganggur dulu? Atau pakai kartu pelajar aja kemana-mana? I don’t know. But they’re still young though. Kalo ada apa-apa ya masih maklum larinya ke orang tua. Lah, yang 28 tahun ini? Bisa gitu ngedekem di rumah ga kerja dan ga punya E-KTP? Coba aja try being me. Coba, cobaaaaaaaa!!!!!

*Jeritan hati yang keras, tapi dalam hati sih*

Rasisme di Indonesia itu Rahasia Umum, Lho

Sebelumnya, seperti post yang pernah aku buat jauuuuhhh sebelum ini (Dan masih ada kaitan yang sama dengan topik SARA), perlu dicatat bahwa aku sama sekali ga berniat membahas topik seperti ini sebagai pancingan emosi atau provokasi. Jujur aja, hal-hal berbau SARA jadi salah satu topik yang paling aku hindari karena latar belakang keluargaku yang berasal dari komunitas agama dan budaya yang berbeda. Sampai sekarang pun kalau ngebahas orang tuaku yang satunya bersuku Lampung dan lainnya Bali, masih suka di tanya lagi dengan pertanyaan yang lebih kepo; “Terus ibunya Islam, kan?”, “Terus agama kamu apa?”, “Loh, orang Lampung toh, tapi kok kulitnya Hitam?” Dan sekawan-kawannya. Terkadang aku heran sendiri, kok orang lain bisa sampe segitunya ngasih pertanyaan ngeselin begitu kalo aku cerita soal background keluargaku. Bahkan dulu waktu awal kerja, karena warna kulitku gelap banget dan rambutku keriting sampai disangka orang Papua. Udah kenyang banget sebenarnya denger pertanyaan semacam ini dari kecil, tapi lama-lama kepingin curhat juga. Apalagi kemarin-kemarin sempet viral soal Rasisme yang berkaitan dengan Masyarakat Papua. Dari sini aja kita bisa nilai donk, bahwasanya Indonesia yang digadang-gadang negeri Bhineka Tunggal Ika yang menghargai perbedaan aslinya lekat dengan Rasisme?

I don’t know why people are so into white Skin and straight hair and perfect body shape, like, cuma karena beberapa komunitas suku tertentu lebih dominan dengan warna kulit dan postur tubuh tertentu bukan berarti mereka punya alasan untuk ngejudge orang lain yang perawakannya berbeda dengan dia atau komunitas tersebut. Like me, for example, cuma karena warna kulit aku gelap, bibir aku tebal dan rambutku keriting, hampir 50% orang di tempat kerjaku dulu selalu mengaitkan itu semua ke daerah Timur Indonesia. Oo ya tapi tentu aja, aku ga punya masalah apa-apa sih sama orang Indonesia timur. Toh kita punya sejumlah nama penyanyi Indonesia dari tanah Timur yang suaranya bikin Iri. Rambut mereka keriting? Kulit Mereka Gelap? I’m sorry deh, tapi kalo kamu masih demen denger lagu-lagu internasional berarti bego banget kalo sampe ngejudge warna kulit dan penampilan. Cuma ya sebel aja, memangnya kenapa kalau aku punya perawakan tubuh yang begini? Ada masalahnya?

Orang Indonesia selalu bangga banget dengan keberagamannya, selalu antusias kalau ada orang sebangsa dan setanah air sukses secara Internasional terus heboh bilang, “Dia sudah bawa nama Indonesia, kebangsaan Bangsa.” But actually, nilai kebangsaan kita udah jauh banget bergeser dari yang seharusnya kita junjung. Ini juga ngaruh ke masalah keagamaan lho, karena sekarang ini semakin banyak perdebatan agama yang muncul sampai kasusnya membesar seperti balon yang nunggu di tusuk pake jarum. Komunitas internasional sebenarnya sudah familiar dengan tagline milenium Indonesia “Negara penuh kontroversi SARA”, tapi kita justru gembar-gembornya penuh semangat. Makanya aku suka ketawa, kalau ada masalah di negara lain semua pasang aksi bersimpati. Terus masalah kita sendiri, gimana ngelarinnya?

Baru-baru ini aku sering nonton video di channel Asian Boss yang ngebahas topik-topik soal Indonesia. Netizennya banyak yang komen, “Kok bahasannya soal agama lagi?”, “Kok bahasnya soal hijab lagi?”. Aku malah ngerasa aneh sama pertanyaan mereka, wong Itu bukan salah crew Asian Bossnya lho padahal. Orang Indonesia sendirilah yang membuat negaranya selalu panas soal perdebatan agama. Pengalamanku pribadi udah jadi contoh paling kongkrit, karena pertanyaan “Tapi Ibunya Islam, kan?” Udah aku dengar dari kecil tanpa absen. Padahal emangnya kenapa kalau Ibu aku non-muslim, salah? Mainnya pada kurang jauh nih berarti ya.

Pada akhirnya, apakah kasus-kasus seperti yang terjadi di Papua itu bakal jadi yang terakhir? Jawabannya; none in the million years. Lebih baik pikirin agenda terbesar buat bangsa kita supaya belajar untuk menyampaikan sesuatu yang proper di tempat dan waktu yang proper pula. Kalo ga suka penampilan orang lain, liat dulu diri anda di kaca yang gede. Emang anda itu lebih baik? Inget aja, dari 5 jari di tangan cuma 1 biji yang dipake buat nunjuk ke orang. Jangan lupa arah 4 jari yang disimpen, bukannya justru nunjuk ke diri sendiri? Jadi kalo kamu nunjuk seseorang Hitam, jelek dkk pake 1 jari, 4 jari lainnya sebenarnya nunjuk ke diri kamu sendiri lho. Yakin mau bully orang terus? Indonesia itu bukan cuma diisi sama cewek ala Korea yang putih kayak susu atau Oppa ganteng yang mukanya licin sampe nyamuk pun kepeleset. Indonesia juga bukan cuma hunian khusus kaum Muslim sampe ada ritual keagamaan lain harus tergeser dan terasing. Back to those thousand years before Islam came to Indonesia, Nusantara masih menganut paham animisme yang tradisinya masih lestari tuh sampe sekarang. Rasisme di Indonesia itu terlalu biasa sampai kita sendiri ga pernah sadar bahwa hal ini adalah sebuah masalah besar. Pokoknya, mengharapkan Indonesia jauh dari kata Rasisme itu seperti ngarep kena amnesia attack kalo ketemu mantan; close to impossible.

Keluar Dari Zona Aman

Duluuuuu banget kayaknya aku pernah baca buku psikologi tentang keluar dari zona nyaman. Kalo ga salah sih pas SD yah (haha). Weits, gini-gini bahan bacaan aku di jaman SD bukan macamnya majalah Bobo atau komik Shin-chan, tapi udah merambah ke intisari-intisari majalah dan buku yang ngomongin life struggle dan history. Kalo anak jaman sekarang mah demennya goyang-goyangin jari telunjuk sama jari tengah aja tuh.

Baca lebih lanjut

This Week’s Reading list

Kayaknya udah lama banget deh sejak terakhir aku bikin post tentang dunia membaca seperti review novel dan sebagainya. Maklum, sekarang jarang banget nyempatin waktu buat nyari bahan bacaan. Dulu kalo lagi di rumah bisa berjam-jam mantengin laptop buat baca novel, eh.. sekarang yang harusnya gampang banget buat baca di aplikasi henpon malah kebanyakan mainan yutub sama instagram. Ehehe.. palingan kalo mau baca buku tuh pas lagi abis kuota doank *mesem-mesem*. Kemarin aku lagi baca buku bang Radit yang pertama, bawaannya kepingin beli buku lagi. Meskipun salah satu temen bilang enakan baca buku/cerita online, well.. hobby is not something you can measure on. Aku ga bilang baca buku lewat jalur online itu ga bagus, malah kebanyakan membantu banget selama ini buat aku yang kantongnya pas-pasan (padahal udah kerja). Tapi karena sekarang udah termasuk mampu beli buku dalam bentuk media cetak, kayaknya kok sayang kalo ga ngambil kesempatan buat menambah koleksi buku. Toh, itu juga termasuk impian aku dari kecil, kepingin punya perpustakaan sendiri. Alhamdulillah sekolahku punya banyak ragam bahan bacaan karena perpustakaannya kebetulan salah satu yang terlengkap di Bandar Lampung (yuk, yuk dateng ke Xaverius 1 Teluk Betung). Dari perpustakaan inilah lahir hobi yang sampai saat ini belum luntur, yaitu membaca. Wah.. dulu di SD aku udah baca banyak banget buku, dari ensiklopedi sampai novel remaja. Sebagian inget, sebagian sih kagak. Jadi kangen, hahaha…

Omong-omong soal aktif di instagram, gegara buka iklan di sono aku jadi donlod aplikasi Webcomics dan nemuin novel “Resign” karya Almira Bastari. Kamvreto banget tuh novel lucu bangettt,, ala-ala drakor gitu yang meskipun english-englishnya bikin aku agak terganggu (I dunno, I’ve never been one who likes english convo or terms added in Indonesian novels) tetep syuka sama kisah Alranita vs Tigran yang unyu. Love and hate relationship emang seru sih ya hahaha.. sayangnya kalo di Webcomics kan mesti dapet koin dulu kalo mau baca chapter non-gratis, dan kupon gratis buat baca “Resign” juga keluarnya tiap 5 hari sekali. Iseng-iseng buka Lazada buat ngintip harga novelnya, lah.. mehong boy! Hiks… Aku lagi belum mampu keluarin uang lebih buat beli kamu nak.. *nangis manja* Doain yaa manteman gajiannya ada sisa buat beli buku, aminnnn.

Aku punya reading list yang sebenarnya recommended buat kalian. Ini beberapa buku yang kemarin aku baca, tapi aku gabungin aja ya secara singkat biar enak;

1. Ten millions of Peach Blossoms, Pillow’s book 1-2 by TanQi GongXi.
Ah. 2 words for these masterpieces : Keren gila. Awalnya aku tau Chinese novel ini pas liat adaptasi dramanya yang aduhai ngena banget di hati. Memang banyak sih yang menghujat karya TanQi karena plagiarism-nya ke novel lain (novel boyslove pulak), tapi ga tau kenapa aku tetep syukaaa banget dengan ceritanya yang lucu dan kompleks ini. Berdasar pada kebudayaan, ajaran agama Budha dan kepercayaan para Dewa di China, serial-serial ini jadi novel Chinese favorit aku so far. Yang masih beredar secara umum sih Pillow’s Book 1-2 (Kisah antara Bai Fengjiu dan Donghua Dijun yang aseli sumpah bikin nagih buat nyimakin), tapi yang Ten Millions of Peach Blossoms udah ditarik peredarannya dari internet. So shame banget pokoknya. Versi Manhua dari ‘Peach Blossoms’ masih bisa di temuin sih, tapi imagenya menurut aku ga terlalu sesuai sama penggambaran di dalam novel. Kalo soal plot, sama persis. Tapi bagi aku yang udah baca dan nonton versi dramanya jelas bisa ngebedain mana yang sesuai dan yang kagak. Yah. We can’t have all we want. But it’s really and highly recommended. Silahkan cari aja Pillow’s booknya di gugle ya. Klo yang ‘Peach Blossoms’ aku dapet di Wattpad, tapi belum full complete jadi belum bisa aku rekomendasikan.

2. Bu Bu Jing Xin (Startling by Each Step) by Tong Hua.
Again, it’s actually a great shame novel ini ga pernah masuk pasar Indo. Ini keren-ren-ren gila! Buat kalian yang udah pernah nonton Drakor “Scarlet Heart : Ryeo”, FYI ceritanya terinspirasi dari novel ini. Bedanya cuma karakteristik awal si Hae Soo yang lebih kekanakan dibanding Maertai RuoXi. But most of all semua sama (namanya juga di adaptasi). Yang bikin lebih ngeselin lagi karena terjemahannya yang beredar di gugle cuma mentok di chapter 8. Meskipun bikin bete, aku pernah ngerasain sih strugglingnya sebagai translator. So let’s there’ll be any continuation for the translation *cross fingers*.

3. Pallace of Illusions by Chitra Banerjee Divakaruni.
Kalo kalian menggemari historical romance atau tertarik dengan cerita Mahabharata, Pallace of Illusions ini jadi novel yang aku rekomen buat dibaca. Novel ini menceritakan kronologi kehidupan Draupadi dan Mahabharata dari PoV-nya si Draupadi sendiri. Karena aku familiar banget dengan kisah Mahabharata karena sering nonton dramanya berulang kali dari kecil (yang versi tahun 70an ituloh), kayaknya unik aja mengikuti penjabaran Draupadi yang diceritakan jatuh cinta sama Karna daripada sama Arjuna. Walah, pokoknya lucu aja. Terus kan kalo Mahabharata biasanya mengisahkan wanita sebagai sosok yang penuh bakti sama keluarga dan suami, berkharisma dan penuh dharma. Lah kalo di sini ceritanya manusiawi banget, yang Ibu Kunti jadi ibu Mertua yang resentful sama menantu, atau si Draupadi sendiri yang menganggap mertuanya sebagai saingan. Aneh banget deh ga kayak cerita Mahabharata yang biasanya. Tapi menurutku disini sih letak bagian uniknya, retelling story emang punya nilai lebih dimana plotnya jadi lebih berkembang daripada versi original. Seneng banget bisa punya kesempatan baca buku ini.

4. Dua Ibu by Arswendo Atmowiloto.
Menurutku Pak Arswendo layak jadi bapak cerita anak-anak, soalnya novel-novel karyanya seperti “Mencari Ayah Ibu“, “Kenapa Bibi Tidak Pernah Pergi ke Dokter“, “Pesta Jangkrik” sampai “Keluarga Cemara” yang diadaptasi ke sinetron itu punya kesan yang ngena banget karena sarat dengan kisah keluarga dan masa anak-anak. Doa Ibu juga termasuk karya yang aku favoritkan, dan alhamdulillah aku bisa punya salah satu dari novel yang Pak Arswendo buat. Dulu aku seneng banget baca “Mencari Ayah Ibu” di perpustakaan, jadi aku familiar dengan gaya bahasa dan cerita Arswendo. Dua ibu dikemas dengan penggalan cerita anak-anak asuhan seorang ibu yang berkorban sepenuh hati untuk mereka meski kehidupannya selalu dalam kekurangan. Di akhir cerita, sang ibu meninggal dan seluruh anak asuhannya baik yang kandung maupun yang di asuh berkumpul sebagai penghormatan bagi ibu yang mereka kasihi. Arswendo Atmowiloto ingin menyampaikan bahwa tidak ada batasan mau itu kandung ataupun tidak, ibu adalah ibu yang bersedia merawat dan membesarkan anaknya dengan cara apapun. Bahkan ga ada batasan agama yang mengikat karena nyatanya dia mau merawat dan mengkhitan salah satu anaknya yang notabene berasal dari keluarga non-muslim. Menurut aku, menulis novel harus yang begini, jujur, sederhana dan pesannya sampai. Kalo sekarang agak susah nemu novel lokal yang ginian sih. Hahaha..

5. Resign by Almira Bastari
*Ngakak membahana* mahap yah mahap.. I can’t help it, beneran! Padahal aku aja belum selesai baca buku ini via Webcomics tapi udah main langsung masuk reading list aja. Abisnya lucu sih ceritanya jadi gemes pengin ngeshare ke blog. Awalnya pas liat judul novel ini aku kira bakal ngebaca novel non-fiksi tutorial resign dengan cara-cara nyeleneh dan kocak (maklum, kebanyakan baca novel humor jadi gini dah). Ga taunya novel romance toh ya hahaha.. Tapi field kerjaannya ga relate sih sama aku, soalnya aku ga yakin ada perusahaan yang karyawannya lembur tiap hari. Cuman ya kalo ada salut aja deh *tepuk tangan*… Aku yang dulu cuma lembur seminggu sekali aja ga tahan, apalagi pas puasa haduhhhh… Itu bisa sampe seminggu terus ga sakit-sakit berarti manusia super. Masa’ si Alranita masih mau lanjut nonton jam 9 malem padahal pulangnya paling cepet jam 7an? Aduh, kalo aku sih mendingan molor broh *nyengir kuda*. Anyway, doakeuuunnn pokoknya bisa beli buku ini ya manteman, sapa tahu diriku dapat bonus nyasar dari kantor terus adminnya insomnia dadakan gituhhh (ngarep). Amiiinnn..

Apa jadinya tanpa teknologi?

Years ago (cieh gayanya sok tuir), dulu kalo ga punya laptop bakalan susah ngerjain dokumen-dokumen penting. Inget banget pas di awal kuliah dulu dan belum punya laptop, ngerjain draft tugas translation yang panjangnya alakazam (tapi itu juga karena aku yang milih sih) sampe mau nangis karena ditulis dan disimpen di blog pribadi. Waktu itu kan ga ada smartphone canggih kayak sekarang yang semua aplikasi A sampe Z tinggal donlod terus dipake. Henpon ekeh cuma sebatas nokia alakadar yang cukup puas buat sms, telpon, denger lagu dan internetan terbatas akses WAP. Mau rental komputer atau ke warnet pun susah gegara di daerahku emang fasilitas yang begitu minim banget, belum lagi mahalnya itu. That’s how my uni life went, which was much of struggle.

Seminggu yang lalu aku dimintain tolong sama temen buat ngeprint data stok opname dari kantornya yang di format dalam bentuk PDF file. Secara karena hp aku yang sekarang (XiaoMi Redmi 5A) ga pake memocard, aku jadi bingung mesti gimana buat ngakses datanya ke komputer. Aku ga mau ngambil resiko connecting hp aku ke komputer yang isinya segala macem dipake orang, takut deh pokoknya. Jadi aku transfer file tersebut ke Google Drive terus aku buka lewat komputer rental deket kosan, abisnya langsung aku print. It’s that easy. Dulu, kenapa ga semudah itu? Seandainya teknologi smartphone merambah lebih cepat ke daerah tempat aku tinggal mungkin dulu aku ga perlu harus ribut minta Mamak beliin laptop. Padahal kalo di pikir-pikir, kebanyakan fungsi laptopnya pun cuma buat donlod anime banyak-banyak numpang wifi kampus dan storing file yang jumlahnya bejibun dari hp entah itu foto maupun lagu. Nah, kalo sekarang yang gituan juga bisa lewat hp kan, atau online storing via sosmed. Beneran, kalo ngebandingin dulu sama sekarang emang advanced banget pertumbuhan teknologi yang terjadi. Dan alhamdulillah aku masih punya kesempatan sebagai salah satu witnessnya ya. Hahaha..

Anyway, kita yang sekarang memang susah survive tanpa teknologi. Kadang suka kepikiran sama aku, “Apa jadinya kita tanpa teknologi?” Terutama kalo ngeliat sekarang konsumsi publik sama internet juga makin besar. Contoh aja kayak fasilitas transportasi online, yang honestly ngasih impact yang besar buatku pribadi. Kemana-mana ga perlu harus afal jurusan angkot, tinggal pesen aja ojek/taksi online. Duh… Seandainya ga ada yang ginian, jarak pasti tetap bakal jadi halangan. Sekarang pun, kalo mau komunikasi sama orang rumah juga ga susah. Ga punya pulsa juga bisa lewat Whatsapp karena adik udah punya smartphone. Walaupun sebenarnya nelpon juga tetep pake pulsa sih.. soalnya sinyal masih suka ngadat. But to me it’s a big improvement loh, dibanding tahun-tahun sebelumnya yang kalo mau nanya apa-apa atau mau kasih liat sesuatu ya ga bisa secara detil karena komunikasinya lewat sms dan telpon doank. Jujur deh, kalo di suruh jawab pertanyaan di atas, aku pasti bakal bilang, “Waduh, bakal repot.”

Tapiiiiii eh tapiii yaaa…. Itu kalo teknologi dipakenya dengan bijaksana lho. Dengan fungisnya yang bener. Kebanyakan orang menggunakan fungsi teknologi dengan cara yang salah, dan meskipun ga merugikan orang tetep aja unfaedah. Apalagi sekarang noh… Pada ngetrend abis bikin video musik atau lipsyinc video yang isinya cuma goyang kanan kiri ngasih liat bentuk badan sementang semok dan cantik. Mending kalo ga berhijab, ini mah berhijab syay.. have fun sih have fun tapi tolong yang berfaedah dikit. Sayang lho sudah menutup aurat tapi malah gitu. Belum lagi resiko-resiko yang lain.. Suka greget aja liat anak-anak jaman sekarang yang menggunakan smartphone mereka untuk hal yang unfaedah. Lah nanti bakal gimana ya?

Well.. intinya sih manusia sulit survive tanpa teknologi, tapi juga harus membatasi penggunaannya pada level yang lebih bisa diterima. Ga mau juga kan di masa depan nanti anak-anak kita baru lahir tau-tau goyang-goyang depan kamera sambil goyang dua jari?

Perempuannya Yang Jaga Diri terus-terusan, atau…

Di kota besar, perempuan memang mesti pintar-pintar menjaga diri. Mau itu yang masih muda sampai bahkan yang sudah ibu-ibu, aku rasa semuanya pernah at least sekali seumur hidup mendapat perlakuan tidak baik di jalan. Kalo belum, alhamdulillah anda termasuk diselamatkan dari bahaya seperti ini. Ga usah pake acara ngomong, “ah, paling ceweknya aja yang salah. Udah pake baju seksi, jalan sendirian di tempat pula. Gimana ga diganggu orang” , karena berdasarkan pengalamanku malah gangguan-gangguan dari lawab jenis kebanyakan berada di jalan yang rame. Seperti tadi, di trotoar samping Chandra Teluk Betung. Hal sepele, nyentuh pun juga kagak sih sebenarnya. Tapi di depan segitu banyak orang, bapak-bapak merentangkan tangan di depan perempuan seolah-olah mau meluk itu di anggap apa coba? Masih bisa ga dianggep bercanda? Jarak antara aku sama si bapak tukang becak itu sekitar semeteran, jadi ya emang ga nyentuh sama sekali. Tapi bercanda di depan orang banyak ke perempuan yang jelas-jelas ga saling kenal sama dia, kalo aku bisa mungkin sudah aku laporin sebagai tindak pelecehan. Setidaknya kalaupun ga punya pendidikan tinggi, kan masih punya pendidikan agama. Apakah ga berfikir kalau hal semacam ini dilarang agama?

Ini pun terjadi tanpa perlu aku pakai pakaian seksi. Kejadian pun di depan area yang ramai. Mungkin yang membaca post ini akan bilang, “ah lebay. Kan becandaan doang ga usah berlebihan.” Well, seandainya kamu di posisi aku, enak ga kira-kira diperlakukan begitu sama orang ga dikenal? Yang ada bukan ketawa nganggap itu lucu, justru malah takut. Sama yang udah kenal aja masih kaget kalau tiba-tiba digituin, apalagi yang ga kenal begini? Rasa kesalnya pun ga ilang-ilang padahal kejadiannya sudah sejam berlalu.

Jujur aja, kelakuan-kelakuan orang-orang aneh seperti ini bukan pertama kali aku rasain. Dari masih SD aku udah aware dengan kondisi jalan raya, gang dan daerah perumahan sepi itu ga ada yang 100% aman sejahtera. Pernah denger cerita di luar sana tentang anak SD diperkosa bapak-bapak di pinggir jalan? Dulu aku pernah hampir ngalamin kejadian ini di Gang seberang Xaverius 1 Teluk Betung ( kalau yang tahu, tepatnya yang tembus ke puskesmas. Kejadiannya tepat di samping puskesmasnya). Untungnya masih bisa menyelamatkan diri, tapi itu cukup bikin trauma sampai sekarang. Tindakan sex exhibitionism? Aku juga pernah jadi korban laki-laki ga dikenal yang mengeluarkan kemaluannya di daerah Kangkung Dalam, Teluk Betung. Bahkan semasa kerja ini pun bukan sekali dua kali aku diganggu dan dilecehkan orang di jalan; mulai dari yang sekedar colak-colek bokong di angkot sampai ngeluarin kemaluannya. Waduh, bisa dijadiin satu buku kalo diceritain satu-satu. Tapi banyak. Dan ga ada satupun di antaranya dalam keadaan aku pakai baju seksi dan mengundang. Satu atau dua di antaranya memang terjadi tempat yang sepi, tapi seperti kejadian paling pertama yang aku sebutin di awal post malah sebagian besar di tempat yang rame. Bingung sendiri rasany, kok tega sekali melecehkan orang. Kalau lagi pakai tanktop dan hotpants terus diganggu, aku masih bisa nganggap ini murni kesalahan akunya yang ga memakai pakaian sopan saat keluar. Sedangkan ini, sudah pakai celana panjang dan kaus lengan 3/4 gombor segede baju emak gw delalahnya masih kena juga digangg orang di jalan. Aduduh.. apakah Indonesia seberbahaya itu ya sampai di jalan aja ga ada yang aman lagi?

Prihatin loh aslinya aku tuh, karena tingkat kriminalitas di jalan kayaknya makin bikin resah orang-orang yang biasa kemana-mana jalan kaki kayak aku ini. Udah naik motor banyak resikonya entah itu kecelakaan sampai yang kena begal lah, di jalan pun ngalamin hal semacam ini juga. Aa sering banget ngebecandain aku, bilang “Jangan sendirian kalo kemana-mana, ntar kamu di culik.” You have no idea loh actually. Aku udah ibarat makan asam garam sama yang beginian. Masalahnya, salah siapa? Kejadian kayak gini kalau ditanggepin sama pihak berwajib, jawabannya cuma wacana supaya hati-hati, jangan kemana-mana sendirian di tempat sepi dan memakai pakaian yang sopan. Plis deh pak, masa saya beli makan di pinggir jalan yang jaraknya cuma lima menit dari kosan mesti pake rame-rame? Terus salah kitanya gitu kalo jalannya sepi? Atau kalau sepulang kerja kebetulan seragamnya rok pendek atau kaus nyetrit jadinya gimana tuh, salah kita juga?

Permasalahannya adalah hal beginian ga ada pembelaan ke pihak yang dirugikan. Kalau udah ada kasus pelecehan, orang cuma bisa berkomentar ‘Makanya ini dan makanya itu’. Kenyataannya orang-orang yang melakukan tindakan pelecehan begini ya belum tentu dapat ganjaran. Kalo ngelawan, malah balik menyalahkan atau ngelak. Orang cuma bercanda, katanya. Situ senang ya bercanda-bercanda bikin takut orang, situ punya anak atau istri dibegitukan orang kok marah ya? Kan egois ya. Jadinya, yang disuruh ‘tahu diri’ ya pihak perempuan. Ya tahu dirilah, kalau cewek harus hati-hati, ntar diganggu orang. Trus yang ngeganggu mesti diapain? Didiemin aja?

Plis dong, plis ini mah. Tolong renungkan ini. Mesti apa, selalu perempuannya yang kemana-mana harus up-guard kayak dikejer setan, atau pihak-pihak terkait yang seharusnya melakukan tindakan yang benar-benar tegas untuk para pelaku biar ada efek jera?

Bulan yang Unch Banget

Long time no see!

Beberapa hari belakangan aku ngalamin hal-hal yang menarik; pertama, pesenan doodle art mulai makin bertambah sehingga aku makin mantap buat ngembangin doodle shop aku. Karena sekarang lagi musim-musimnya soccer, pesenan muter-muter di sono-sono tuh. Actually, it starts getting some troubles with providing frames now. Toko tempat biasa aku beli frame mulai jarang restock sehingganya aku harus ke pasar untuk nyari frame. Sedangkan nyari frame item polos tuh agak susah kalo di pasar Kangkung, secara yang umum tuh biasanya warn biru. Kadang suka kesel juga kalo udah dapet pesenan yang rada ngeselin, suka kebanyakan nanya atau yang tiba-tiba ngorder dadakan. Kalo cuma ngerjain doodle artnya sih, sehari juga kelar. Tapi yang bikin ribet kan aslinya si frame ini. Jadi mikir, nyediain frame item yang gitu aja rada susah apalagi yang warna putih. Soalnya bingkai warna putih kebanyakan customade yang musti pesen dulu. Emang udah dapet sih seller yang jual frame putih polos dari ngider-ngider di instagram, tapi belum tau bakal beli frame dari situ atau ga.

Terus, entah kenapa nongol semacam craving untuk ngoleksi pernak-pernik bertema karakter favorit. Sayangnya favorit aku kan Cardcaptor Sakura dan Harry Potter yang goodsnya rada susah di cari. CCS rata-rata goodsnya dari Jepang, indo manufactured dikit banget sampe greget rasanya. Bawaannya jadi kepingin mesen barang custom bertemakan CCS biar puas (bener loh, soalnya aku sampe nyari-nyari jasa custom gitu buat referensi). setali tiga uang sama Harry Potter, potterhead goods banyak tapi ga terlalu menarik. Akhirnya pas lagi browsing Doraemon goods, agak mendapatkan pencerahan gitu. Emang umumnya yang paling banyak dan gampang di cari tuh Hello Kitty dan Doraemon. Jadi menimbang antara Hello Kitty dan Doraemon, aku milih opsi kedua karena suka sama warna birunya. Personally, I’m okay with all characters Be it Doraemon, HK, or even Naruto. Aku bahkan nonton Naruto dari SMP dan ngoleksi komiknya dari yang ori sampe ke KWnya juga. But I want to have a dreamy room inspired by character I like, dimana segala koleksi bisa ngumpul jadi satu dalam tema yg sama. Selain itu, aku juga harus mikirin budgetnya donk. Masa iya ngabisin gaji cuma gegara kepingin ngoleksi doank. 

Btw, postingan kali ini berasa serius ga sih?

Mungkin craving yang aku sebutkan di atas bisa jadi ada hubungannya sama rasa bosenku ngeliat isi kamar yang itu-itu aja dan ga pernah berubah. Ya gimana ya, kalo udah masuk kamar bawaannya kepingin breg langsung nempel di kasur ga mikir lagi sama hal lain. Eh… Setelah dipikir lagi, kamarku ga munglin dibiarin gini terus. Harus ada refreshment biar keliatannya ga monoton. Combined with my cravinh on collecting, aku pikir ini bakalan jadi room redecorating idea yang bagus. Makanya semoga manteman yang baca post ini mendoakan supaya harapan ini tercapai : I want to have a dreamy (boarding) bedroom!

Anyway…

Anyone watched KBS TV’s “The Return of Superman”? Denger-denger nih acara populer banget di Korsel dan aku sendiri sempet nonton rerunnya di R*TI tempo hari. Lagi iseng buka Youtube, aku malah jadi seneng banget nonton Triplets Daehan Minguk Manse dan si appa yang ganteng itu lohh.. Song Il Kook 😍. Tapi tripletsnya asli lucu abis sampe-sampe segala acara TV ga ada bandingannya lagi kalo udah nonton video-video special episode 3 anak kembar ini. Arghhh!! Tapi semua anak dan para bapak yang ikut RoS keren banget! Sempet kaget waktu ada Taewoong juga ikut acara ini bareng anaknya Jion, soalnya Uhm Tae woong tuh salah satu aktor yang cukup menarik perhatian aku. Istrinya cantik juga lagi ah.. 😆

Ehh… Pokoknya bulan ini terisi dengan banyak hal seru, dan yang paling bikin hepi adalah kuota smartfrennya muyah bingits kakaaaa!!! Dapet perdana 13 GB dengan harga yang sama dengan pembelian kuota 2GB. Jadi alhamdulillah hemaaaatttt banget ga pake pusing lola-lolaan. Makanya sekarang bisa nonton konten seru dan aktif di shop tanpa halangan. Ihiy, pokoknya unch banget ah!