The Palace of Illusions, A Draupadi story

Image taken from : Here

“Through the long, lonely years of my childhood, when my father’s palace seemed to tighten its grip around me until I couldn’t breathe, I would go to my nurse and ask for a story. And though she knew many wondrous and edifying tales, the one I made her tell me over and over was the story of my birth. I think I liked it so much because it made me feel special, and in those days there was little else in my life that did.”

– From First Chapter “Fire” –

I’ve always been a big fan of Mahabharat’s story since its Indian adapted soap opera was aired in my elementary school days, so this novel of course would really interest me much when I first spotted it on Google (I didn’t remember the exact point where I found the title actually, but I guess it’s when I randomly searched for new novel for reading). Published on 1st January of 2008, it tells Draupadi’s point view about all events in her life, from her extraordinary birth to the worst moment of her life such as the legendary Swayamwara which made her a wife of 5 Pandu’s children and Pandavas’ lose of gamble game. What I really like about this novel is, that I’d never imagine that Draupadi who’s always been phrased as one of the only love for Arjuna could have a twisted plot as someone who loves another man while being a wife of Pandavas. And to the top of that, Chitra had chosen a phenomenal character like Karna of all people, who I’d never give much respect for.

In this novel also, I begin to see Draupadi not as a woman who’s praised by history for all her good qualities, but as someone human enough to have desires she can’t fulfill even when all people rely on her wisdom and kindness. The way its writer tells the story almost makes me feel like Draupadi was a modern-born woman, in contrast with actual description about her from the original story. Pretty unique in its own way. Especially in the first chapter, Draupadi tells how she took advantage of her unique appearance (having a black skin almost to the point of blue) and charms everyone with her beauty. In Indonesia something like this would be rarely seen since our standard of beauty is still all about white skin. But in this novel, you’ll realize that even the Holy being such as Krishna Dev is loved by all his thousand wives not because he’s strikingly white as milk. After all, He’s named after the colour of his skin, right?

Few days ago when I started writing this post draft my brother (who’s a big fan of Game of Thrones) talked about one character from this serial who seems so Modern-like with her feminist act while the series itself set in medieval age where women didn’t act like that. I failed to tell him the similarity because my brother isn’t interested in Hindu mythology, but telling him instead that it’s something people will always add when they make some stories. I myself don’t actually agree with that kind of ideology though my personality seem to lean that way. I just don’t understand the way women seem too eager to express themselves, it only looks like to me that they are too independent and not accepting men’s role as the leader. Well, it’s only my thought so it’s to all of you to accept feminicity or not. 😊

Sebagai orang yang udah berkali-kali nonton cerita Mahabarata dari adaptasi paling jadul sampai ke yang paling modern tahun 2015an lalu, aku termasuk hafal sama seperangkat kisah klasik ini baik alur maupun para tokoh yang ada di dalamnya. Menurut aku sih penulisnya kepingin menghadirkan sosok Drupadi seperti seorang yang berpikiran kritis dan modern di tengah kehidupan para wanita tradisional di masanya. Cumaaa entah kenapa yaaaa…., meskipun aku suka dengan bagaimana Draupadi diceritakan di novel ini, aku ngerasa aneh aja kalo tetiba Draupadi dikisahkan dengan banyak pemikiran kritis seperti itu. Jatohnya jadi ga cocok, kayak bukan Draupadi banget gitu. Apalagi dengan plot twist dimana Draupadi diceritakan malah jatuh cinta sama Karna, bikin aku ngerasa agak-agak keki sekaligus penasaran selama ngebaca Pallace of Illusions. Rasanya agak rancu seorang Draupadi sampai bisa mencintai Karna yang jelas-jelas mempertanyakan kehormatan dan martabatnya sebagai seorang wanita bangsawan cuma gegara dia nikah sama 5 orang bersaudara. Kalo aku dihina begitu, mau awalnya cinta kayak manapun aku ga bakal sudi lagi lihat mukanya. Soalnya meski aku bukan feminist sejati yang apa-apa bicaranya tentang hak dan kesetaraan gender, kalo orang sudah menghina pribadi seseorang itu ga pantas buat di cintai. Yah.. tapi untuk segi ide cerita memang cukup bikin aku ngerasa lega pernah berpapasan dengan novel ini. Nora Roberts pernah menulis di salah satu novelnya bahwa Jantung wanita terdapat pada rumahnya, dan Draupadi mengekspresikan dengan bagus banget betapa kehilangannya dia ketika Istana indah yang ia cintai harus dirampas akibat konspirasi. Makanya ya guys, ada alasan kenapa perjudian dalam hukum Islam sangat dilarang karena banyak sekali bukti yang menjelaskan dampak buruk yang diakibatkan. Buatku sendiri yang sudah pernah ngerasain kehilangan harta dan keutuhan keluarga akibat perjudian emang cukup relate sama cerita Mahabarata yang sarat moral dan nilai kehidupan.

I got this E-book version via Google so there’s not that difficult to read the novel for free. Or ypu can contact to have the E-book and I’ll email it to you. Aku kurang tahu apa versi terjemahan Indonesianya sudah ada atau belum, tapi kalau ada, aku rekomen banget buat kalian yang senang dengan kisah kolosal terutama Mahabarata.

My Stupid Boss, and My own Work experience

Kayaknya aku belum pernah review buku ini yak? Hehehe.. padahal belinya udah lama deh, tapi aku emang rada males bikin postingan blog selama masih kerja. Sekarang mudah-mudahan bisa sering posting kayak dulu dan ga melulu nontonin orang di youtube. Hihi..

Well, aslinya kenapa majang buku ini karena menurutku pengalaman Chaos@work ngehadepin bossnya yang alakazam kelakuannya itu menghibur banget. Terus setelah berkali-kali baca buku ini aku jadi keinget pengalamanku sendiri pas masih kerja. Di mana-mana emang akan selalu ada aja atasan dengan kelakuan yang aneh, tapi kebetulan tempat kerjaku sih orang-orangnya masih sangat amat normal dibanding Bossnya mba Kerani. Lagi marah ya sewajarnya aja ga pake acara main langsung tuduh sana-sini. Malah karena mungkin lingkungan kerja diisi hampir semuanya perempuan (secara kita-kita kan SPG), bawaannya kayak lagi arisan. Yang kenceng sih ngomongin orangnya aja kali’ ya. *Mesem-mesem*

Suplayerku misalnya, orangnya lumayan agak cerewet dan kalo marah tuh ga bakal berhenti ngomong. Awal kerja dulu aja sampe pusing karena hampir tiap hari dapet wejangan meskipun akhirnya aku sadar kalo semua itu penting dalam pekerjaan. Kalau sudah ribut soal kompetitor dan omset kayaknya udah maleeesss banget mau jawab bbm/sms-nya, tapi kewajiban ya tetep mesti dipenuhi sebagai bawahan. Misalnya kalo sehari ga ngereport, doi bakal ngirim sms/bbm dari SPG lain sebagai contoh gimana seharusnya SPG itu tanggap dan aktif bekerja. Jadi tuh maksudnya ngode gitu biar dismsin yak.. hehehe.. *ngakak sendiri gw baca ginian* KadangMy-kadang sampe panas dingin sendiri kalo udah ngomongin omset sama kompetitor, ga bakal jauh-jauh dari “Duh, kecil banget..” “Waa rankingnya turun..” Tahu sih kalo harusnya aku mawas diri buat lebih keep up sama ekspektasi sang penggaji, tetep aja rasanya beteeee banget kalo udah dijawabin gitu sama boss. Euuuhhh kayak ga di anggep.

Mulai menginjak dua tahun kerja, aku udah mulai tahan banting sama omongan suplayer yang dikit-dikit ngebahasin pengurangan SPG dan tutup konter kalo lagi chat soal kerjaan. Waktu itu lawan shiftku masih enak, orangnya pintar ngomong juga jadi ga perlu nanya-nanya lagi gimana ngehandle kecerewetan si boss. Begitu doi resign gegara ada masalah, aku ketemu partner yang rata-rata susah beradaptasi dengan kondisi omset konter yang sepi dan suplayer yang cerewet. Pernah ada satu lawan shift yang orangnya polos banget sampe ga mudeng omongan suplayer;

Partner = Mbak, ternyata Bapak itu genit ya? Masa semalem sms aku di bales ‘Oke jelek’. Iihh Emangnya aku pacarnya kali?
Aku = (Bingung) Ha? Apa iya? Biasanya Bapak ga gitu kok. Emang kamu sms apa sama dia?
Partner = cuma kompetitor aja mbak, terus dijawabnya gitu. Ih, aneh ya mbak.
Aku = Hmm.. semalem dapet ranking berapa di kompetitor?
Partner = Ranking 5 mbak.
Aku = (langsung ketawa) Ya elah dek, maksudnya Bapak itu bukannya genit. Dia ngebales sms kamu maksudnya mau bilang Ranking kita jelek. Jadi maksudnya, ‘Oke, rankingnya jelek.” , Gitu..
Partner = Iya tah mba? Yaa orang nulisnya gitu ga jelas banget, kayak ngomong sama pacar.. (terus ketawa-ketiwi)

Kalo sudah gini kadang cuma bisa geleng-geleng kepala sendiri. Makanya setiap anak baru yang jadi partner shiftku pasti udah kukasih wanti-wanti supaya tanya dulu sama aku pas di chat sama suplayer. Untungnya semua pada nurut ya, walaupun masih tetep aja ada miskomunikasi. Secara si bos orangnya syupaaa sibuk jadi kalo ngetik chat itu singkat-singkat, jadinya suka salah pengartian. Sayangnya aku udah lupa sih apa aja kejadian salah baca chat suplayer yang di alami lawan shift aku, tapi yang aku inget emang hampir semuanya ngalamin termasuk aku juga. Aduh.. banyak cerita juga ya setelah dipikir-pikir. Hahaha..

Back to the topic, My Stupid Boss diceritakan dengan gaya bahasa sehari-hari berbumbu banyolan slapstick khasnya humor Indo ala novel-novelnya bang Raditya Dika. Bedanya, aku suka novel ini karena ceritanya konsisten dalam situasi yang sama. Kalo di novelnya Bang Radit tuh jumping dari satu ke yang lain sehingga aku sendiri ga nyambung kolerasinya di mana (jadi ujungnya cuma lucu aja). My Stupid Boss bisa dibilang fiksi humor yang bikin orang relate ke pengalaman kerjanya sendiri sehingga bawaannya jadi ngocol bin terheran – heran kenapa bisa ada orang seaneh itu jadi pemimpin perusahaan dan ada seorang sekuat itu yang bisa menjadikan pengalaman kerjanya jadi sesuatu yang menarik untuk di simak. Ga heran sih kalo akhirnya My Stupid Boss diangkat menjadi film layar lebar dan ga mengecewakan juga. Dan lucky bonusnya, tokoh Boss ini diperankan oleh Reza Rahardian yang sumpah gokil banget ngasil feel yang ngena sebagai atasan super ngeselinnya Diana. Hehehe.. Walaupun ga bisa nonton di bioskop gegara temen-temen aku lebih tertarik sama The conjuring, at least aku bisa nonton via shared video di Facebook. Dan novelnya sendiri aku beli di Gramedia, cuma lupa harganya berapa. Well, aku pengin beli buku lanjutannya karena yang terakhir aku tahu tuh Chaos@work sudah ngeluarin 5 buku serial My Stupid Boss. Semoga dapet kesempatan di lain waktu deh. Anyway, yang belum pernah baca, mendingan beli deh bukunya. Soalnya menurut aku lebih kocak baca bukunya sendiri ketimbang cuma tahu dari film.

This Week’s Reading list

Kayaknya udah lama banget deh sejak terakhir aku bikin post tentang dunia membaca seperti review novel dan sebagainya. Maklum, sekarang jarang banget nyempatin waktu buat nyari bahan bacaan. Dulu kalo lagi di rumah bisa berjam-jam mantengin laptop buat baca novel, eh.. sekarang yang harusnya gampang banget buat baca di aplikasi henpon malah kebanyakan mainan yutub sama instagram. Ehehe.. palingan kalo mau baca buku tuh pas lagi abis kuota doank *mesem-mesem*. Kemarin aku lagi baca buku bang Radit yang pertama, bawaannya kepingin beli buku lagi. Meskipun salah satu temen bilang enakan baca buku/cerita online, well.. hobby is not something you can measure on. Aku ga bilang baca buku lewat jalur online itu ga bagus, malah kebanyakan membantu banget selama ini buat aku yang kantongnya pas-pasan (padahal udah kerja). Tapi karena sekarang udah termasuk mampu beli buku dalam bentuk media cetak, kayaknya kok sayang kalo ga ngambil kesempatan buat menambah koleksi buku. Toh, itu juga termasuk impian aku dari kecil, kepingin punya perpustakaan sendiri. Alhamdulillah sekolahku punya banyak ragam bahan bacaan karena perpustakaannya kebetulan salah satu yang terlengkap di Bandar Lampung (yuk, yuk dateng ke Xaverius 1 Teluk Betung). Dari perpustakaan inilah lahir hobi yang sampai saat ini belum luntur, yaitu membaca. Wah.. dulu di SD aku udah baca banyak banget buku, dari ensiklopedi sampai novel remaja. Sebagian inget, sebagian sih kagak. Jadi kangen, hahaha…

Omong-omong soal aktif di instagram, gegara buka iklan di sono aku jadi donlod aplikasi Webcomics dan nemuin novel “Resign” karya Almira Bastari. Kamvreto banget tuh novel lucu bangettt,, ala-ala drakor gitu yang meskipun english-englishnya bikin aku agak terganggu (I dunno, I’ve never been one who likes english convo or terms added in Indonesian novels) tetep syuka sama kisah Alranita vs Tigran yang unyu. Love and hate relationship emang seru sih ya hahaha.. sayangnya kalo di Webcomics kan mesti dapet koin dulu kalo mau baca chapter non-gratis, dan kupon gratis buat baca “Resign” juga keluarnya tiap 5 hari sekali. Iseng-iseng buka Lazada buat ngintip harga novelnya, lah.. mehong boy! Hiks… Aku lagi belum mampu keluarin uang lebih buat beli kamu nak.. *nangis manja* Doain yaa manteman gajiannya ada sisa buat beli buku, aminnnn.

Aku punya reading list yang sebenarnya recommended buat kalian. Ini beberapa buku yang kemarin aku baca, tapi aku gabungin aja ya secara singkat biar enak;

1. Ten millions of Peach Blossoms, Pillow’s book 1-2 by TanQi GongXi.
Ah. 2 words for these masterpieces : Keren gila. Awalnya aku tau Chinese novel ini pas liat adaptasi dramanya yang aduhai ngena banget di hati. Memang banyak sih yang menghujat karya TanQi karena plagiarism-nya ke novel lain (novel boyslove pulak), tapi ga tau kenapa aku tetep syukaaa banget dengan ceritanya yang lucu dan kompleks ini. Berdasar pada kebudayaan, ajaran agama Budha dan kepercayaan para Dewa di China, serial-serial ini jadi novel Chinese favorit aku so far. Yang masih beredar secara umum sih Pillow’s Book 1-2 (Kisah antara Bai Fengjiu dan Donghua Dijun yang aseli sumpah bikin nagih buat nyimakin), tapi yang Ten Millions of Peach Blossoms udah ditarik peredarannya dari internet. So shame banget pokoknya. Versi Manhua dari ‘Peach Blossoms’ masih bisa di temuin sih, tapi imagenya menurut aku ga terlalu sesuai sama penggambaran di dalam novel. Kalo soal plot, sama persis. Tapi bagi aku yang udah baca dan nonton versi dramanya jelas bisa ngebedain mana yang sesuai dan yang kagak. Yah. We can’t have all we want. But it’s really and highly recommended. Silahkan cari aja Pillow’s booknya di gugle ya. Klo yang ‘Peach Blossoms’ aku dapet di Wattpad, tapi belum full complete jadi belum bisa aku rekomendasikan.

2. Bu Bu Jing Xin (Startling by Each Step) by Tong Hua.
Again, it’s actually a great shame novel ini ga pernah masuk pasar Indo. Ini keren-ren-ren gila! Buat kalian yang udah pernah nonton Drakor “Scarlet Heart : Ryeo”, FYI ceritanya terinspirasi dari novel ini. Bedanya cuma karakteristik awal si Hae Soo yang lebih kekanakan dibanding Maertai RuoXi. But most of all semua sama (namanya juga di adaptasi). Yang bikin lebih ngeselin lagi karena terjemahannya yang beredar di gugle cuma mentok di chapter 8. Meskipun bikin bete, aku pernah ngerasain sih strugglingnya sebagai translator. So let’s there’ll be any continuation for the translation *cross fingers*.

3. Pallace of Illusions by Chitra Banerjee Divakaruni.
Kalo kalian menggemari historical romance atau tertarik dengan cerita Mahabharata, Pallace of Illusions ini jadi novel yang aku rekomen buat dibaca. Novel ini menceritakan kronologi kehidupan Draupadi dan Mahabharata dari PoV-nya si Draupadi sendiri. Karena aku familiar banget dengan kisah Mahabharata karena sering nonton dramanya berulang kali dari kecil (yang versi tahun 70an ituloh), kayaknya unik aja mengikuti penjabaran Draupadi yang diceritakan jatuh cinta sama Karna daripada sama Arjuna. Walah, pokoknya lucu aja. Terus kan kalo Mahabharata biasanya mengisahkan wanita sebagai sosok yang penuh bakti sama keluarga dan suami, berkharisma dan penuh dharma. Lah kalo di sini ceritanya manusiawi banget, yang Ibu Kunti jadi ibu Mertua yang resentful sama menantu, atau si Draupadi sendiri yang menganggap mertuanya sebagai saingan. Aneh banget deh ga kayak cerita Mahabharata yang biasanya. Tapi menurutku disini sih letak bagian uniknya, retelling story emang punya nilai lebih dimana plotnya jadi lebih berkembang daripada versi original. Seneng banget bisa punya kesempatan baca buku ini.

4. Dua Ibu by Arswendo Atmowiloto.
Menurutku Pak Arswendo layak jadi bapak cerita anak-anak, soalnya novel-novel karyanya seperti “Mencari Ayah Ibu“, “Kenapa Bibi Tidak Pernah Pergi ke Dokter“, “Pesta Jangkrik” sampai “Keluarga Cemara” yang diadaptasi ke sinetron itu punya kesan yang ngena banget karena sarat dengan kisah keluarga dan masa anak-anak. Doa Ibu juga termasuk karya yang aku favoritkan, dan alhamdulillah aku bisa punya salah satu dari novel yang Pak Arswendo buat. Dulu aku seneng banget baca “Mencari Ayah Ibu” di perpustakaan, jadi aku familiar dengan gaya bahasa dan cerita Arswendo. Dua ibu dikemas dengan penggalan cerita anak-anak asuhan seorang ibu yang berkorban sepenuh hati untuk mereka meski kehidupannya selalu dalam kekurangan. Di akhir cerita, sang ibu meninggal dan seluruh anak asuhannya baik yang kandung maupun yang di asuh berkumpul sebagai penghormatan bagi ibu yang mereka kasihi. Arswendo Atmowiloto ingin menyampaikan bahwa tidak ada batasan mau itu kandung ataupun tidak, ibu adalah ibu yang bersedia merawat dan membesarkan anaknya dengan cara apapun. Bahkan ga ada batasan agama yang mengikat karena nyatanya dia mau merawat dan mengkhitan salah satu anaknya yang notabene berasal dari keluarga non-muslim. Menurut aku, menulis novel harus yang begini, jujur, sederhana dan pesannya sampai. Kalo sekarang agak susah nemu novel lokal yang ginian sih. Hahaha..

5. Resign by Almira Bastari
*Ngakak membahana* mahap yah mahap.. I can’t help it, beneran! Padahal aku aja belum selesai baca buku ini via Webcomics tapi udah main langsung masuk reading list aja. Abisnya lucu sih ceritanya jadi gemes pengin ngeshare ke blog. Awalnya pas liat judul novel ini aku kira bakal ngebaca novel non-fiksi tutorial resign dengan cara-cara nyeleneh dan kocak (maklum, kebanyakan baca novel humor jadi gini dah). Ga taunya novel romance toh ya hahaha.. Tapi field kerjaannya ga relate sih sama aku, soalnya aku ga yakin ada perusahaan yang karyawannya lembur tiap hari. Cuman ya kalo ada salut aja deh *tepuk tangan*… Aku yang dulu cuma lembur seminggu sekali aja ga tahan, apalagi pas puasa haduhhhh… Itu bisa sampe seminggu terus ga sakit-sakit berarti manusia super. Masa’ si Alranita masih mau lanjut nonton jam 9 malem padahal pulangnya paling cepet jam 7an? Aduh, kalo aku sih mendingan molor broh *nyengir kuda*. Anyway, doakeuuunnn pokoknya bisa beli buku ini ya manteman, sapa tahu diriku dapat bonus nyasar dari kantor terus adminnya insomnia dadakan gituhhh (ngarep). Amiiinnn..

Antara Membaca dan Review Buku

Beberapa bulan kemarin waktu mulai sering baca e-book di laptop aku sempet punya keinginan kepingin bikin weekly review tentang buku-buku yang udah kubaca. Kalo ditanya jumlah novel digital yang udah dikoleksi sih.. Jangan ditanya. Malahan masih banyak banget yang belum sempet kebaca. Tadinya mau kubaca satu persatu selama liburan, tapi malesnya itu lho… Yang ada malah re-read novel yang udah dibaca. Haha.. Kalo kayak gini gimana bisa review mingguan? Baca buku yang di download sendiri aja udah males.

So far review novel yang berhasil aku buat baru ada dua. Udah ada rencana kepingin buat lagi, tapi masalahnya adalah novel atau buku apa yang bakal di review. Ngereview itu sebenarnya gampang-gampang aja, soalnya kan udah dibaca. Apa susahnya menceritakan kembali apa yang kita tangkap dari buku yang udah dibaca? Tapi kalo ditanya soal buku apa yang ingin di review, itu sih lain cerita. Ada banyak banget novel yang ceritanya bagus dan aku suka, tapi kriteria novel yang menurutku worth direview itu ga cuma bagus dan aku suka. Harus ada point yang membuat novel tersebut menjadi sesuatu yang positive untuk dibaca. Misal, kalo mau review novel romance, tentunya ga sekedar cinta-cintaan kayak film drama. Waktu buat review tentang The Fault in Our Star, aku milih buku ini karena unsur romance dan tragedy-nya deep banget. Romansa cinta remaja tapi tetep tragedi karena mereka pasangan penderita kanker, ketemu dan berpisah karena kanker, dan masing-masing juga hidup dengan kesadaran pribadi dan lingkungan terhadap kanker. Biasanya aku benci baca novel tragedi, tapi ceritanya terlalu bagus untuk ga di review. Yaa jadilah… Tapi ga juga selalu tragedi mulu kan yang bisa di review, aku penginnya yang bener-bener unik. Makanya mesti nyari dulu di list novel mana yang bakal di review nantinya. Sayang sih novel digital dari Indonesia dikit banget koleksinya, kalo novel English kan banyak dan ada tempat yang resmi buat download gratis. Pernah saking ga nemu novel mana yang mau direview, aku langsung jengkel sendiri sampe kepingin review Fifty Shades of Grey daripada susah-susah.. Hahaha. 😛

Mungkin sekarang, lebih baik fokus membedah semua novel-novel yang belum dibaca daripada mikirin review. Bawaannya berasa ada tanggung jawab gitu, habisnya udah download banyak-banyak tapi nganggur di laptop. Itu bukan kebiasaan yang baik ya… #Mikir.