Kisahku yang Belum Punya KTP, Mau Bikin Tapi..

Will you believe me if I say that I still haven’t had an ID card?

Tapi,

Emang aku belum punya. *Bete mode : on*

Niatnya kepingin biar langsung kelar, biar kepegang itu yang namanya E-KTP, rencana ke kantor Disdukcapil buat pencetakan E-KTP fisik dramanya pake berhari-hari. Secara karena rumahku sama tuh kantor jauh banget jaraknya dari ujung ke ujung, aku harus minta tolong sama Bapak yang kebetulan tinggal di daerah yang lebih deket buat nganterin. Emang sih, rumahnya sebenarnya sama jauhnya, belum lagi aku juga ga familiar sama tempat-tempat di sini. Ya udahlah sekalian silaturahmi juga, karena emang udah berbulan-bulan ga ketemu sama bapak.

Hari H-nya, aku berangkat sekitar pukul 7 pagi dari rumah. Nyampe ke kota (karena kan rumahku di pelosok) makan waktu setengah jam perjalanan. Sampai disana harus nunggu lagi sampai kira-kira jam 8 baru ada bus yang lewat, dan sampai di terminal jam setengah 9. Jadi waktu perjalanan dari rumah sampai ke kantor Disdukcapilnya kira-kira 1-2 jam. Kebetulan karena gedungnya baru, ya tentu aja bingung mesti kemana. Soalnya karena semua dinas pelayanan masyarakat digabung jadi satu di tempat tersebut, namanya juga udah bukan lagi Kantor individual yang beda nama dan tempat, tapi kemudian menjadi Mall Pelayanan Masyarakat. Untungnya sih kepengurusan catatan sipil kayak Kartu Keluarga, E-KTP seperti itu ada di gedung utama. Langsung menuju pos kepengurusan E-KTP, aku serahin lembar fotokopi Surket tahun 2018 dan duduk di kursi tunggu. Ah, ya memang sudah biasa sih nunggu. Sebelumnya di kantor yang lama juga aku harus nunggu sejam buat bikin Surket tahun 2018. Apalagi sekarang niatnya buat pencetakan, jadi mungkin waktunya bakal lebih lama.

Akhirnya, namaku dipanggil. Tapi disusul dengan info yang bikin shock, “Mbak sudah pernah punya E-KTP? Data di kami E-KTP mbak sudah ada tahun 2012.” Aduduu.. kalo sudah punya yang ngapain toh aku jauh-jauh ke kantor Capil buat ngurus KTP? Perasaan hati sudah ga enak bawaannya. Kubilang, “Saya belum terima, mbak.” Tapi masih diototin sama petugasnya. Sampai akhirnya kujawab dua kali, barulah mbak petugasnya ngasih blanko tanda terima berkas dengan tanggal kembali ke Kantor Capil tertera 04 Maret 2020. Menurut si mbak petugas, blanko E-KTP sedang kosong. Tapi yak kok, harus 4 bulan banget gitu baru bisa punya E-KTP fisik? alamaaakk…

Sudah kadung jauh-jauh datang dan ujung-ujungnya belum bisa punya E-KTP, akhirnya aku minta pembuatan Surket yang baru. Itupun masih harus nunggu lagi setelah jam makan siang. Good grief. Kami keluar dari gedung dan cari tempat makan yang kebetulan cuma menyediakan pecel lontong dan mie ayam. Aish, keselnya. Aku pun cerita, iseng-iseng curhat colongan sama penjual minuman disitu.

“Gimana ini, bang. Masa’ saya mesti bolak-balik lagi buat ngurus KTP. Mending kalo ga jauh.”
“Memang si mbak dari mana?”
“Unit 3, bang.”
“Jauhnyaa.. Itu mah harusnya kasih uang aja mbak. Ga rugi kok kasih cepek, yang penting beres. saya aja yang rumahnya depan sini mending kasih uang, ga tahan repot.”
“Iya nih, bang. Bisa kasih solusi ga nih, yang penting E-KTP saya keurus nih. Mau dipake buat ngelamar kerja masalahnya.”
“Oo.. saya punya sih kenalan orang dalem di sini. Tapi mau teleponnya ga ada pulsa.”

Hehe, modal dulu lah ini ceritanya. Berhubung aku juga jualan pulsa via Payfazz, kuisikan pulsanya ceban itung-itung sebagai komisi. Lalu dia telpon orang yang katanya kenalan “orang dalam”, lari ke arah gedung dan masuk ke dalam. Mungkin ada sekitar 5-10 menit belum keluar. Sebenarnya, aku sudah ga berasa semangat lagi setelah liat tanggal di blanko tanda terima berkasnya tadi. Tapi karena kita hidup selalu dengan kata “Siapa tahu”, teteeeuupp di hati masih ngarep juga kalau-kalau berhasil.

Balik dari gedung, si abang itu kemudian melapor;
“Gini mbak, memang kalau mau buat E-KTPnya sekarang belum bisa karena blankonya sedang kosong. Saran saya sih coba mba cari dulu aja E-KTP yang lama di balai desa atau di Di Kantor camat. Ini sih yang ngomong yang bagian komputernya.”

Sebelum cari tempat makan, aku sama bapak juga sudah sempat menghubungi salah satu aparat desa kami untuk menanyakan perihal E-KTP tahun 2012 yang sampai sekarang masih belum aku terima. Padahal aku dan bapak melakukan perekaman E-KTP di hari dan tempat yang sama, tapi justru cuma E-KTP bapak yang sukses mendarat di tangan pemiliknya. Jawabanya malah disuruh ke balai desa aja untuk buat surat kehilangan E-KTP dan balik lagi ke kantor Capil. Buset dah. Otomatis kesimpulannya E-KTPku memang dari awal sudah tidak ada di balai desa dan kemungkinan memang tidak ada pula di Kantor Kecamatan. Dari tahun 2013 sampai 2018 aku cuma pegang KTP non-elektrik dan memang selama tahun 2012 juga memang tidak ada info apa-apa mengenai E-KTP tersebut. Lantas, kenapa kemana rimbanya tuh piece of plastic? Ada duitnya kah sampai hilang di gondol tuyul? Atau punya ilmu tertentu? Hanya menjadi sebuah misteri. Tapi inilah kenyataan sistem kependudukan Indonesia yang katanya canggih tapi berputar-putar. Tahun 2012 waktu itu, aku masih inget banget gimana alotnya proses perekaman E-KTP sampai harus nunggu dari pagi hingga menjelang sore. Petugas Disdukcapilnya pun datang ketika siang hari dimana orang-orang sebenarnya sudah bolak-balik pulang ke rumah lalu nongol lagi di balai desa. Dengan sejarah yang panjang begitu, siapa yang tahan harus nunggu berbulan-bulan lagi untuk bisa diakui sebagai warga negara Indonesia?

Alhamdulillahnya, Surket bisa dicetak dan aku terima pas pukul 1 siang. Keluar dari Mall Pelayanan Masyarakat, kami cari rumah makan untuk isi perut dan beristirahat sejenak. Meski hasil hari ini jauh dari kata puas, setidaknya aku punya surat identitas sementara sampai 6 bulan kedepan. Awalnya sih mikir gitu. Sampai ke rumah, iseng-iseng aku search di google dengan keyword “Keluhan soal E-KTP” untuk cari info lebih lanjut soal pencetakan dsb. Dari situ, ketemulah nomor whatsapp Ombudsman RI dimana kita bisa mengeluhkan soal E-KTP. Dari sini, mungkin aparat Kantor Disdukcapil daerahku sudah bisa mengetahui siapa yang menghubungi Ombudsman. Tapi jujur, alasan aku menghubungi Ombudsman bukan untuk asal ngelapor karena kesal, tapi aku benar-benar butuh E-KTP tersebut dan tidak tahu harus dengan cara apa lagi harus mengurusnya supaya bisa benar-benar menerima KTP fisik. Coba bayangin, 7 tahun ga punya E-KTP, ngurus apa-apa ga bisa. Bahkan ngelamar kerja saja sudah susah. Yang ngeselin itu saat pihak Ombudsman sedang melakukan konfirmasi ke instansinya, aku sempet dibilangin begini, “Memang E-KTPnya untuk apa mbak, kan sudah ada Surketnya. Toh sama saja.”

I wasn’t really sure if the question was said as a form of curiousity or just for the sake of talking, but I seriously wanted to tell whoever it was at the opposite side of this convo with, “WELL, DUH.” Like, how could you ask someone why they need an ID card? Terlepas dari surketnya yang punya masa berlaku 6 bulan, kepentingan punya E-KTP fisik dengan masa berlaku seumur hidup kan bakalan lebih diprioritaskan. Tapi ya udahlah yaaa… Seharian udah capek mikir keras plus waktu dan tenaga yang sudah terbuang demi E-KTP kalo masih emosi juga kan ga lucu. Setidaknya, setelah menghubungi pihak Ombudsman ada sedikit titik terang kalau aku tetep bisa punya E-KTP baru asalkan dateng sesuai tanggal yang tertera di blanko tanda terima berkasku. Okelah. End of discussion. Mungkin ridha Allah buatku diakui bener-bener jadi penduduk Indonesia masih kepending kali ya? Hihi..

Intinya dari pengalamanku mengurus E-KTP ini adalah, selama kalian para kawula muda masih berjiwa muda dan emang masih muda beneran (maksudnya yaa.. baru lulus sekolah gituu.. ) Uruslah cepet-cepet E-KTP kalian sebelum blankonya habis. Karena diurus buru-buru atau lambat-lambat pun, aku juga ga tau kenapa itu si blanko selalu statusnya kosong melulu. Setiap tahun selalu ada anak berulang tahun ke 17, itung aja berapa puluh ribu orang yang butuh kartu identitas setelah lulus sekolah. Mungkin mereka nganggur dulu? Atau pakai kartu pelajar aja kemana-mana? I don’t know. But they’re still young though. Kalo ada apa-apa ya masih maklum larinya ke orang tua. Lah, yang 28 tahun ini? Bisa gitu ngedekem di rumah ga kerja dan ga punya E-KTP? Coba aja try being me. Coba, cobaaaaaaaa!!!!!

*Jeritan hati yang keras, tapi dalam hati sih*

Rasisme di Indonesia itu Rahasia Umum, Lho

Sebelumnya, seperti post yang pernah aku buat jauuuuhhh sebelum ini (Dan masih ada kaitan yang sama dengan topik SARA), perlu dicatat bahwa aku sama sekali ga berniat membahas topik seperti ini sebagai pancingan emosi atau provokasi. Jujur aja, hal-hal berbau SARA jadi salah satu topik yang paling aku hindari karena latar belakang keluargaku yang berasal dari komunitas agama dan budaya yang berbeda. Sampai sekarang pun kalau ngebahas orang tuaku yang satunya bersuku Lampung dan lainnya Bali, masih suka di tanya lagi dengan pertanyaan yang lebih kepo; “Terus ibunya Islam, kan?”, “Terus agama kamu apa?”, “Loh, orang Lampung toh, tapi kok kulitnya Hitam?” Dan sekawan-kawannya. Terkadang aku heran sendiri, kok orang lain bisa sampe segitunya ngasih pertanyaan ngeselin begitu kalo aku cerita soal background keluargaku. Bahkan dulu waktu awal kerja, karena warna kulitku gelap banget dan rambutku keriting sampai disangka orang Papua. Udah kenyang banget sebenarnya denger pertanyaan semacam ini dari kecil, tapi lama-lama kepingin curhat juga. Apalagi kemarin-kemarin sempet viral soal Rasisme yang berkaitan dengan Masyarakat Papua. Dari sini aja kita bisa nilai donk, bahwasanya Indonesia yang digadang-gadang negeri Bhineka Tunggal Ika yang menghargai perbedaan aslinya lekat dengan Rasisme?

I don’t know why people are so into white Skin and straight hair and perfect body shape, like, cuma karena beberapa komunitas suku tertentu lebih dominan dengan warna kulit dan postur tubuh tertentu bukan berarti mereka punya alasan untuk ngejudge orang lain yang perawakannya berbeda dengan dia atau komunitas tersebut. Like me, for example, cuma karena warna kulit aku gelap, bibir aku tebal dan rambutku keriting, hampir 50% orang di tempat kerjaku dulu selalu mengaitkan itu semua ke daerah Timur Indonesia. Oo ya tapi tentu aja, aku ga punya masalah apa-apa sih sama orang Indonesia timur. Toh kita punya sejumlah nama penyanyi Indonesia dari tanah Timur yang suaranya bikin Iri. Rambut mereka keriting? Kulit Mereka Gelap? I’m sorry deh, tapi kalo kamu masih demen denger lagu-lagu internasional berarti bego banget kalo sampe ngejudge warna kulit dan penampilan. Cuma ya sebel aja, memangnya kenapa kalau aku punya perawakan tubuh yang begini? Ada masalahnya?

Orang Indonesia selalu bangga banget dengan keberagamannya, selalu antusias kalau ada orang sebangsa dan setanah air sukses secara Internasional terus heboh bilang, “Dia sudah bawa nama Indonesia, kebangsaan Bangsa.” But actually, nilai kebangsaan kita udah jauh banget bergeser dari yang seharusnya kita junjung. Ini juga ngaruh ke masalah keagamaan lho, karena sekarang ini semakin banyak perdebatan agama yang muncul sampai kasusnya membesar seperti balon yang nunggu di tusuk pake jarum. Komunitas internasional sebenarnya sudah familiar dengan tagline milenium Indonesia “Negara penuh kontroversi SARA”, tapi kita justru gembar-gembornya penuh semangat. Makanya aku suka ketawa, kalau ada masalah di negara lain semua pasang aksi bersimpati. Terus masalah kita sendiri, gimana ngelarinnya?

Baru-baru ini aku sering nonton video di channel Asian Boss yang ngebahas topik-topik soal Indonesia. Netizennya banyak yang komen, “Kok bahasannya soal agama lagi?”, “Kok bahasnya soal hijab lagi?”. Aku malah ngerasa aneh sama pertanyaan mereka, wong Itu bukan salah crew Asian Bossnya lho padahal. Orang Indonesia sendirilah yang membuat negaranya selalu panas soal perdebatan agama. Pengalamanku pribadi udah jadi contoh paling kongkrit, karena pertanyaan “Tapi Ibunya Islam, kan?” Udah aku dengar dari kecil tanpa absen. Padahal emangnya kenapa kalau Ibu aku non-muslim, salah? Mainnya pada kurang jauh nih berarti ya.

Pada akhirnya, apakah kasus-kasus seperti yang terjadi di Papua itu bakal jadi yang terakhir? Jawabannya; none in the million years. Lebih baik pikirin agenda terbesar buat bangsa kita supaya belajar untuk menyampaikan sesuatu yang proper di tempat dan waktu yang proper pula. Kalo ga suka penampilan orang lain, liat dulu diri anda di kaca yang gede. Emang anda itu lebih baik? Inget aja, dari 5 jari di tangan cuma 1 biji yang dipake buat nunjuk ke orang. Jangan lupa arah 4 jari yang disimpen, bukannya justru nunjuk ke diri sendiri? Jadi kalo kamu nunjuk seseorang Hitam, jelek dkk pake 1 jari, 4 jari lainnya sebenarnya nunjuk ke diri kamu sendiri lho. Yakin mau bully orang terus? Indonesia itu bukan cuma diisi sama cewek ala Korea yang putih kayak susu atau Oppa ganteng yang mukanya licin sampe nyamuk pun kepeleset. Indonesia juga bukan cuma hunian khusus kaum Muslim sampe ada ritual keagamaan lain harus tergeser dan terasing. Back to those thousand years before Islam came to Indonesia, Nusantara masih menganut paham animisme yang tradisinya masih lestari tuh sampe sekarang. Rasisme di Indonesia itu terlalu biasa sampai kita sendiri ga pernah sadar bahwa hal ini adalah sebuah masalah besar. Pokoknya, mengharapkan Indonesia jauh dari kata Rasisme itu seperti ngarep kena amnesia attack kalo ketemu mantan; close to impossible.

Purbasari Ultra-Smooth Brow Liner, How is it?

Kayaknya aku musti nyetop belanja makeup online deh.. tapi akhir-akhir ini emang rasanya guateeelll banget kepingin nyoba makeup product yang belum pernah aku jamah sebelumnya. Seperti Purbasari Ultra-Smooth Brow liner ini yang denger-denger dirilis Oktober 2018 lalu, bikin penasaran aja pas nongol di recommended list toko yang aku follow di Lazada. Sempet berhari-hari galau mau beli apa kagak coz pensil alis Wardah yang biasa aku pake juga masih utuh gitu, tapi terlalu tergoda ngeliat packagingnya. Yowes, aku beli aja barengan sama Emina Sun protection cream SPF 30 karena kebetulan kepingin beli sunscreen.

Dibungkus kotak karton glossy dengan beberapa keterangan seperti shade color, ingredients dan cara pemakaian, aku pilih warna soft black soalnya rada takut yang coklatnya ga nyatu sama warna alis aku. Lagian kalo pake warna hitam kan emang sesuai aja sama warna rambut asli, ngapain pake coklat segala. Pertama kali aku keluarin produknya dari kotak, yang terpikir “Wuidih panjang amat?!” Karena ada tambahan spoolie di opposite side pensil alisnya, jadi keliatan panjang. Well… Untuk ukuran harga Rp 35.000-an ke atas (harga online) udah termasuk murah kan tuh? Spoolie-nya juga lembut dan lumayan enak dipake buat ngeblend pensil alis. Sedangkan eyebrow linernya sendiri berupa automatic pen yang cukup diputer langsung keluar pensil alis berbentuk segitiga. Agak beda ya sama automatic brow pencil yang biasa aku liat kayak punya Mustika Ratu atau Maybelline. Tapi nilai plusnya adalah doski murah beud dan kemasannya badai kayak mahalan punya.

Seperti khasnya Purbasari, kemasannya pasti kalo ga hitam ya putih. Yang ini kebetulan kemasannya berwarna hitam glossy dengan label Purbasari berwana keemasan (label jenis produk ditulis pake warna putih) dan ada keterangan tanggal kadaluarsanya juga. Walaupun aku ga tau apakah browliner ini bakal jadi item favorit atau kagak, kayaknya kalo masuk pouch makeup rada-rada nambah gengsi ya bok wkwkwkwk πŸ˜‚πŸ˜‚. Kayaknya juga ni pensil alis masuk ke seri Hydra Purbasari yang juga mengeluarkan produk compact powder dan BB cream. Aku belum tau berapa banyak jumlah produk yang termasuk ke dalam seri Hydra ini, tapi kalo pensil alisnya udah sebagus ini mungkin produk yang lain worth buat di coba.

Ga ada masalah berarti sih pas pengaplikasiannya, tapi masih termasuk susah menurut aku. Mungkin karena udah biasa pake pensil alis konvensional yang runcing kayak bambu para pejuang 45 (beh edan!) Makanya berasa kurang nyaman dengan bentuknya yang segitiga. Masalah intensitas warna sih tergantung pemakaian masing-masing ya, tapi warna soft blacknya ga sampe bikin merong kayak pake arang kalo diaplikasiin pelan-pelan. Ada yang bilang katanya ada ashy color di warna soft black ini tapi aku ga nangkep tuh, cuma kalo pada seneng makeup natural mungkin doi bisa jadi pilihan yang bagus. Kemarin sempet aku coba pake karena harus pergi ke Bank ngambil uang (di daerahku ga ada ATM 24 jam untuk BCA), masih harus dibantu pake pensil alis Wardah biar dapet presisi yang HQQ. Kayaknya kalo buat aku lebih cocok ni pensil alis dipake buat ngisi arsiran daripada ngebingkai, Soalnya ga gampang ngegumpal kayak si Wardah.

Warnanya kurang keluar kalau di foto, tapi cocok dipakai harian karena ga merong.

Aku kurang tau berapa kisaran harganya kalo di Toko, soalnya belum pernah cari produk Purbasari di toko atau pasar. (waktu kerja juga ga pernah make Purbasari sih). Kesimpulanku untuk produk ini;

Yang aku suka;
1. Tampilannya bagus kayak bukan produk lokal. Personally aku suka dengan tampilan produk yang ga neko-neko kayak gitu, kesannya berasa “Mahal” kan yah.
2. Untuk ukuran automatic eyebrow liner, menurutku kualitasnya bagus dan harganya murah. Kalo pake pensil alis Wardah kadang bikin sebel sama teksturnya yang gampang menggumpal, tapi Purbasari brow liner ini ga separah si Wardah. Masih enakan lah kalo diblend dan karena blendernya berupa spoolie yang lumayan lembut jadi makin puas sama produk ini.
3. Warnanya ga merong jadi kesannya natural. Cuma kayaknya jadi tricky kalo mau bikin yang agak tebelan. It’s ok sih sebenarnya, sekarang ini aku lagi kepingin pake alis yang ga terlalu merong biar makeupnya ga sangar-sangar amat.
4. Praktis karena ga perlu di raut kayak pensil alis biasa dan ga ada bau kayu yang menyengat. Kayaknya ini memang nilai plus dari semua automatic brow liner yang pernah ada.

Yang ga aku suka;
1. Kayaknya ni pensil alis masih termasuk produk yang jarang ada di pasaran. Walaupun aku belun survey ke pasaran, tapi sebenarnya produk-produk seperti Sariayu, Mustika Ratu atau Purbasari itu jarang banget bisa aku temuin di daerahku karena semua toko kosmetik rata-rata didominasi sama produk Wardah dan Pixy. Well… Aku tetap harus sabar kalo mau repurchase karena bisanya cuma lewat online.
2. Perlu penyesuaian untuk menggunakan automatic brow liner kayak gini. Aku baru bener-bener ngerasa nyaman makenya setelah beberapa kali pengaplikasian. Terus, harusnya sih bentukannya jangan segitiga gitu sih.. kalo bisa seharusnya lebih pipih atau sekalian bulet kayak eyeliner. Mungkin buat ngebedain kali ya.
3. Isinya ga sebanyak pensil alis biasa kurasa. Yahh… Udah wajar sih.

Apakah aku bakal repurchase? Sure, tapi kalo emang perlu – perlu banget. Gimana yak, mesti beli via online tuh rada ribet dan makan waktu deh. Dan aku masih punya pensil alis Wardah yang utuh juga jadi agak sayang kalo ga kepake. Tunggu abis dulu kali yah hahaha.

Sariayu Putih Langsat Peel Off Mask

Akh… Akhirnya aku punya bahan buat review masker. Sebelumnya cuma muter – muter di masker alami dari endapan air beras sama madu+kopi aja, sekarang aku bisa ngeshare mainan baru. And as always, Sariayu emang brand paporit akyu deh.. aku ga tau lho kalo Sariayu ada peeling mask yang modelnya gel transparan. Biasanya kalo beli produk dari Brand ibu pertiwi ini palingan pensil alis, eyeshadow tricolor sama 3 in 1 cleansernya. Dulu pas masih jaman lipstik mini Sariayu meraja lela pasti ga bakal ketinggalan buat nyetok, eh.. sekarang udah ga ada. Duduhh rasanya sedikit excited buat ngeshare ni produk hehehe…

Sariayu Peel of mask Putih Langsat ini konsistensinya berupa gel yang lebih cenderung keruh ketimbang transparan dan lebih cair dari yang terlihat. Dibilang lengket banget sih ga segitunya, tapi kalo nempel di rambut emang susah banget buat dibersihin. Kalo diaplikasiin di muka sedikit kerasa sensasi dingin, dan di mukaku entah kenapa pasti ada rasa sedikit perih setelah dinginnya hilang. Tapi ga seperti peeling mask lain yang pernah aku coba (you know lah yang warnanya hitam itutuhh), ngaplikasiin di muka gampang banget dan ga seberat yang aku kira. Pake jari aja juga ga masalah (tapi jarinya harus bersih yahh) dan mukaku fine – fine aja setelah rasa perihnya hilang. Pas kering juga ga narik banget ke kulit jadi gampang aja buat peeling maskernya, dan ga perlu dibilas lagi setelahnya. Kalo lagi maskeran pake peeling mask ini selain ga malu dikira pake topeng juga ga bikin susah ngomong. Biasanya aku maskeran pas lagi jaga warung siang di siang hari dan happy ajah karena ga bakal ngagetin orang. Cara pakainya; tinggal diratakan ke seluruh wajah yang sudah dibersihkan dan diamkan selama 10-15 menit. Kalau sudah mengering tinggal ditarik aja dari kulit, dan seperti yang aku sebutkan tadi, penarikan masker dari muka ga bakal bikin muka perih karena dasarnya ga kenceng-kenceng banget nempel di kulit.

Claim dari Sariayu Peeling Mask ini yaitu;

Masker Peel Off yang praktis digunakan tanpa perlu dibilas. Mampu mengangkat kotoran dan sel kulit mati, menjadikan kulit bersih, segar, dan lembut. Ekstrak buah Langsat, ekstrak bunga Hibiscus, Vitamin C, dan provitamin B5 membantu melembapkan dan membuat kulit wajah tampak lebih cerah.

Wangi Peel off masknya kayaknya kecampur sama bau alkohol yang menyengat, tapi untungnya di aku sih ga begitu bikin risih. Dikemas dengan tube berwarna hijau seberat 75g, dapetnya lumayan lho untuk harga di bawah 30ribuan perak. Pas masih baru biasanya masih ada segel di dalam lubang tube, beneran aman dan higienis kalo kebetulan kalian belinya via online shopping. Harganya juga murah lho, sekitar Rp 26.000,- dan mungkin di tempat lain juga ga nyampe angka 40ribuan. Yang bikin susah cuma tempat nyarinya, kecuali kalau langsung dateng ke konter kosmetik khusus Sariayu. Kayaknya aku pernah sekali liat masker ini di Chandra Superstore (Bandar Lampung), cuma sebelumnya ga pernah tertarik beli dan saat itu aku juga ga begitu suka maskeran. Agak nyesel juga kenapa ga mau nyoba hahaha πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.

Yang aku suka dari Sariayu Peel Off mask :
1. Kemasannya praktis, higienis dan jelas aman karena ada segel foil di dalam lubang tube. Jadi bisa tahu barang yang dibeli masih beneran baru atau udah kena sentuh tangan ga bertanggung jawab.
2. Makenya gampang dan ga ribet. Bisa diatur berapa banyak gel yang harus dipake dan bisa diaplikasikan dengan jari.
3. Ga terlalu narik banget ke kulit jadi mau dipake setebel apapun ya jadi aja.
4. Ga berwarna; konsistensinya kan gel transparan jadi pas maskeran ga bakal menarik perhatian orang.
5. Setelah maskeran kulit kerasa kenyal dan lembut banget. Ga bikin kering atau kerasa perih setelah maskernya dilepas.

Yang ga aku suka :
1. Kalau kondisi lagi panas banget atau dengan kondisi kulit aku yang gampang berkeringat, sebenanya butuh lebih dari 10-15 menit (waktu yang diperkirakan) supaya maskernya mengering. Malahan aku sampe harus pake bantuan kipas angin karena susah banget buat keringnya. Yang jelas kalo buat yang kondisi kulitnya gampang berkeringat kayak aku mendingan pilih waktu malam hari aja untuk pake masker ini.
2. Baunya cukup strong karena kecampur antara bau bahan herbal sama alkoholnya. Untuk orang yang ga suka bau produk yang strong mungkin ga nyaman dengan masker ini. Untungnya untuk aku yang biasanya sensitif sama bau produk yang menyengat, make Sariayu Peel off mask fine-fine aja.
3. Agak susah ngebersihin sisa produk yang nempel, terutama kalo nempelnya di rambut.

Well.. masalah repurchase sih belum tau ya, sejauh ini aku suka sama masker dari rangkaian ‘Putih Langsat’ Sariayu ini. Cuma masih kepingin nyoba jenis masker yang lain biar tau mana yang paling cocok untuk kupakai. Akhir-akhir ini juga karena lebih sering make sleeping mask dari Viva makanya masih lumayan banyak. Tapi menurutku masker ini cocok banget dipake sebelum makeupan, karena jatohnya bikin muka lebih bersih dan ga terlalu berminyak which is enak banget sebagai starter buat dandan.

Bukit Sakura Lampung, Nuansa Jepang di Bumi Tapis Berseri

Ga nyangka bisa bikin 4 postingan di awal bulan, terharu sekalihhh *banjir air mata. Udah lama banget aku ga seproduktif ini yah hehehehe… btw beberapa kali aku ketemu liputan tentang keindahan bunga yang mirip Sakura di Surabaya. Menurut si empunya cerita sih saking indahnya jadi ga perlu jauh-jauh lagi ke Jepang pas musim semi buat liat Sakura mekar. Aduhh akuh yang suka jejepangan ini jadi ingin sekali liat Sakura lagi kayak waktu ke Bukit Sakura Lampung. Hahaha 😜😜

Salah satu spot selfienya

Trademark Bukit Sakura dengan lampu neon.

Ada yang sudah pernah ke Bukit Sakura di daerah Langkapura, Tanjung Karang, Bandar Lampung? Dari Teluk Betung cuma makan waktu 20-30 menit aja untuk sampai ke lokasi wisata ini yang lumayan tinggi letaknya, karena waktu kesana bareng teman-teman ternyata harus masuk dulu ke dalam daerah yang rimbun dengan pepohonan. Wajar sih ya makanya dikasih nama Bukit, dari area parkir hingga masuk ke Bukit Sakuranya lumayan bikin ngos-ngosan kalo ditempuh dengan jakil alias jalan sikil πŸ˜‚. Tapi jalan masuk ke lokasi masih sangat jauh lebih mudah ketimbang waktu ke Muncak Tirtayasa di Lempasing, Teluk Betung Selatan. Dan karena masih rada-rada viral di antara para warga lokal sekitaran Bandar Lampung makanya lumayan gampang untuk pesen transportasi online seperti Grab/Gojek buat kalian yang ga punya kendaraan pribadi. Dua kali aku ke Bukit Sakura perjalanannya via GrabCar dan biayanya sekitar Rp 30,000-35,000 kalo ga salah. Tapi harganya beda-beda yah tergantung dari posisi jemputnya. Jadi silahkan pilih tempat lokasi yang lumayan deket kalo mau ngurangin tarif taksi onlinenya.

Area kafe dan rumah panggung.

Tadinya waktu pertama kali ke Bukit Sakura lumayan skeptis, beneran ga tuh ada Sakuranya? Tahu info soal tempat wisata ini juga pas ngeliat foto salah satu supervisor tempat kerja dulu yang pose pake hanbok sambil bersandar di pagar kayu. Nah, salah satu fasilitas yang disediakan layanan Bukit Sakura Kemiling adalah penyewaan baju tradisional Jepang dan Korea sebagai properti foto. Terakhir yang aku tahu, biaya sewanya sekitar Rp 25.000,- untuk Kimono dan Rp 35.000,- untuk hanboknya masing-masing per 30 menit. Tapi karena belum pernah coba buat nyewa jadi ga tau deh rasanya pake baju tradisional dari 2 negara di Asia Timur itu. Sebenarnya ga masalah sih, kalo mau dapetin foto yang sesuai dengan tema Jepang ya tinggal pake blouse atau dress potongan Kimono terus tinggal cari aja spot foto sama bunga Sakura yang diinginkan. Di sepanjang area Bukit Sakura Kemiling full sama pohon Sakura kok, walaupun ga serimbun yang kita liat di Drama Jepang sampe guedeee banget itu. Yahh namanya juga lokasi kekinian yang masih baru, jadi mungkin umur pohonnya juga masih muda banget. Tapi nuansa warna pink bunga Sakuranya bakal bikin kalian betah deh lama-lama disini, apalagi kalo suasanannya ga terlalu ramai dan anginnya masih bersahabat. Saran aja ya, kalo kesini mendingan bawa jaket atau pakai baju yang sedikit tebal, soalnya angin lumayan kencang jadi bawaannya dingin beud.

Suasana kafe dari bagian dalam.

Selain belasan pohon Sakura yang bisa kalian ajak jadi teman foto bareng (kalo ga punya pasangan πŸ˜‚), tersedia juga pondok-pondok kecil buat duduk santai, jembatan buatan plus balon udara sebagai dekorasi, area memanah dengan harga tiket Rp 20.000,- untuk kesempatan 4 kali memanah, outdoor cafe serta pertunjukan live music. Penyanyinya punya suara yang oke lho, jadi puas deh nongkrong disini. Aku kurang tau berapa kisaran harga makanan dan minuman yang dijual di cafenya, kayaknya sih sekitar Rp 10.000,- s/d Rp 25.000,-. Terus tiket masuk perorangnya juga rada lupa-lupa inget bayar berapa. Mungkin sekitar Rp 10.000 s/d Rp 30.000 tergantung kendaraan yang kalian pakai. Yaa pokoknya siapian aja budget agak banyakan biar ga malu gegara ga dibolehin masuk. Tapi barang bawaan ga ada yang dipungut biaya kok, jadi mau bawa bekal juga ga masalah.

Anyway, kalo dateng ke Bukit Sakura pas sore atau malam hari sebaiknya hati-hati ya. Terutama buat yang bawa motor mendingan ga usah pulang malem-malem banget soalnya lumayan gelap dan sepi. Kalo pulangnya ke arah Teluk Betung kan pasti tahu banget jalur jalannya ngelewatin Summit Bistro dan Bukit Mas yang sepinyaaa kayak ga ada kehidupan. Yang pake jasa transportasi online pun lebih baik pulangnya sebelum jam setengah 9 malem, coz kalo jam segitu udah susah mesen mobil/ojek. Sumpah ya, aku baru nyampe jam 11 malem gegara susah banget dapetin driver yang mau jemput ke Bukit Sakura Kemiling karena tujuan perjalanannya jauh dan waktu itu udah jam 9 malem. Itupun pake acara kena guyur hujan juga. Jadi sebaiknya hati-hati ya, mendingan berangkatnya serombongan aja kalo bisa biar pulangnya ntar konvoy atau pake mobil pribadi.

Kalo menurut aku sih lebih bagus ambil foto bunga Sakuranya pas menjelang sore, di mana matahari masih terang tapi ga bikin panas. Anginnya kan lumayan gede jadi kalo sore suasananya jadi adem. Yang aku suka dari tempat ini adalah pemandangan dari atas bukitnya yang bersih tanpa gedung tinggi. Kalo malam hari kelihatannya indah banget lho jadinya, soalnya yang keliatan kan cuma lampu-lampu dari hamparan kota yang jauh. Oh iya, kalo malam hari suasana bukit Sakura jadi penuh sama lampu neon warna-warni. Tapi jujurnya aku kurang suka karena jadi nutupin warna bunga sakuranya. After all, kalo ada yang kebetulan pengin liburan ke Lampung jangan lupa mampir ke sini yah.

(P.S. : Beberapa foto di atas aku ambil dari official Instagram accountnya Bukit Sakura Lampung dan hashtag #bukitsakurakemiling. Thanks buat teman-teman yang fotonya aku pinjam, semoga ga marah ya aku pajang-pajang disini hehehehe… Anyway, kalo ada yang mau bikin reservasi di sini bisa liat infonya di salah satu artikel blog yang aku dapet di Google.)

The Palace of Illusions, A Draupadi story

Image taken from : Here

“Through the long, lonely years of my childhood, when my father’s palace seemed to tighten its grip around me until I couldn’t breathe, I would go to my nurse and ask for a story. And though she knew many wondrous and edifying tales, the one I made her tell me over and over was the story of my birth. I think I liked it so much because it made me feel special, and in those days there was little else in my life that did.”

– From First Chapter “Fire” –

I’ve always been a big fan of Mahabharat’s story since its Indian adapted soap opera was aired in my elementary school days, so this novel of course would really interest me much when I first spotted it on Google (I didn’t remember the exact point where I found the title actually, but I guess it’s when I randomly searched for new novel for reading). Published on 1st January of 2008, it tells Draupadi’s point view about all events in her life, from her extraordinary birth to the worst moment of her life such as the legendary Swayamwara which made her a wife of 5 Pandu’s children and Pandavas’ lose of gamble game. What I really like about this novel is, that I’d never imagine that Draupadi who’s always been phrased as one of the only love for Arjuna could have a twisted plot as someone who loves another man while being a wife of Pandavas. And to the top of that, Chitra had chosen a phenomenal character like Karna of all people, who I’d never give much respect for.

In this novel also, I begin to see Draupadi not as a woman who’s praised by history for all her good qualities, but as someone human enough to have desires she can’t fulfill even when all people rely on her wisdom and kindness. The way its writer tells the story almost makes me feel like Draupadi was a modern-born woman, in contrast with actual description about her from the original story. Pretty unique in its own way. Especially in the first chapter, Draupadi tells how she took advantage of her unique appearance (having a black skin almost to the point of blue) and charms everyone with her beauty. In Indonesia something like this would be rarely seen since our standard of beauty is still all about white skin. But in this novel, you’ll realize that even the Holy being such as Krishna Dev is loved by all his thousand wives not because he’s strikingly white as milk. After all, He’s named after the colour of his skin, right?

Few days ago when I started writing this post draft my brother (who’s a big fan of Game of Thrones) talked about one character from this serial who seems so Modern-like with her feminist act while the series itself set in medieval age where women didn’t act like that. I failed to tell him the similarity because my brother isn’t interested in Hindu mythology, but telling him instead that it’s something people will always add when they make some stories. I myself don’t actually agree with that kind of ideology though my personality seem to lean that way. I just don’t understand the way women seem too eager to express themselves, it only looks like to me that they are too independent and not accepting men’s role as the leader. Well, it’s only my thought so it’s to all of you to accept feminicity or not. 😊

Sebagai orang yang udah berkali-kali nonton cerita Mahabarata dari adaptasi paling jadul sampai ke yang paling modern tahun 2015an lalu, aku termasuk hafal sama seperangkat kisah klasik ini baik alur maupun para tokoh yang ada di dalamnya. Menurut aku sih penulisnya kepingin menghadirkan sosok Drupadi seperti seorang yang berpikiran kritis dan modern di tengah kehidupan para wanita tradisional di masanya. Cumaaa entah kenapa yaaaa…., meskipun aku suka dengan bagaimana Draupadi diceritakan di novel ini, aku ngerasa aneh aja kalo tetiba Draupadi dikisahkan dengan banyak pemikiran kritis seperti itu. Jatohnya jadi ga cocok, kayak bukan Draupadi banget gitu. Apalagi dengan plot twist dimana Draupadi diceritakan malah jatuh cinta sama Karna, bikin aku ngerasa agak-agak keki sekaligus penasaran selama ngebaca Pallace of Illusions. Rasanya agak rancu seorang Draupadi sampai bisa mencintai Karna yang jelas-jelas mempertanyakan kehormatan dan martabatnya sebagai seorang wanita bangsawan cuma gegara dia nikah sama 5 orang bersaudara. Kalo aku dihina begitu, mau awalnya cinta kayak manapun aku ga bakal sudi lagi lihat mukanya. Soalnya meski aku bukan feminist sejati yang apa-apa bicaranya tentang hak dan kesetaraan gender, kalo orang sudah menghina pribadi seseorang itu ga pantas buat di cintai. Yah.. tapi untuk segi ide cerita memang cukup bikin aku ngerasa lega pernah berpapasan dengan novel ini. Nora Roberts pernah menulis di salah satu novelnya bahwa Jantung wanita terdapat pada rumahnya, dan Draupadi mengekspresikan dengan bagus banget betapa kehilangannya dia ketika Istana indah yang ia cintai harus dirampas akibat konspirasi. Makanya ya guys, ada alasan kenapa perjudian dalam hukum Islam sangat dilarang karena banyak sekali bukti yang menjelaskan dampak buruk yang diakibatkan. Buatku sendiri yang sudah pernah ngerasain kehilangan harta dan keutuhan keluarga akibat perjudian emang cukup relate sama cerita Mahabarata yang sarat moral dan nilai kehidupan.

I got this E-book version via Google so there’s not that difficult to read the novel for free. Or ypu can contact to have the E-book and I’ll email it to you. Aku kurang tahu apa versi terjemahan Indonesianya sudah ada atau belum, tapi kalau ada, aku rekomen banget buat kalian yang senang dengan kisah kolosal terutama Mahabarata.

My Stupid Boss, and My own Work experience

Kayaknya aku belum pernah review buku ini yak? Hehehe.. padahal belinya udah lama deh, tapi aku emang rada males bikin postingan blog selama masih kerja. Sekarang mudah-mudahan bisa sering posting kayak dulu dan ga melulu nontonin orang di youtube. Hihi..

Well, aslinya kenapa majang buku ini karena menurutku pengalaman Chaos@work ngehadepin bossnya yang alakazam kelakuannya itu menghibur banget. Terus setelah berkali-kali baca buku ini aku jadi keinget pengalamanku sendiri pas masih kerja. Di mana-mana emang akan selalu ada aja atasan dengan kelakuan yang aneh, tapi kebetulan tempat kerjaku sih orang-orangnya masih sangat amat normal dibanding Bossnya mba Kerani. Lagi marah ya sewajarnya aja ga pake acara main langsung tuduh sana-sini. Malah karena mungkin lingkungan kerja diisi hampir semuanya perempuan (secara kita-kita kan SPG), bawaannya kayak lagi arisan. Yang kenceng sih ngomongin orangnya aja kali’ ya. *Mesem-mesem*

Suplayerku misalnya, orangnya lumayan agak cerewet dan kalo marah tuh ga bakal berhenti ngomong. Awal kerja dulu aja sampe pusing karena hampir tiap hari dapet wejangan meskipun akhirnya aku sadar kalo semua itu penting dalam pekerjaan. Kalau sudah ribut soal kompetitor dan omset kayaknya udah maleeesss banget mau jawab bbm/sms-nya, tapi kewajiban ya tetep mesti dipenuhi sebagai bawahan. Misalnya kalo sehari ga ngereport, doi bakal ngirim sms/bbm dari SPG lain sebagai contoh gimana seharusnya SPG itu tanggap dan aktif bekerja. Jadi tuh maksudnya ngode gitu biar dismsin yak.. hehehe.. *ngakak sendiri gw baca ginian* KadangMy-kadang sampe panas dingin sendiri kalo udah ngomongin omset sama kompetitor, ga bakal jauh-jauh dari “Duh, kecil banget..” “Waa rankingnya turun..” Tahu sih kalo harusnya aku mawas diri buat lebih keep up sama ekspektasi sang penggaji, tetep aja rasanya beteeee banget kalo udah dijawabin gitu sama boss. Euuuhhh kayak ga di anggep.

Mulai menginjak dua tahun kerja, aku udah mulai tahan banting sama omongan suplayer yang dikit-dikit ngebahasin pengurangan SPG dan tutup konter kalo lagi chat soal kerjaan. Waktu itu lawan shiftku masih enak, orangnya pintar ngomong juga jadi ga perlu nanya-nanya lagi gimana ngehandle kecerewetan si boss. Begitu doi resign gegara ada masalah, aku ketemu partner yang rata-rata susah beradaptasi dengan kondisi omset konter yang sepi dan suplayer yang cerewet. Pernah ada satu lawan shift yang orangnya polos banget sampe ga mudeng omongan suplayer;

Partner = Mbak, ternyata Bapak itu genit ya? Masa semalem sms aku di bales ‘Oke jelek’. Iihh Emangnya aku pacarnya kali?
Aku = (Bingung) Ha? Apa iya? Biasanya Bapak ga gitu kok. Emang kamu sms apa sama dia?
Partner = cuma kompetitor aja mbak, terus dijawabnya gitu. Ih, aneh ya mbak.
Aku = Hmm.. semalem dapet ranking berapa di kompetitor?
Partner = Ranking 5 mbak.
Aku = (langsung ketawa) Ya elah dek, maksudnya Bapak itu bukannya genit. Dia ngebales sms kamu maksudnya mau bilang Ranking kita jelek. Jadi maksudnya, ‘Oke, rankingnya jelek.” , Gitu..
Partner = Iya tah mba? Yaa orang nulisnya gitu ga jelas banget, kayak ngomong sama pacar.. (terus ketawa-ketiwi)

Kalo sudah gini kadang cuma bisa geleng-geleng kepala sendiri. Makanya setiap anak baru yang jadi partner shiftku pasti udah kukasih wanti-wanti supaya tanya dulu sama aku pas di chat sama suplayer. Untungnya semua pada nurut ya, walaupun masih tetep aja ada miskomunikasi. Secara si bos orangnya syupaaa sibuk jadi kalo ngetik chat itu singkat-singkat, jadinya suka salah pengartian. Sayangnya aku udah lupa sih apa aja kejadian salah baca chat suplayer yang di alami lawan shift aku, tapi yang aku inget emang hampir semuanya ngalamin termasuk aku juga. Aduh.. banyak cerita juga ya setelah dipikir-pikir. Hahaha..

Back to the topic, My Stupid Boss diceritakan dengan gaya bahasa sehari-hari berbumbu banyolan slapstick khasnya humor Indo ala novel-novelnya bang Raditya Dika. Bedanya, aku suka novel ini karena ceritanya konsisten dalam situasi yang sama. Kalo di novelnya Bang Radit tuh jumping dari satu ke yang lain sehingga aku sendiri ga nyambung kolerasinya di mana (jadi ujungnya cuma lucu aja). My Stupid Boss bisa dibilang fiksi humor yang bikin orang relate ke pengalaman kerjanya sendiri sehingga bawaannya jadi ngocol bin terheran – heran kenapa bisa ada orang seaneh itu jadi pemimpin perusahaan dan ada seorang sekuat itu yang bisa menjadikan pengalaman kerjanya jadi sesuatu yang menarik untuk di simak. Ga heran sih kalo akhirnya My Stupid Boss diangkat menjadi film layar lebar dan ga mengecewakan juga. Dan lucky bonusnya, tokoh Boss ini diperankan oleh Reza Rahardian yang sumpah gokil banget ngasil feel yang ngena sebagai atasan super ngeselinnya Diana. Hehehe.. Walaupun ga bisa nonton di bioskop gegara temen-temen aku lebih tertarik sama The conjuring, at least aku bisa nonton via shared video di Facebook. Dan novelnya sendiri aku beli di Gramedia, cuma lupa harganya berapa. Well, aku pengin beli buku lanjutannya karena yang terakhir aku tahu tuh Chaos@work sudah ngeluarin 5 buku serial My Stupid Boss. Semoga dapet kesempatan di lain waktu deh. Anyway, yang belum pernah baca, mendingan beli deh bukunya. Soalnya menurut aku lebih kocak baca bukunya sendiri ketimbang cuma tahu dari film.