Kisahku yang Belum Punya KTP, Mau Bikin Tapi..

Will you believe me if I say that I still haven’t had an ID card?

Tapi,

Emang aku belum punya. *Bete mode : on*

Niatnya kepingin biar langsung kelar, biar kepegang itu yang namanya E-KTP, rencana ke kantor Disdukcapil buat pencetakan E-KTP fisik dramanya pake berhari-hari. Secara karena rumahku sama tuh kantor jauh banget jaraknya dari ujung ke ujung, aku harus minta tolong sama Bapak yang kebetulan tinggal di daerah yang lebih deket buat nganterin. Emang sih, rumahnya sebenarnya sama jauhnya, belum lagi aku juga ga familiar sama tempat-tempat di sini. Ya udahlah sekalian silaturahmi juga, karena emang udah berbulan-bulan ga ketemu sama bapak.

Hari H-nya, aku berangkat sekitar pukul 7 pagi dari rumah. Nyampe ke kota (karena kan rumahku di pelosok) makan waktu setengah jam perjalanan. Sampai disana harus nunggu lagi sampai kira-kira jam 8 baru ada bus yang lewat, dan sampai di terminal jam setengah 9. Jadi waktu perjalanan dari rumah sampai ke kantor Disdukcapilnya kira-kira 1-2 jam. Kebetulan karena gedungnya baru, ya tentu aja bingung mesti kemana. Soalnya karena semua dinas pelayanan masyarakat digabung jadi satu di tempat tersebut, namanya juga udah bukan lagi Kantor individual yang beda nama dan tempat, tapi kemudian menjadi Mall Pelayanan Masyarakat. Untungnya sih kepengurusan catatan sipil kayak Kartu Keluarga, E-KTP seperti itu ada di gedung utama. Langsung menuju pos kepengurusan E-KTP, aku serahin lembar fotokopi Surket tahun 2018 dan duduk di kursi tunggu. Ah, ya memang sudah biasa sih nunggu. Sebelumnya di kantor yang lama juga aku harus nunggu sejam buat bikin Surket tahun 2018. Apalagi sekarang niatnya buat pencetakan, jadi mungkin waktunya bakal lebih lama.

Akhirnya, namaku dipanggil. Tapi disusul dengan info yang bikin shock, “Mbak sudah pernah punya E-KTP? Data di kami E-KTP mbak sudah ada tahun 2012.” Aduduu.. kalo sudah punya yang ngapain toh aku jauh-jauh ke kantor Capil buat ngurus KTP? Perasaan hati sudah ga enak bawaannya. Kubilang, “Saya belum terima, mbak.” Tapi masih diototin sama petugasnya. Sampai akhirnya kujawab dua kali, barulah mbak petugasnya ngasih blanko tanda terima berkas dengan tanggal kembali ke Kantor Capil tertera 04 Maret 2020. Menurut si mbak petugas, blanko E-KTP sedang kosong. Tapi yak kok, harus 4 bulan banget gitu baru bisa punya E-KTP fisik? alamaaakk…

Sudah kadung jauh-jauh datang dan ujung-ujungnya belum bisa punya E-KTP, akhirnya aku minta pembuatan Surket yang baru. Itupun masih harus nunggu lagi setelah jam makan siang. Good grief. Kami keluar dari gedung dan cari tempat makan yang kebetulan cuma menyediakan pecel lontong dan mie ayam. Aish, keselnya. Aku pun cerita, iseng-iseng curhat colongan sama penjual minuman disitu.

“Gimana ini, bang. Masa’ saya mesti bolak-balik lagi buat ngurus KTP. Mending kalo ga jauh.”
“Memang si mbak dari mana?”
“Unit 3, bang.”
“Jauhnyaa.. Itu mah harusnya kasih uang aja mbak. Ga rugi kok kasih cepek, yang penting beres. saya aja yang rumahnya depan sini mending kasih uang, ga tahan repot.”
“Iya nih, bang. Bisa kasih solusi ga nih, yang penting E-KTP saya keurus nih. Mau dipake buat ngelamar kerja masalahnya.”
“Oo.. saya punya sih kenalan orang dalem di sini. Tapi mau teleponnya ga ada pulsa.”

Hehe, modal dulu lah ini ceritanya. Berhubung aku juga jualan pulsa via Payfazz, kuisikan pulsanya ceban itung-itung sebagai komisi. Lalu dia telpon orang yang katanya kenalan “orang dalam”, lari ke arah gedung dan masuk ke dalam. Mungkin ada sekitar 5-10 menit belum keluar. Sebenarnya, aku sudah ga berasa semangat lagi setelah liat tanggal di blanko tanda terima berkasnya tadi. Tapi karena kita hidup selalu dengan kata “Siapa tahu”, teteeeuupp di hati masih ngarep juga kalau-kalau berhasil.

Balik dari gedung, si abang itu kemudian melapor;
“Gini mbak, memang kalau mau buat E-KTPnya sekarang belum bisa karena blankonya sedang kosong. Saran saya sih coba mba cari dulu aja E-KTP yang lama di balai desa atau di Di Kantor camat. Ini sih yang ngomong yang bagian komputernya.”

Sebelum cari tempat makan, aku sama bapak juga sudah sempat menghubungi salah satu aparat desa kami untuk menanyakan perihal E-KTP tahun 2012 yang sampai sekarang masih belum aku terima. Padahal aku dan bapak melakukan perekaman E-KTP di hari dan tempat yang sama, tapi justru cuma E-KTP bapak yang sukses mendarat di tangan pemiliknya. Jawabanya malah disuruh ke balai desa aja untuk buat surat kehilangan E-KTP dan balik lagi ke kantor Capil. Buset dah. Otomatis kesimpulannya E-KTPku memang dari awal sudah tidak ada di balai desa dan kemungkinan memang tidak ada pula di Kantor Kecamatan. Dari tahun 2013 sampai 2018 aku cuma pegang KTP non-elektrik dan memang selama tahun 2012 juga memang tidak ada info apa-apa mengenai E-KTP tersebut. Lantas, kenapa kemana rimbanya tuh piece of plastic? Ada duitnya kah sampai hilang di gondol tuyul? Atau punya ilmu tertentu? Hanya menjadi sebuah misteri. Tapi inilah kenyataan sistem kependudukan Indonesia yang katanya canggih tapi berputar-putar. Tahun 2012 waktu itu, aku masih inget banget gimana alotnya proses perekaman E-KTP sampai harus nunggu dari pagi hingga menjelang sore. Petugas Disdukcapilnya pun datang ketika siang hari dimana orang-orang sebenarnya sudah bolak-balik pulang ke rumah lalu nongol lagi di balai desa. Dengan sejarah yang panjang begitu, siapa yang tahan harus nunggu berbulan-bulan lagi untuk bisa diakui sebagai warga negara Indonesia?

Alhamdulillahnya, Surket bisa dicetak dan aku terima pas pukul 1 siang. Keluar dari Mall Pelayanan Masyarakat, kami cari rumah makan untuk isi perut dan beristirahat sejenak. Meski hasil hari ini jauh dari kata puas, setidaknya aku punya surat identitas sementara sampai 6 bulan kedepan. Awalnya sih mikir gitu. Sampai ke rumah, iseng-iseng aku search di google dengan keyword “Keluhan soal E-KTP” untuk cari info lebih lanjut soal pencetakan dsb. Dari situ, ketemulah nomor whatsapp Ombudsman RI dimana kita bisa mengeluhkan soal E-KTP. Dari sini, mungkin aparat Kantor Disdukcapil daerahku sudah bisa mengetahui siapa yang menghubungi Ombudsman. Tapi jujur, alasan aku menghubungi Ombudsman bukan untuk asal ngelapor karena kesal, tapi aku benar-benar butuh E-KTP tersebut dan tidak tahu harus dengan cara apa lagi harus mengurusnya supaya bisa benar-benar menerima KTP fisik. Coba bayangin, 7 tahun ga punya E-KTP, ngurus apa-apa ga bisa. Bahkan ngelamar kerja saja sudah susah. Yang ngeselin itu saat pihak Ombudsman sedang melakukan konfirmasi ke instansinya, aku sempet dibilangin begini, “Memang E-KTPnya untuk apa mbak, kan sudah ada Surketnya. Toh sama saja.”

I wasn’t really sure if the question was said as a form of curiousity or just for the sake of talking, but I seriously wanted to tell whoever it was at the opposite side of this convo with, “WELL, DUH.” Like, how could you ask someone why they need an ID card? Terlepas dari surketnya yang punya masa berlaku 6 bulan, kepentingan punya E-KTP fisik dengan masa berlaku seumur hidup kan bakalan lebih diprioritaskan. Tapi ya udahlah yaaa… Seharian udah capek mikir keras plus waktu dan tenaga yang sudah terbuang demi E-KTP kalo masih emosi juga kan ga lucu. Setidaknya, setelah menghubungi pihak Ombudsman ada sedikit titik terang kalau aku tetep bisa punya E-KTP baru asalkan dateng sesuai tanggal yang tertera di blanko tanda terima berkasku. Okelah. End of discussion. Mungkin ridha Allah buatku diakui bener-bener jadi penduduk Indonesia masih kepending kali ya? Hihi..

Intinya dari pengalamanku mengurus E-KTP ini adalah, selama kalian para kawula muda masih berjiwa muda dan emang masih muda beneran (maksudnya yaa.. baru lulus sekolah gituu.. ) Uruslah cepet-cepet E-KTP kalian sebelum blankonya habis. Karena diurus buru-buru atau lambat-lambat pun, aku juga ga tau kenapa itu si blanko selalu statusnya kosong melulu. Setiap tahun selalu ada anak berulang tahun ke 17, itung aja berapa puluh ribu orang yang butuh kartu identitas setelah lulus sekolah. Mungkin mereka nganggur dulu? Atau pakai kartu pelajar aja kemana-mana? I don’t know. But they’re still young though. Kalo ada apa-apa ya masih maklum larinya ke orang tua. Lah, yang 28 tahun ini? Bisa gitu ngedekem di rumah ga kerja dan ga punya E-KTP? Coba aja try being me. Coba, cobaaaaaaaa!!!!!

*Jeritan hati yang keras, tapi dalam hati sih*

Rasisme di Indonesia itu Rahasia Umum, Lho

Sebelumnya, seperti post yang pernah aku buat jauuuuhhh sebelum ini (Dan masih ada kaitan yang sama dengan topik SARA), perlu dicatat bahwa aku sama sekali ga berniat membahas topik seperti ini sebagai pancingan emosi atau provokasi. Jujur aja, hal-hal berbau SARA jadi salah satu topik yang paling aku hindari karena latar belakang keluargaku yang berasal dari komunitas agama dan budaya yang berbeda. Sampai sekarang pun kalau ngebahas orang tuaku yang satunya bersuku Lampung dan lainnya Bali, masih suka di tanya lagi dengan pertanyaan yang lebih kepo; “Terus ibunya Islam, kan?”, “Terus agama kamu apa?”, “Loh, orang Lampung toh, tapi kok kulitnya Hitam?” Dan sekawan-kawannya. Terkadang aku heran sendiri, kok orang lain bisa sampe segitunya ngasih pertanyaan ngeselin begitu kalo aku cerita soal background keluargaku. Bahkan dulu waktu awal kerja, karena warna kulitku gelap banget dan rambutku keriting sampai disangka orang Papua. Udah kenyang banget sebenarnya denger pertanyaan semacam ini dari kecil, tapi lama-lama kepingin curhat juga. Apalagi kemarin-kemarin sempet viral soal Rasisme yang berkaitan dengan Masyarakat Papua. Dari sini aja kita bisa nilai donk, bahwasanya Indonesia yang digadang-gadang negeri Bhineka Tunggal Ika yang menghargai perbedaan aslinya lekat dengan Rasisme?

I don’t know why people are so into white Skin and straight hair and perfect body shape, like, cuma karena beberapa komunitas suku tertentu lebih dominan dengan warna kulit dan postur tubuh tertentu bukan berarti mereka punya alasan untuk ngejudge orang lain yang perawakannya berbeda dengan dia atau komunitas tersebut. Like me, for example, cuma karena warna kulit aku gelap, bibir aku tebal dan rambutku keriting, hampir 50% orang di tempat kerjaku dulu selalu mengaitkan itu semua ke daerah Timur Indonesia. Oo ya tapi tentu aja, aku ga punya masalah apa-apa sih sama orang Indonesia timur. Toh kita punya sejumlah nama penyanyi Indonesia dari tanah Timur yang suaranya bikin Iri. Rambut mereka keriting? Kulit Mereka Gelap? I’m sorry deh, tapi kalo kamu masih demen denger lagu-lagu internasional berarti bego banget kalo sampe ngejudge warna kulit dan penampilan. Cuma ya sebel aja, memangnya kenapa kalau aku punya perawakan tubuh yang begini? Ada masalahnya?

Orang Indonesia selalu bangga banget dengan keberagamannya, selalu antusias kalau ada orang sebangsa dan setanah air sukses secara Internasional terus heboh bilang, “Dia sudah bawa nama Indonesia, kebangsaan Bangsa.” But actually, nilai kebangsaan kita udah jauh banget bergeser dari yang seharusnya kita junjung. Ini juga ngaruh ke masalah keagamaan lho, karena sekarang ini semakin banyak perdebatan agama yang muncul sampai kasusnya membesar seperti balon yang nunggu di tusuk pake jarum. Komunitas internasional sebenarnya sudah familiar dengan tagline milenium Indonesia “Negara penuh kontroversi SARA”, tapi kita justru gembar-gembornya penuh semangat. Makanya aku suka ketawa, kalau ada masalah di negara lain semua pasang aksi bersimpati. Terus masalah kita sendiri, gimana ngelarinnya?

Baru-baru ini aku sering nonton video di channel Asian Boss yang ngebahas topik-topik soal Indonesia. Netizennya banyak yang komen, “Kok bahasannya soal agama lagi?”, “Kok bahasnya soal hijab lagi?”. Aku malah ngerasa aneh sama pertanyaan mereka, wong Itu bukan salah crew Asian Bossnya lho padahal. Orang Indonesia sendirilah yang membuat negaranya selalu panas soal perdebatan agama. Pengalamanku pribadi udah jadi contoh paling kongkrit, karena pertanyaan “Tapi Ibunya Islam, kan?” Udah aku dengar dari kecil tanpa absen. Padahal emangnya kenapa kalau Ibu aku non-muslim, salah? Mainnya pada kurang jauh nih berarti ya.

Pada akhirnya, apakah kasus-kasus seperti yang terjadi di Papua itu bakal jadi yang terakhir? Jawabannya; none in the million years. Lebih baik pikirin agenda terbesar buat bangsa kita supaya belajar untuk menyampaikan sesuatu yang proper di tempat dan waktu yang proper pula. Kalo ga suka penampilan orang lain, liat dulu diri anda di kaca yang gede. Emang anda itu lebih baik? Inget aja, dari 5 jari di tangan cuma 1 biji yang dipake buat nunjuk ke orang. Jangan lupa arah 4 jari yang disimpen, bukannya justru nunjuk ke diri sendiri? Jadi kalo kamu nunjuk seseorang Hitam, jelek dkk pake 1 jari, 4 jari lainnya sebenarnya nunjuk ke diri kamu sendiri lho. Yakin mau bully orang terus? Indonesia itu bukan cuma diisi sama cewek ala Korea yang putih kayak susu atau Oppa ganteng yang mukanya licin sampe nyamuk pun kepeleset. Indonesia juga bukan cuma hunian khusus kaum Muslim sampe ada ritual keagamaan lain harus tergeser dan terasing. Back to those thousand years before Islam came to Indonesia, Nusantara masih menganut paham animisme yang tradisinya masih lestari tuh sampe sekarang. Rasisme di Indonesia itu terlalu biasa sampai kita sendiri ga pernah sadar bahwa hal ini adalah sebuah masalah besar. Pokoknya, mengharapkan Indonesia jauh dari kata Rasisme itu seperti ngarep kena amnesia attack kalo ketemu mantan; close to impossible.

Purbasari Ultra-Smooth Brow Liner, How is it?

Kayaknya aku musti nyetop belanja makeup online deh.. tapi akhir-akhir ini emang rasanya guateeelll banget kepingin nyoba makeup product yang belum pernah aku jamah sebelumnya. Seperti Purbasari Ultra-Smooth Brow liner ini yang denger-denger dirilis Oktober 2018 lalu, bikin penasaran aja pas nongol di recommended list toko yang aku follow di Lazada. Sempet berhari-hari galau mau beli apa kagak coz pensil alis Wardah yang biasa aku pake juga masih utuh gitu, tapi terlalu tergoda ngeliat packagingnya. Yowes, aku beli aja barengan sama Emina Sun protection cream SPF 30 karena kebetulan kepingin beli sunscreen.

Dibungkus kotak karton glossy dengan beberapa keterangan seperti shade color, ingredients dan cara pemakaian, aku pilih warna soft black soalnya rada takut yang coklatnya ga nyatu sama warna alis aku. Lagian kalo pake warna hitam kan emang sesuai aja sama warna rambut asli, ngapain pake coklat segala. Pertama kali aku keluarin produknya dari kotak, yang terpikir “Wuidih panjang amat?!” Karena ada tambahan spoolie di opposite side pensil alisnya, jadi keliatan panjang. Well… Untuk ukuran harga Rp 35.000-an ke atas (harga online) udah termasuk murah kan tuh? Spoolie-nya juga lembut dan lumayan enak dipake buat ngeblend pensil alis. Sedangkan eyebrow linernya sendiri berupa automatic pen yang cukup diputer langsung keluar pensil alis berbentuk segitiga. Agak beda ya sama automatic brow pencil yang biasa aku liat kayak punya Mustika Ratu atau Maybelline. Tapi nilai plusnya adalah doski murah beud dan kemasannya badai kayak mahalan punya.

Seperti khasnya Purbasari, kemasannya pasti kalo ga hitam ya putih. Yang ini kebetulan kemasannya berwarna hitam glossy dengan label Purbasari berwana keemasan (label jenis produk ditulis pake warna putih) dan ada keterangan tanggal kadaluarsanya juga. Walaupun aku ga tau apakah browliner ini bakal jadi item favorit atau kagak, kayaknya kalo masuk pouch makeup rada-rada nambah gengsi ya bok wkwkwkwk πŸ˜‚πŸ˜‚. Kayaknya juga ni pensil alis masuk ke seri Hydra Purbasari yang juga mengeluarkan produk compact powder dan BB cream. Aku belum tau berapa banyak jumlah produk yang termasuk ke dalam seri Hydra ini, tapi kalo pensil alisnya udah sebagus ini mungkin produk yang lain worth buat di coba.

Ga ada masalah berarti sih pas pengaplikasiannya, tapi masih termasuk susah menurut aku. Mungkin karena udah biasa pake pensil alis konvensional yang runcing kayak bambu para pejuang 45 (beh edan!) Makanya berasa kurang nyaman dengan bentuknya yang segitiga. Masalah intensitas warna sih tergantung pemakaian masing-masing ya, tapi warna soft blacknya ga sampe bikin merong kayak pake arang kalo diaplikasiin pelan-pelan. Ada yang bilang katanya ada ashy color di warna soft black ini tapi aku ga nangkep tuh, cuma kalo pada seneng makeup natural mungkin doi bisa jadi pilihan yang bagus. Kemarin sempet aku coba pake karena harus pergi ke Bank ngambil uang (di daerahku ga ada ATM 24 jam untuk BCA), masih harus dibantu pake pensil alis Wardah biar dapet presisi yang HQQ. Kayaknya kalo buat aku lebih cocok ni pensil alis dipake buat ngisi arsiran daripada ngebingkai, Soalnya ga gampang ngegumpal kayak si Wardah.

Warnanya kurang keluar kalau di foto, tapi cocok dipakai harian karena ga merong.

Aku kurang tau berapa kisaran harganya kalo di Toko, soalnya belum pernah cari produk Purbasari di toko atau pasar. (waktu kerja juga ga pernah make Purbasari sih). Kesimpulanku untuk produk ini;

Yang aku suka;
1. Tampilannya bagus kayak bukan produk lokal. Personally aku suka dengan tampilan produk yang ga neko-neko kayak gitu, kesannya berasa “Mahal” kan yah.
2. Untuk ukuran automatic eyebrow liner, menurutku kualitasnya bagus dan harganya murah. Kalo pake pensil alis Wardah kadang bikin sebel sama teksturnya yang gampang menggumpal, tapi Purbasari brow liner ini ga separah si Wardah. Masih enakan lah kalo diblend dan karena blendernya berupa spoolie yang lumayan lembut jadi makin puas sama produk ini.
3. Warnanya ga merong jadi kesannya natural. Cuma kayaknya jadi tricky kalo mau bikin yang agak tebelan. It’s ok sih sebenarnya, sekarang ini aku lagi kepingin pake alis yang ga terlalu merong biar makeupnya ga sangar-sangar amat.
4. Praktis karena ga perlu di raut kayak pensil alis biasa dan ga ada bau kayu yang menyengat. Kayaknya ini memang nilai plus dari semua automatic brow liner yang pernah ada.

Yang ga aku suka;
1. Kayaknya ni pensil alis masih termasuk produk yang jarang ada di pasaran. Walaupun aku belun survey ke pasaran, tapi sebenarnya produk-produk seperti Sariayu, Mustika Ratu atau Purbasari itu jarang banget bisa aku temuin di daerahku karena semua toko kosmetik rata-rata didominasi sama produk Wardah dan Pixy. Well… Aku tetap harus sabar kalo mau repurchase karena bisanya cuma lewat online.
2. Perlu penyesuaian untuk menggunakan automatic brow liner kayak gini. Aku baru bener-bener ngerasa nyaman makenya setelah beberapa kali pengaplikasian. Terus, harusnya sih bentukannya jangan segitiga gitu sih.. kalo bisa seharusnya lebih pipih atau sekalian bulet kayak eyeliner. Mungkin buat ngebedain kali ya.
3. Isinya ga sebanyak pensil alis biasa kurasa. Yahh… Udah wajar sih.

Apakah aku bakal repurchase? Sure, tapi kalo emang perlu – perlu banget. Gimana yak, mesti beli via online tuh rada ribet dan makan waktu deh. Dan aku masih punya pensil alis Wardah yang utuh juga jadi agak sayang kalo ga kepake. Tunggu abis dulu kali yah hahaha.

Sariayu Putih Langsat Peel Off Mask

Akh… Akhirnya aku punya bahan buat review masker. Sebelumnya cuma muter – muter di masker alami dari endapan air beras sama madu+kopi aja, sekarang aku bisa ngeshare mainan baru. And as always, Sariayu emang brand paporit akyu deh.. aku ga tau lho kalo Sariayu ada peeling mask yang modelnya gel transparan. Biasanya kalo beli produk dari Brand ibu pertiwi ini palingan pensil alis, eyeshadow tricolor sama 3 in 1 cleansernya. Dulu pas masih jaman lipstik mini Sariayu meraja lela pasti ga bakal ketinggalan buat nyetok, eh.. sekarang udah ga ada. Duduhh rasanya sedikit excited buat ngeshare ni produk hehehe…

Sariayu Peel of mask Putih Langsat ini konsistensinya berupa gel yang lebih cenderung keruh ketimbang transparan dan lebih cair dari yang terlihat. Dibilang lengket banget sih ga segitunya, tapi kalo nempel di rambut emang susah banget buat dibersihin. Kalo diaplikasiin di muka sedikit kerasa sensasi dingin, dan di mukaku entah kenapa pasti ada rasa sedikit perih setelah dinginnya hilang. Tapi ga seperti peeling mask lain yang pernah aku coba (you know lah yang warnanya hitam itutuhh), ngaplikasiin di muka gampang banget dan ga seberat yang aku kira. Pake jari aja juga ga masalah (tapi jarinya harus bersih yahh) dan mukaku fine – fine aja setelah rasa perihnya hilang. Pas kering juga ga narik banget ke kulit jadi gampang aja buat peeling maskernya, dan ga perlu dibilas lagi setelahnya. Kalo lagi maskeran pake peeling mask ini selain ga malu dikira pake topeng juga ga bikin susah ngomong. Biasanya aku maskeran pas lagi jaga warung siang di siang hari dan happy ajah karena ga bakal ngagetin orang. Cara pakainya; tinggal diratakan ke seluruh wajah yang sudah dibersihkan dan diamkan selama 10-15 menit. Kalau sudah mengering tinggal ditarik aja dari kulit, dan seperti yang aku sebutkan tadi, penarikan masker dari muka ga bakal bikin muka perih karena dasarnya ga kenceng-kenceng banget nempel di kulit.

Claim dari Sariayu Peeling Mask ini yaitu;

Masker Peel Off yang praktis digunakan tanpa perlu dibilas. Mampu mengangkat kotoran dan sel kulit mati, menjadikan kulit bersih, segar, dan lembut. Ekstrak buah Langsat, ekstrak bunga Hibiscus, Vitamin C, dan provitamin B5 membantu melembapkan dan membuat kulit wajah tampak lebih cerah.

Wangi Peel off masknya kayaknya kecampur sama bau alkohol yang menyengat, tapi untungnya di aku sih ga begitu bikin risih. Dikemas dengan tube berwarna hijau seberat 75g, dapetnya lumayan lho untuk harga di bawah 30ribuan perak. Pas masih baru biasanya masih ada segel di dalam lubang tube, beneran aman dan higienis kalo kebetulan kalian belinya via online shopping. Harganya juga murah lho, sekitar Rp 26.000,- dan mungkin di tempat lain juga ga nyampe angka 40ribuan. Yang bikin susah cuma tempat nyarinya, kecuali kalau langsung dateng ke konter kosmetik khusus Sariayu. Kayaknya aku pernah sekali liat masker ini di Chandra Superstore (Bandar Lampung), cuma sebelumnya ga pernah tertarik beli dan saat itu aku juga ga begitu suka maskeran. Agak nyesel juga kenapa ga mau nyoba hahaha πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.

Yang aku suka dari Sariayu Peel Off mask :
1. Kemasannya praktis, higienis dan jelas aman karena ada segel foil di dalam lubang tube. Jadi bisa tahu barang yang dibeli masih beneran baru atau udah kena sentuh tangan ga bertanggung jawab.
2. Makenya gampang dan ga ribet. Bisa diatur berapa banyak gel yang harus dipake dan bisa diaplikasikan dengan jari.
3. Ga terlalu narik banget ke kulit jadi mau dipake setebel apapun ya jadi aja.
4. Ga berwarna; konsistensinya kan gel transparan jadi pas maskeran ga bakal menarik perhatian orang.
5. Setelah maskeran kulit kerasa kenyal dan lembut banget. Ga bikin kering atau kerasa perih setelah maskernya dilepas.

Yang ga aku suka :
1. Kalau kondisi lagi panas banget atau dengan kondisi kulit aku yang gampang berkeringat, sebenanya butuh lebih dari 10-15 menit (waktu yang diperkirakan) supaya maskernya mengering. Malahan aku sampe harus pake bantuan kipas angin karena susah banget buat keringnya. Yang jelas kalo buat yang kondisi kulitnya gampang berkeringat kayak aku mendingan pilih waktu malam hari aja untuk pake masker ini.
2. Baunya cukup strong karena kecampur antara bau bahan herbal sama alkoholnya. Untuk orang yang ga suka bau produk yang strong mungkin ga nyaman dengan masker ini. Untungnya untuk aku yang biasanya sensitif sama bau produk yang menyengat, make Sariayu Peel off mask fine-fine aja.
3. Agak susah ngebersihin sisa produk yang nempel, terutama kalo nempelnya di rambut.

Well.. masalah repurchase sih belum tau ya, sejauh ini aku suka sama masker dari rangkaian ‘Putih Langsat’ Sariayu ini. Cuma masih kepingin nyoba jenis masker yang lain biar tau mana yang paling cocok untuk kupakai. Akhir-akhir ini juga karena lebih sering make sleeping mask dari Viva makanya masih lumayan banyak. Tapi menurutku masker ini cocok banget dipake sebelum makeupan, karena jatohnya bikin muka lebih bersih dan ga terlalu berminyak which is enak banget sebagai starter buat dandan.

Nyobain Micellar Water Dari Ovale

Aduduuhhh… Setelah ngalamin debat hati apakah harus ngereview ni produk, secara kalo lagi-lagi nulis tentang kosmetik dan skincare rasanya masih awam banget soal ginian. Berasa ga pede gimana gituh.. tapi daque ga tahan syekali mantemans kalo lagi banyak ide ngeblog kayak gini. Yagapapalahyah biar ga nganggur-nganggur amat heheheheee… πŸ˜‹ Lagian aku emang kepingin ngereview juga kesanku setelah pake micellar water, perasaan kok ni aer viral amat yak di kalangan MUA dan beauty blogger? Berdasarkan penjabaran dari blog tetangga, micellar water adalah pembersih wajah berbahan dasar air dengan teknologi micelle , kandungan di dalamnya membantu membersihkan wajah dengan cepat, juga mencerahkan wajah. Jadi ntar pigmentasi asli wajah kita kembali seperti semula, trus bisa glowing naturally. Kalo mau yang putih instant jangan ngarep dapet dari sini yah, emang ketok mejik kali’ yaa hahahaha πŸ˜‚.

Mohon abaikan backgroundnya πŸ˜‚

Anyway, di postingan sebelumnya yang nyebutin list produk sehabis shopping di toko kosmetik langganan dan di Alfamart, aku nulis kalo Ovale micellar water punya formula yang lebih menyenangkan ketimbang Ovale Facial Lotion karena ga bikin ngeringis gegara perih di kulit. Ovale facial lotion sendiri emang udah jadi pembersih muka paling pertama yang aku coba sejaman SMP karena waktu itu sok ikut-ikut mamak ngebiasain skincare routine tiap malem. Itu tuh lagi masa-masanya Ovale ngetren banget sampe Mamak rada obsessed gegara efeknya emang bikin muka kinclong kayak pantat panci yang masih baru. Tapi perihnya kagak nahan bokkk untuk ukuran anak SMP kayak aku. Makenya juga cuma sebentar sih, kayaknya hitungan beberapa bulan gitu dan akhirnya pindah ke Ponds cleanser yang ada minyaknya itu loh (biasanya kalo belom dikocok kan minyaknya ada di atas air cleanser dan ada varian pink sama hijau). So I kinda have a love and hate relationship with Ovale, dan hampir ngira micellar waternya bakal ngasih efek yang sama. Cuman waktu mau belinya juga ga ada niatan sama sekali sih, wong tadinya mau nyari Sari Ayu 3 in 1 cleanser. Untungnya walaupun ga sengaja beli, it turns out well somehow karena sampe sekarang aku ga punya permasalahan berarti setelah pake produk ini. Not that special, but not that bad lah.

Penjelasan dan ingredients.

Ovale micellar water punya 2 varian hijau dan pink, tapi aku dapetnya yang pink karena yang dijual cuma itu doank 😁. Setahu aku kalo yang warna hijau itu khusus buat yang berjerawat, sementara kulit aku bertipe normal cenderung berminyak. Seperti pembersih muka dengan brightening effect pada umumnya, sehabis bersihin makeup muka berasa kinclong abezz. Ga bikin muka kaku kayak kanebo kering juga sih, jauh lebih ringan dibanding after using Ovale facial lotion. Tapi karena aku udah jarang banget makeupan dan lebih sering pake Viva Air Mawar jadi ga tau juga tuh ngaruh apa kagak efek brighteningnya. Micellar water ini juga mengandung ekstrak magnolia dan kalo kalian ga familiar dengan nama bunga ini, FYI ‘Magnolia’ itu nama lain dari ‘cempaka’ (baru tau juga aku). Menurut para penelitian yang dilakukan oleh peneliti jepang menemukan bahwa magnolia mengandung zat kimia yang dinamakan dengan β€œHonokiol” serta β€œmagnolol”. Aplikasi efek magnolol dan honokiol dapat berkhasiat 1000 kali lebih besar dibanding Vitamin E sebagai antioksidan. Selain itu manfaat lainnya adalah dapat digunakan sebagai obat antiinflamasi, antibakteri, anti tumor.

Pic taken from Google

Seperti yang bisa kalian liat di foto, untuk ngebersihin makeupku yang cuma pake Wardah BB cream sama Purbasari Loose powder aku perlu 3 kapas bolak-balik dan pas dilanjut pake Viva air mawar juga masih ada sisa makeup yang keangkat. Jadi kemampuannya menurut aku ga istimewa banget. Palingan lebih cepet bersih aja ketimbang waktu pake Sari Ayu 3 in 1 cleanser, sekali usep bisa ngangkat cukup banyak kotoran. Mungkin kalo untuk makeup yang lebih berat dan full ini itu bisa ngabisin sekitar 4-5 kapas bolak-balik.

Bagian yg mengkilat itu adalah kondisi setelah sekali usap dengan Ovale Micellar Water

Ada salah satu review dari beauty vlogger yang nyebutin kalo Ovale Micellar Water ini pas di tuang ke kapas tuh berasa terlalu basah, tapi aku sih ga terlalu peduli sama hal gituan karena hal yang sama juga terjadi kalo aku lagi pake toner air mawar Viva. Untungnya micellar water yang satu ini ga punya bau yang terlalu menyengat, again not like its sister si Ovale Facial lotion. Pokoknya aku cukup apresiatif sama Ovale yang akhirnya mengeluarkan produk micellar water karena dulu saking takutnya sama Ovale aku kayak kesel gitu setiap liat ni produk dipajang di etalase. Review-review para blog tetangga bilangnya itu ‘sensasi rasa menthol yang seger’. Oh-em-ji kalo itu dibilang seger aku harus gimanah kakakkk??? πŸ˜‚ Harganya masih terbilang mahal untuk ukuran pembersih muka, tapi affordable lah kalo di bandingin sama harga makeup remover yang dapetnya dikiiiitt banget dengan harga yang sama atau bahkan lebih mahal. Apalagi makeup remover kan ada minyaknya dan aku lumayan males mau nyoba lagi produk yang banyak mengandung minyak.

Yang aku suka dari Ovale Brightening micellar cleansing water;
1. Formulanya lebih bersahabat kalo dibandingin sama pendahulunya, Ovale Facial Lotion.
2. Ga berbau menyengat, lumayan cepet ngangkat kotoran tapi masih butuh sekitar 3-4 kapas. Cuman lebih enak dibanding pembersih yang biasa aku pake (Sari Ayu 3 in 1 cleanser)
3. Termasuk gampang dicari karena bisa didapat di drugstore (aku dapetnya di Alfamart)
4. Karena hypoallergenic dan dermatologically-tested, jadi aman dipake ke daerah yang sensitif kayak bagian mata dan bibir. Dan pas aku apply juga ga bikin mata perih sih, jadi cukup terbukti klaimnya.

Yang ga aku suka;
1. Mungkin untuk jajaran micellar water yang sama, Ovale micellar water ini ngasih harga yang relatif murah (Rp 32.000,- untuk 200 ML jadi masih terjangkau lah). Tapi kalo buat aku masih mahal karena udah terbiasa pake Sari Ayu 3 in 1 cleanser yang selisih harganya 10-12rban. Trus, sekarang udah jarang juga kan makeupan jadi terbilang mubadzir kalo mau beli pembersih muka seharga segitu.
2. Kemampuannya ga istimewa-istimewa banget jadi belum tersugesti buat repurchase. Masih cukup standard sebagai pembersih muka.

Bandrolannya mungkin beda-beda tergantung dari tempat doi di beli dan sampe sekarang masih lumayan penuh soalnya jarang dipake. Bolehlah yaa sebagai micellar water pertama ga bikin aku kapok nyoba micellar water lagi. Tapi mungkin lain waktu aku bakal coba dari brand lainnya supaya bisa ngasih review yang lebih akurat mengenai produk ini. Doain aja dapet duit segepok yee wkwkwk πŸ˜‚.

Bukit Sakura Lampung, Nuansa Jepang di Bumi Tapis Berseri

Ga nyangka bisa bikin 4 postingan di awal bulan, terharu sekalihhh *banjir air mata. Udah lama banget aku ga seproduktif ini yah hehehehe… btw beberapa kali aku ketemu liputan tentang keindahan bunga yang mirip Sakura di Surabaya. Menurut si empunya cerita sih saking indahnya jadi ga perlu jauh-jauh lagi ke Jepang pas musim semi buat liat Sakura mekar. Aduhh akuh yang suka jejepangan ini jadi ingin sekali liat Sakura lagi kayak waktu ke Bukit Sakura Lampung. Hahaha 😜😜

Salah satu spot selfienya

Trademark Bukit Sakura dengan lampu neon.

Ada yang sudah pernah ke Bukit Sakura di daerah Langkapura, Tanjung Karang, Bandar Lampung? Dari Teluk Betung cuma makan waktu 20-30 menit aja untuk sampai ke lokasi wisata ini yang lumayan tinggi letaknya, karena waktu kesana bareng teman-teman ternyata harus masuk dulu ke dalam daerah yang rimbun dengan pepohonan. Wajar sih ya makanya dikasih nama Bukit, dari area parkir hingga masuk ke Bukit Sakuranya lumayan bikin ngos-ngosan kalo ditempuh dengan jakil alias jalan sikil πŸ˜‚. Tapi jalan masuk ke lokasi masih sangat jauh lebih mudah ketimbang waktu ke Muncak Tirtayasa di Lempasing, Teluk Betung Selatan. Dan karena masih rada-rada viral di antara para warga lokal sekitaran Bandar Lampung makanya lumayan gampang untuk pesen transportasi online seperti Grab/Gojek buat kalian yang ga punya kendaraan pribadi. Dua kali aku ke Bukit Sakura perjalanannya via GrabCar dan biayanya sekitar Rp 30,000-35,000 kalo ga salah. Tapi harganya beda-beda yah tergantung dari posisi jemputnya. Jadi silahkan pilih tempat lokasi yang lumayan deket kalo mau ngurangin tarif taksi onlinenya.

Area kafe dan rumah panggung.

Tadinya waktu pertama kali ke Bukit Sakura lumayan skeptis, beneran ga tuh ada Sakuranya? Tahu info soal tempat wisata ini juga pas ngeliat foto salah satu supervisor tempat kerja dulu yang pose pake hanbok sambil bersandar di pagar kayu. Nah, salah satu fasilitas yang disediakan layanan Bukit Sakura Kemiling adalah penyewaan baju tradisional Jepang dan Korea sebagai properti foto. Terakhir yang aku tahu, biaya sewanya sekitar Rp 25.000,- untuk Kimono dan Rp 35.000,- untuk hanboknya masing-masing per 30 menit. Tapi karena belum pernah coba buat nyewa jadi ga tau deh rasanya pake baju tradisional dari 2 negara di Asia Timur itu. Sebenarnya ga masalah sih, kalo mau dapetin foto yang sesuai dengan tema Jepang ya tinggal pake blouse atau dress potongan Kimono terus tinggal cari aja spot foto sama bunga Sakura yang diinginkan. Di sepanjang area Bukit Sakura Kemiling full sama pohon Sakura kok, walaupun ga serimbun yang kita liat di Drama Jepang sampe guedeee banget itu. Yahh namanya juga lokasi kekinian yang masih baru, jadi mungkin umur pohonnya juga masih muda banget. Tapi nuansa warna pink bunga Sakuranya bakal bikin kalian betah deh lama-lama disini, apalagi kalo suasanannya ga terlalu ramai dan anginnya masih bersahabat. Saran aja ya, kalo kesini mendingan bawa jaket atau pakai baju yang sedikit tebal, soalnya angin lumayan kencang jadi bawaannya dingin beud.

Suasana kafe dari bagian dalam.

Selain belasan pohon Sakura yang bisa kalian ajak jadi teman foto bareng (kalo ga punya pasangan πŸ˜‚), tersedia juga pondok-pondok kecil buat duduk santai, jembatan buatan plus balon udara sebagai dekorasi, area memanah dengan harga tiket Rp 20.000,- untuk kesempatan 4 kali memanah, outdoor cafe serta pertunjukan live music. Penyanyinya punya suara yang oke lho, jadi puas deh nongkrong disini. Aku kurang tau berapa kisaran harga makanan dan minuman yang dijual di cafenya, kayaknya sih sekitar Rp 10.000,- s/d Rp 25.000,-. Terus tiket masuk perorangnya juga rada lupa-lupa inget bayar berapa. Mungkin sekitar Rp 10.000 s/d Rp 30.000 tergantung kendaraan yang kalian pakai. Yaa pokoknya siapian aja budget agak banyakan biar ga malu gegara ga dibolehin masuk. Tapi barang bawaan ga ada yang dipungut biaya kok, jadi mau bawa bekal juga ga masalah.

Anyway, kalo dateng ke Bukit Sakura pas sore atau malam hari sebaiknya hati-hati ya. Terutama buat yang bawa motor mendingan ga usah pulang malem-malem banget soalnya lumayan gelap dan sepi. Kalo pulangnya ke arah Teluk Betung kan pasti tahu banget jalur jalannya ngelewatin Summit Bistro dan Bukit Mas yang sepinyaaa kayak ga ada kehidupan. Yang pake jasa transportasi online pun lebih baik pulangnya sebelum jam setengah 9 malem, coz kalo jam segitu udah susah mesen mobil/ojek. Sumpah ya, aku baru nyampe jam 11 malem gegara susah banget dapetin driver yang mau jemput ke Bukit Sakura Kemiling karena tujuan perjalanannya jauh dan waktu itu udah jam 9 malem. Itupun pake acara kena guyur hujan juga. Jadi sebaiknya hati-hati ya, mendingan berangkatnya serombongan aja kalo bisa biar pulangnya ntar konvoy atau pake mobil pribadi.

Kalo menurut aku sih lebih bagus ambil foto bunga Sakuranya pas menjelang sore, di mana matahari masih terang tapi ga bikin panas. Anginnya kan lumayan gede jadi kalo sore suasananya jadi adem. Yang aku suka dari tempat ini adalah pemandangan dari atas bukitnya yang bersih tanpa gedung tinggi. Kalo malam hari kelihatannya indah banget lho jadinya, soalnya yang keliatan kan cuma lampu-lampu dari hamparan kota yang jauh. Oh iya, kalo malam hari suasana bukit Sakura jadi penuh sama lampu neon warna-warni. Tapi jujurnya aku kurang suka karena jadi nutupin warna bunga sakuranya. After all, kalo ada yang kebetulan pengin liburan ke Lampung jangan lupa mampir ke sini yah.

(P.S. : Beberapa foto di atas aku ambil dari official Instagram accountnya Bukit Sakura Lampung dan hashtag #bukitsakurakemiling. Thanks buat teman-teman yang fotonya aku pinjam, semoga ga marah ya aku pajang-pajang disini hehehehe… Anyway, kalo ada yang mau bikin reservasi di sini bisa liat infonya di salah satu artikel blog yang aku dapet di Google.)

Loose Powder Perdana, Purbasari Daily Series Loose Powder

Pas mesen ni produk sebenarnya ga ngarep apa-apa sih, secara aku juga jarang banget gonta-ganti bedak. Biasanya mentok-mentok ke Two Way Cake lagi dan itupun dari Wardah. Masalahnya, gegara dicengokin seorang ibu tak dikenal waktu mampir ke Alfamart tempo hari, aku ngerasa mungkin sebaiknya sedikit ngerubah tampilan makeup menjadi ke arah yang natural. Padahal waktu itu setahuku pakenya cuma bedak, lipstik sama alis doank. Mascara aja tipis binggo kayak ga pake sama sekali 😌, Tapi diliatinnya beeeuuuhh kayak ada penganten lewat.. sampe diputer tuh badan. Tadinya mau beli Wardah loose powder aja, tapi karena Purbasari Daily Series Loose Powder ini di jual sama seller yang ngejual My Darling Eyeliner juga, ya udah mendingan sekalian aja itung-itung jadi pengalaman. Aku juga beli QL mascara bareng sama Purbasari dan My Darlingnya, totalnya Rp 101.800,- (udah sama ongkirnya Rp 15.300,-).

Dengan bandrolan harga Rp 26.000,- aku dapet 30 mg loose powder no. 01 (Natural). Aku ga tau sama sekali lho kalo kemasannya gede, toh juga selama ini ga pernah punya dan pake loose powder jadi rada sumringah gitu begitu terima paketnya dari kurir Lazada. Muwehehehe… Biasanya beli bedak udah abis gobanan aja tapi ini harganya 1/2 dari Wardah Exclusive TWC, gimana ga hepi coba?

Pas dibuka, wangi bedaknya bikin keinget sama Viva (iya ga sih? Atau aku aja yang ngerasa mirip?). Bau-bau produk lokal gitu lah pokoknya, susah dijelaskan hahaha.. pas aku coba dabbing sedikit di tangan ya so so aja sih, tapi belum expect apa-apa soalnya warna kulit punggung tangan sama muka kan kayak langit dan bumi lohh alias yaa ga bisa disamain.

(kiri) sebelum, (Kanan) sesudah.

Seperti yang bisa diliat di foto, permukaan punggung tangan aku emang buanyak luka sana-sini akibat nyamuk πŸ˜‚. Coveragenya biasa aja tuh, tapi lumayan lah buat menyamarkan bentuk-bentuk ga karuan dari bekas gigitan nyamuk yang ga banget itu. Jadi kalo pas muka lagi bopeng-bopeng seenggaknya masih lumayan cantique walaupun ga semua bisa tertutupi kan yah..

Eh.. tapi tapi tapiii aneh banget nih waktu aku aplikasiin ke muka, kok jadi berasa ada warna pinknya yak? Mata aku doank yang liat ato gimana sih? Ini padahal aku aplikasiinnya tipis kayak cuma ditepuk manjah gitu tapi warnanya berasa keputihan syekali sodarrrahh… 🀦🀦 Aku sampe takut aja loh beneran salah shade ato gimana gitu coz kan sayang yah beli onlen terus kebuang sia-sia. Apalagi karena udah kebiasaan sama two way cake dan BB powdernya Wardah yang full coverage, bawaannya masih gemes liat bekas-bekas jerawat yang masih keliatan semua. Namanya juga loose powder jadi ga bisa diharapkan kalo mau yang bener-bener nutup sempurna. Haishhh mana juga pakenya bukan buat pergi keluar jadi rada ga pede gini bokk… 🀦🀦🀦

Ini aku pakenya tanpa pelembab ataupun alas bedak jadi beneran ketahuan perbedaan antara kulit asli aku dengan hasil aplikasi powdernya. Soalnya waktu itu aku lagi jaga warung dan kebetulan cahaya matahari lagi bagus banget buat ambil foto yang jelas. Tadinya aku mau langsung hapus aja, tapi karena masih penasaran sama ketahanannya aku coba diemin sekitar 1 jam buat testing siapa tau warnanya jadi lebih nyatu sama kulit. Alhmadulillah loose powdernya lama-lama ngeset juga sama skintone aku. Berati ada kemungkinan bakalan oksidasi.

(Kiri) Saat pertama kali di aplikasikan, (Kanan) Setelah 1 jam

Ya ya ya mohon dimaafkan kalo ga pake lipstik yah. Tadinya aku mau beli liptint juga sekalian sama yang lain, tapi 3 barangnya udah diitung 1 Kg sama Lazada jadi kalo mau nambah itungannya jadi 2 Kg. Wadohhh rugi donk adek kalo mesti bayar ongkir 2 kilo buat 4 biji printilan doank. Selain itu aku juga males mau make lipstik karena bibir aku lagi kering kayak padang pasir. Jadi gapapalah sekali-kali liat diriqu yang aslinya tanpa beban apa adanya hihihi.. (perasaan dari tadi nulisnya banyakan haha hihi mulu yak gw??)

Yang aku suka dari Purbasari Daily Series Loose Powder;
1. Ga seberat pake TWC/BBpowder, jadi bawaannya ga panas-panas amat. Secara TWC/BBpowder kan nutup pori-pori sementara aku tuh orangnya gampang keringetan. Kesannya muka jadi lebih breathable.
2. Walaupun tekstur muka seperti pori-pori besar dan bekas jerawat cuma keliatan ngeblur dikit, tapi bagian muka yang ga ada masalah jadi keliatan smooth banget. Beneran ini mah. Terus biasanya kalo pake TWC/BBpowder udah biasa liat muka berminyak terutama di daerah pipi dan dahi, tapi kali ini mah ga parah-parah amat. Waewww kayak matte gitulah muka eikeh.
3. Aku make loose powdernya tanpa pelembab dan fondation. Ga geser, ga ilang-ilangan, ga berubah jadi bersisik karena berminyak. Kaget ih kaget.
4. Alhamdulillah sekali bisa lumayan nyatu sama warna kulit aku walaupun harus nunggu dulu lah beberapa saat.
5. Murah. Udah pokoknya murah. Fix ini mah.

Terus yang ga aku suka;
1. Gede banget kemasannya. Isinya emang banyak sih and I really appreciate that, tapi karena udah biasa sama TWC/BBpowder yang tipis kecil jadi berasa ribet. Apalagi powder harus di tuang dulu dari tempatnya dan berasa mubazdir kalo masih ada sisa. Aku pernah liat kemasan BLP loose powder yang dikasih sekat semacam kain kassa, jadi kalo mau ngeluarin powdernya tinggal di tekan aja. Kalo Purbasari bikin kemasan yang kayak gitu juga mungkin aku bakal pikirin lagi buat repurchase.
2. Baunya agak aneh, walaupun ga sengeselin itu tapi sedikit ngeganggu aja. Ya itu sih di aku yah, ga tau kalo orang lain.
3. Seharusnya biar lebih aman, kalo box loose powdernya ga dikasih plastik pembungkus minimal kemasan powdernya yang diseal. Jadi yang beli juga masih percaya kalo barangnya bener-bener perawan. Untungnya lubang sekatnya di kasih seal jadi produk yang aku beli itu masih beneran baru. Cuma yah.. bikin aku skeptis aja jadinya.
4. Ini kemasannya akrilik gitu kan yah? Takut pecah kalo jatoh.

Kesimpulannya, sebagai loose powder perdana yang aku punya yaa lumayan lah buat makeup harian. Sekarang aku lagi bener-bener kepingin ngurangin pemakaian makeup yang terlalu medhok jadi sebagai starter oke-oke aja sih. Perkara bakal repurchase atau ga, hmmm… Mesti mikir-mikir lagi karena ini baru percobaan pertama. Aku mau coba ke rencana awal yang kepingin beli Wardah loose powder, tapi kalo ga jadi mungkin aku bakal beli Purbasari tapi yang kuning langsat biar bisa liat mana yang lebih bagus di muka aku.

P. S. (15/12/18) : Setelah bikin post ini, aku akhirnya iseng cari review dari blog tetangga supaya bisa tau shade mana yang cocok kalo nanti mau repurchase. Beberapa dari yang aku baca bilang shade ‘Natural’ ini emang ada pink undertone-nya, jadi yang aku bilang mukaku berasa warna pink ternyata ga salah. Mata aku masih bener ternyata πŸ˜‚. Sayangnya sedikit banget blog yang ngereview shade ‘Sawo matang’ dan dari yang aku liat shade ‘Kuning Langsat’ juga kuning banget. Udah gitu, ada yang bilang shade ‘Sawo Matang’ juga bikin muka jadi abu-abu. Waohhhh susah syekali nyari yang cocok. Mungkin ada yang bisa kasih pencerahan?

Btw, ini hasilnya kalo pake Wardah Everyday BB cream dan di dalam ruangan. BB creamnya juga honestly bikin abu-abu di muka, jadi jarang banget aku pake. Malahan sebenarnya aku hampir ga pernah sama sekali pake foudation kecuali kalo ada acara penting, sekedar buat nambah coverage aja. Anyway, masih pink banget kan?