Jurnal Tentang Perubahan : Isi Tas

Keseharian dan Kebiasaan Yang Mempengaruhi Isi Tas..


Sebenarnya, sadar dengan isi tas yang menumpuk itu adalah hal yang biasa terjadi. Pas jaman sekolah dulu, tentu yang dibawa ya seputar buku dan alat tulis. Begitu masuk kuliah, bertambah jadi sedikit-sedikit harus bawa charger handphone dan earphone, atau laptop, atau USB drive berbagai ukuran besar daya penyimpanan. Lebih heboh lagi waktu masih bekerja di mall, segala perintilan makeup jadi satu dalam pouch lalu masuk ke dalam tas berikut dengan tissue pack, minyak kayu putih atau freshcare, parfum, kacamata, vitamin rambut, case lensa kontak, dompet dan tidak lupa handphone. Saking lengkapnya seisi tas selama kerja disana dulu, begitu kena musibah kejambretan ya hilang segala barang-barang penting. Tapi ya begitulah…. Live must go on kan?

Ketika Musibah Dan Pengalaman Membuat Kita Mulai berpikir..

Setelahnya, kejadian yang untungnya sampai saat ini cuma sekali terjadi (dan amit-amit jangan sampai kejadian lagi) bikin aku mikir lagi tentang apa yang sebenarnya harus dibawa ke dalam tas saat bepergian. Awalnya sih karena masih kebawa rasa paranoid, kemana-mana hampir nggak pernah bawa dompet atau pouch makeup. Uang juga cuma seperlunya aja, dan kadang smartphone ditinggal di kosan. Tapi yah, namanya juga cewek. Mana betah kalau isi tasnya nggak lengkap. Akhirnya kembali lagi deh miss bedak plus lipstik, miss kacamata ala kekinian, dan dompet yang gemuk diisi uang cash. Mikir sih mikir, penting banget harus dibawa? Tapi dasarnya sudah kebiasaan, tuman, kalau kata orang, akhirnya nyemplung dah isi barang-barang yang sama sepertiΒ  sebelumnya ke dalam tas. Yang katanya trauma jadi kembali lagi beraksi.

Kemudian, aku mencoba kerja di pasar lokal daerahku. Dapat kerjaan di toko grosir pakaian, yang punya kebetulan baik banget memperbolehkan aku tinggal di rumahnya. Selama 1,5 bulan bekerja disitu, ada 10 hal yang wajib aku bawa : Handphone, bedak, lipstik, pensil alis, sisir, kaca, lotion, parfum, dan mukena. Terakhir tinggal uang yang cuma sebagai pelengkap, karena makan minum sudah ditanggung bos. Di luar dari 10 barang itu, aku hampir nggak pernah bawa hal lain lagi. Anehnya justru nggak ada masalah, nggak merasa ada yang kurang. Dibanding dulu yang mungkin kerasa aneh kalau makeup nggak dibawa satu pouch lengkap, atau handphone tanpa earphone, vitamin rambut supaya rambut nggak berantakan kalau keluar rumah, dan bahkan tissue pack bisa beranak jadi dua atau tiga di dalam tas.

Awalnya aku nggak merasa hal ini penting dan cuma mencoba untuk go with the flow aja. Toh, kebiasaan kan ga bisa diubah dalam sekali atau dua kali tindakan. Kalau semisal aku dapet kerjaan di Retail lagi atau jenis kerjaan lain yang bakal harus bawa makeup lengkap, bisa jadi isi tasku bertumpuk seperti sebelumnya. Karena itu, belakangan ini aku berusaha banget untuk strict dengan kebiasaan baruku yang sekarang; menyederhanakan isi tas.

Kenapa Harus memilih dan Memilah Isi Tas Agar Sederhana?

Kalau ditanya kenapa, yaa jawabannya jelas. Karena seharusnya kita cuma bawa yang perlu aja kan? Kalau dipikir lagi, memang dari dulu juga sebenarnya makeup lengkap cuma diperlukan selama jam kerja. Selebihnya ya bebas, nggak perlu harus pakai makeup segitu full di luar jam kerja. Hanya aja, kebiasaan dan gaya hidup membuat segala sesuatu harus ada dan tersedia sehingga sulit memilah mana barang yang lebih penting untuk dibawa. Kenyataannya, isi tas jadi nggak pernah selaras dengan kebutuhan asli. Misalnya aja, sudah pakai softlens demi fashion masih juga bawa kacamata. Atau Lipstik yang rasanyarasanya nggak afdol kalau cuma punya 1 warna. Padahal, Isi tas sudah segitu seabreknya pun tetep harus pakai dompet yang modelnya besar biar macam orang berduit. Nah, jadi malu sendiri kalau ingat aku yang waktu itu.

Itulah kenapa aku rasa mengevaluasi dan menyederhanakan isi tas sendiri merupakan hal yang penting, supaya kita bisa menekan perilaku konsumtif dan bersikap lebih efisien. Sedikit – sedikit aja sih, pelan – pelan mulai mengeluarkan barang yang ga perlu dari dalam tas. Pilihan tas yang aku pake pun sekarang jauh lebih kecil dari yang selama ini biasa aku pake, biar lebih compact dan ga ribet. Jadi, sekarang ini list barang yang aku biasa bawa di dalam tas;

1. Bedak, lipstik, kaca.
Well, rasanya hampir mustahil kalau 3 benda ini nggak jadi benda wajib yang mesti di bawa. Tapi setidaknya aku bisa tahan untuk nggak bawa mascara, eyeliner dan pensil alis. Selain karena mascara dan eyeliner sudah jarang di pakai, pensil alis juga dirasa cukup kok dipakai sekali pas sebelum berangkat. Bedak dan lipstik juga aslinya dibawa buat jaga-jaga aja, siapa tahu makeup luntur kena keringat.

2. Tissue pack
Karena aku gampang keringetan dan kena flu. Ini benda wajib yang kayaknya susah lepas dari tas.

3. Kacamata
Walaupun nggak minus, mataku gampang berair kalau kena debu dan angin kencang. Jadi gunanya kacamata sih sebenarnya sebagai pengganti helm.

4. Card holder
Isinya E-KTP dan uang seperlunya. Fungsinya sebagai pengganti dompet aja sih, biar ga makan tempat dan mengurangi kebiasaan membawa uang lebih.

5. Lotion dan parfum
As always, supaya tetap wangi dan bersih aja. Terutama untuk kulit tangan. Kalau kaki, aku biasa pakai kaus kaki sekarang. Biar nggak belang kena sinar matahari kalau keluar rumah.

6. Handphone dan earphone (Di foto nggak ke-capture karena lupa)

List barang-barang di atas alhamdulillah bisa muat ke dalam satu tas kecil dan semuanya kepake sesuai kebutuhan. Kadang aku mencoba untuk nggak membawa kacamata dan earphone, biar ga merasa butuh banget. Intinya cukup menyesuaikan jumlah barang yang kita bawa dengan apa yang mungkin dibutuhkan selama keluar rumah, jadi bisa membiasakan diri untuk hidup lebih efisien dan minimalis. Aku belajar dari beberapa kali melihat video di youtube tentang minimalism life dimana dengan mensortir kepemilikan barang sesuai kebutuhan sebenarnya lebih menyenangkan dan melegakan ketimbang kebiasaan shopping atau mengoleksi barang untuk melepas stres. Lebih sedikit barang yang kita punya justru bikin hidup lebih tenang, karena kebanyakan orang membeli sesuatu lebih karena laper mata, kebiasaan, atau demi gengsi pribadi yang nggak diperlukan. Padahal setelah dibeli juga belum tentu dipakai terus, atau bahkan malah nggak dipakai sama sekali.

Meninggalkan Ketakutan Akan, “Aduh, Aku Nggak Bisa Kalau Nggak Bawa..”

Guys, memang terkadang hal sepele semacam isi tas sering luput dari pandangan. Orang kebanyakan berpikir, “Lah, kalo nggak ada, pasti susah.” Padahal dunia juga nggak bakal kiamat di tempat cuma gara-gara nggak bawa satu atau dua benda. Pernah kok sekali dua kali aku lupa bawa handphone, dan hidup ini baik-baik saja. Kalaupun ada yang menghubungi, paling tinggal dikasih tahu aja “Maaf, tadi lupa bawa hp,” And that’s it. Nggak pernah tuh sampai ada masalah berarti. Menurutku ini bisa jadi year’s goal yang bagus untuk mengubah perilaku diri sendiri yang terbiasa hidup “harus ada”, toh nggak ada salahnya untuk lebih praktis sama isi tas. Tertarik untuk nyoba?

Kisahku yang Belum Punya KTP, Mau Bikin Tapi..

Will you believe me if I say that I still haven’t had an ID card?

Tapi,

Emang aku belum punya. *Bete mode : on*

Niatnya kepingin biar langsung kelar, biar kepegang itu yang namanya E-KTP, rencana ke kantor Disdukcapil buat pencetakan E-KTP fisik dramanya pake berhari-hari. Secara karena rumahku sama tuh kantor jauh banget jaraknya dari ujung ke ujung, aku harus minta tolong sama Bapak yang kebetulan tinggal di daerah yang lebih deket buat nganterin. Emang sih, rumahnya sebenarnya sama jauhnya, belum lagi aku juga ga familiar sama tempat-tempat di sini. Ya udahlah sekalian silaturahmi juga, karena emang udah berbulan-bulan ga ketemu sama bapak.

Hari H-nya, aku berangkat sekitar pukul 7 pagi dari rumah. Nyampe ke kota (karena kan rumahku di pelosok) makan waktu setengah jam perjalanan. Sampai disana harus nunggu lagi sampai kira-kira jam 8 baru ada bus yang lewat, dan sampai di terminal jam setengah 9. Jadi waktu perjalanan dari rumah sampai ke kantor Disdukcapilnya kira-kira 1-2 jam. Kebetulan karena gedungnya baru, ya tentu aja bingung mesti kemana. Soalnya karena semua dinas pelayanan masyarakat digabung jadi satu di tempat tersebut, namanya juga udah bukan lagi Kantor individual yang beda nama dan tempat, tapi kemudian menjadi Mall Pelayanan Masyarakat. Untungnya sih kepengurusan catatan sipil kayak Kartu Keluarga, E-KTP seperti itu ada di gedung utama. Langsung menuju pos kepengurusan E-KTP, aku serahin lembar fotokopi Surket tahun 2018 dan duduk di kursi tunggu. Ah, ya memang sudah biasa sih nunggu. Sebelumnya di kantor yang lama juga aku harus nunggu sejam buat bikin Surket tahun 2018. Apalagi sekarang niatnya buat pencetakan, jadi mungkin waktunya bakal lebih lama.

Akhirnya, namaku dipanggil. Tapi disusul dengan info yang bikin shock, “Mbak sudah pernah punya E-KTP? Data di kami E-KTP mbak sudah ada tahun 2012.” Aduduu.. kalo sudah punya yang ngapain toh aku jauh-jauh ke kantor Capil buat ngurus KTP? Perasaan hati sudah ga enak bawaannya. Kubilang, “Saya belum terima, mbak.” Tapi masih diototin sama petugasnya. Sampai akhirnya kujawab dua kali, barulah mbak petugasnya ngasih blanko tanda terima berkas dengan tanggal kembali ke Kantor Capil tertera 04 Maret 2020. Menurut si mbak petugas, blanko E-KTP sedang kosong. Tapi yak kok, harus 4 bulan banget gitu baru bisa punya E-KTP fisik? alamaaakk…

Sudah kadung jauh-jauh datang dan ujung-ujungnya belum bisa punya E-KTP, akhirnya aku minta pembuatan Surket yang baru. Itupun masih harus nunggu lagi setelah jam makan siang. Good grief. Kami keluar dari gedung dan cari tempat makan yang kebetulan cuma menyediakan pecel lontong dan mie ayam. Aish, keselnya. Aku pun cerita, iseng-iseng curhat colongan sama penjual minuman disitu.

“Gimana ini, bang. Masa’ saya mesti bolak-balik lagi buat ngurus KTP. Mending kalo ga jauh.”
“Memang si mbak dari mana?”
“Unit 3, bang.”
“Jauhnyaa.. Itu mah harusnya kasih uang aja mbak. Ga rugi kok kasih cepek, yang penting beres. saya aja yang rumahnya depan sini mending kasih uang, ga tahan repot.”
“Iya nih, bang. Bisa kasih solusi ga nih, yang penting E-KTP saya keurus nih. Mau dipake buat ngelamar kerja masalahnya.”
“Oo.. saya punya sih kenalan orang dalem di sini. Tapi mau teleponnya ga ada pulsa.”

Hehe, modal dulu lah ini ceritanya. Berhubung aku juga jualan pulsa via Payfazz, kuisikan pulsanya ceban itung-itung sebagai komisi. Lalu dia telpon orang yang katanya kenalan “orang dalam”, lari ke arah gedung dan masuk ke dalam. Mungkin ada sekitar 5-10 menit belum keluar. Sebenarnya, aku sudah ga berasa semangat lagi setelah liat tanggal di blanko tanda terima berkasnya tadi. Tapi karena kita hidup selalu dengan kata “Siapa tahu”, teteeeuupp di hati masih ngarep juga kalau-kalau berhasil.

Balik dari gedung, si abang itu kemudian melapor;
“Gini mbak, memang kalau mau buat E-KTPnya sekarang belum bisa karena blankonya sedang kosong. Saran saya sih coba mba cari dulu aja E-KTP yang lama di balai desa atau di Di Kantor camat. Ini sih yang ngomong yang bagian komputernya.”

Sebelum cari tempat makan, aku sama bapak juga sudah sempat menghubungi salah satu aparat desa kami untuk menanyakan perihal E-KTP tahun 2012 yang sampai sekarang masih belum aku terima. Padahal aku dan bapak melakukan perekaman E-KTP di hari dan tempat yang sama, tapi justru cuma E-KTP bapak yang sukses mendarat di tangan pemiliknya. Jawabanya malah disuruh ke balai desa aja untuk buat surat kehilangan E-KTP dan balik lagi ke kantor Capil. Buset dah. Otomatis kesimpulannya E-KTPku memang dari awal sudah tidak ada di balai desa dan kemungkinan memang tidak ada pula di Kantor Kecamatan. Dari tahun 2013 sampai 2018 aku cuma pegang KTP non-elektrik dan memang selama tahun 2012 juga memang tidak ada info apa-apa mengenai E-KTP tersebut. Lantas, kenapa kemana rimbanya tuh piece of plastic? Ada duitnya kah sampai hilang di gondol tuyul? Atau punya ilmu tertentu? Hanya menjadi sebuah misteri. Tapi inilah kenyataan sistem kependudukan Indonesia yang katanya canggih tapi berputar-putar. Tahun 2012 waktu itu, aku masih inget banget gimana alotnya proses perekaman E-KTP sampai harus nunggu dari pagi hingga menjelang sore. Petugas Disdukcapilnya pun datang ketika siang hari dimana orang-orang sebenarnya sudah bolak-balik pulang ke rumah lalu nongol lagi di balai desa. Dengan sejarah yang panjang begitu, siapa yang tahan harus nunggu berbulan-bulan lagi untuk bisa diakui sebagai warga negara Indonesia?

Alhamdulillahnya, Surket bisa dicetak dan aku terima pas pukul 1 siang. Keluar dari Mall Pelayanan Masyarakat, kami cari rumah makan untuk isi perut dan beristirahat sejenak. Meski hasil hari ini jauh dari kata puas, setidaknya aku punya surat identitas sementara sampai 6 bulan kedepan. Awalnya sih mikir gitu. Sampai ke rumah, iseng-iseng aku search di google dengan keyword “Keluhan soal E-KTP” untuk cari info lebih lanjut soal pencetakan dsb. Dari situ, ketemulah nomor whatsapp Ombudsman RI dimana kita bisa mengeluhkan soal E-KTP. Dari sini, mungkin aparat Kantor Disdukcapil daerahku sudah bisa mengetahui siapa yang menghubungi Ombudsman. Tapi jujur, alasan aku menghubungi Ombudsman bukan untuk asal ngelapor karena kesal, tapi aku benar-benar butuh E-KTP tersebut dan tidak tahu harus dengan cara apa lagi harus mengurusnya supaya bisa benar-benar menerima KTP fisik. Coba bayangin, 7 tahun ga punya E-KTP, ngurus apa-apa ga bisa. Bahkan ngelamar kerja saja sudah susah. Yang ngeselin itu saat pihak Ombudsman sedang melakukan konfirmasi ke instansinya, aku sempet dibilangin begini, “Memang E-KTPnya untuk apa mbak, kan sudah ada Surketnya. Toh sama saja.”

I wasn’t really sure if the question was said as a form of curiousity or just for the sake of talking, but I seriously wanted to tell whoever it was at the opposite side of this convo with, “WELL, DUH.” Like, how could you ask someone why they need an ID card? Terlepas dari surketnya yang punya masa berlaku 6 bulan, kepentingan punya E-KTP fisik dengan masa berlaku seumur hidup kan bakalan lebih diprioritaskan. Tapi ya udahlah yaaa… Seharian udah capek mikir keras plus waktu dan tenaga yang sudah terbuang demi E-KTP kalo masih emosi juga kan ga lucu. Setidaknya, setelah menghubungi pihak Ombudsman ada sedikit titik terang kalau aku tetep bisa punya E-KTP baru asalkan dateng sesuai tanggal yang tertera di blanko tanda terima berkasku. Okelah. End of discussion. Mungkin ridha Allah buatku diakui bener-bener jadi penduduk Indonesia masih kepending kali ya? Hihi..

Intinya dari pengalamanku mengurus E-KTP ini adalah, selama kalian para kawula muda masih berjiwa muda dan emang masih muda beneran (maksudnya yaa.. baru lulus sekolah gituu.. ) Uruslah cepet-cepet E-KTP kalian sebelum blankonya habis. Karena diurus buru-buru atau lambat-lambat pun, aku juga ga tau kenapa itu si blanko selalu statusnya kosong melulu. Setiap tahun selalu ada anak berulang tahun ke 17, itung aja berapa puluh ribu orang yang butuh kartu identitas setelah lulus sekolah. Mungkin mereka nganggur dulu? Atau pakai kartu pelajar aja kemana-mana? I don’t know. But they’re still young though. Kalo ada apa-apa ya masih maklum larinya ke orang tua. Lah, yang 28 tahun ini? Bisa gitu ngedekem di rumah ga kerja dan ga punya E-KTP? Coba aja try being me. Coba, cobaaaaaaaa!!!!!

*Jeritan hati yang keras, tapi dalam hati sih*

Rasisme di Indonesia itu Rahasia Umum, Lho

Sebelumnya, seperti post yang pernah aku buat jauuuuhhh sebelum ini (Dan masih ada kaitan yang sama dengan topik SARA), perlu dicatat bahwa aku sama sekali ga berniat membahas topik seperti ini sebagai pancingan emosi atau provokasi. Jujur aja, hal-hal berbau SARA jadi salah satu topik yang paling aku hindari karena latar belakang keluargaku yang berasal dari komunitas agama dan budaya yang berbeda. Sampai sekarang pun kalau ngebahas orang tuaku yang satunya bersuku Lampung dan lainnya Bali, masih suka di tanya lagi dengan pertanyaan yang lebih kepo; “Terus ibunya Islam, kan?”, “Terus agama kamu apa?”, “Loh, orang Lampung toh, tapi kok kulitnya Hitam?” Dan sekawan-kawannya. Terkadang aku heran sendiri, kok orang lain bisa sampe segitunya ngasih pertanyaan ngeselin begitu kalo aku cerita soal background keluargaku. Bahkan dulu waktu awal kerja, karena warna kulitku gelap banget dan rambutku keriting sampai disangka orang Papua. Udah kenyang banget sebenarnya denger pertanyaan semacam ini dari kecil, tapi lama-lama kepingin curhat juga. Apalagi kemarin-kemarin sempet viral soal Rasisme yang berkaitan dengan Masyarakat Papua. Dari sini aja kita bisa nilai donk, bahwasanya Indonesia yang digadang-gadang negeri Bhineka Tunggal Ika yang menghargai perbedaan aslinya lekat dengan Rasisme?

I don’t know why people are so into white Skin and straight hair and perfect body shape, like, cuma karena beberapa komunitas suku tertentu lebih dominan dengan warna kulit dan postur tubuh tertentu bukan berarti mereka punya alasan untuk ngejudge orang lain yang perawakannya berbeda dengan dia atau komunitas tersebut. Like me, for example, cuma karena warna kulit aku gelap, bibir aku tebal dan rambutku keriting, hampir 50% orang di tempat kerjaku dulu selalu mengaitkan itu semua ke daerah Timur Indonesia. Oo ya tapi tentu aja, aku ga punya masalah apa-apa sih sama orang Indonesia timur. Toh kita punya sejumlah nama penyanyi Indonesia dari tanah Timur yang suaranya bikin Iri. Rambut mereka keriting? Kulit Mereka Gelap? I’m sorry deh, tapi kalo kamu masih demen denger lagu-lagu internasional berarti bego banget kalo sampe ngejudge warna kulit dan penampilan. Cuma ya sebel aja, memangnya kenapa kalau aku punya perawakan tubuh yang begini? Ada masalahnya?

Orang Indonesia selalu bangga banget dengan keberagamannya, selalu antusias kalau ada orang sebangsa dan setanah air sukses secara Internasional terus heboh bilang, “Dia sudah bawa nama Indonesia, kebangsaan Bangsa.” But actually, nilai kebangsaan kita udah jauh banget bergeser dari yang seharusnya kita junjung. Ini juga ngaruh ke masalah keagamaan lho, karena sekarang ini semakin banyak perdebatan agama yang muncul sampai kasusnya membesar seperti balon yang nunggu di tusuk pake jarum. Komunitas internasional sebenarnya sudah familiar dengan tagline milenium Indonesia “Negara penuh kontroversi SARA”, tapi kita justru gembar-gembornya penuh semangat. Makanya aku suka ketawa, kalau ada masalah di negara lain semua pasang aksi bersimpati. Terus masalah kita sendiri, gimana ngelarinnya?

Baru-baru ini aku sering nonton video di channel Asian Boss yang ngebahas topik-topik soal Indonesia. Netizennya banyak yang komen, “Kok bahasannya soal agama lagi?”, “Kok bahasnya soal hijab lagi?”. Aku malah ngerasa aneh sama pertanyaan mereka, wong Itu bukan salah crew Asian Bossnya lho padahal. Orang Indonesia sendirilah yang membuat negaranya selalu panas soal perdebatan agama. Pengalamanku pribadi udah jadi contoh paling kongkrit, karena pertanyaan “Tapi Ibunya Islam, kan?” Udah aku dengar dari kecil tanpa absen. Padahal emangnya kenapa kalau Ibu aku non-muslim, salah? Mainnya pada kurang jauh nih berarti ya.

Pada akhirnya, apakah kasus-kasus seperti yang terjadi di Papua itu bakal jadi yang terakhir? Jawabannya; none in the million years. Lebih baik pikirin agenda terbesar buat bangsa kita supaya belajar untuk menyampaikan sesuatu yang proper di tempat dan waktu yang proper pula. Kalo ga suka penampilan orang lain, liat dulu diri anda di kaca yang gede. Emang anda itu lebih baik? Inget aja, dari 5 jari di tangan cuma 1 biji yang dipake buat nunjuk ke orang. Jangan lupa arah 4 jari yang disimpen, bukannya justru nunjuk ke diri sendiri? Jadi kalo kamu nunjuk seseorang Hitam, jelek dkk pake 1 jari, 4 jari lainnya sebenarnya nunjuk ke diri kamu sendiri lho. Yakin mau bully orang terus? Indonesia itu bukan cuma diisi sama cewek ala Korea yang putih kayak susu atau Oppa ganteng yang mukanya licin sampe nyamuk pun kepeleset. Indonesia juga bukan cuma hunian khusus kaum Muslim sampe ada ritual keagamaan lain harus tergeser dan terasing. Back to those thousand years before Islam came to Indonesia, Nusantara masih menganut paham animisme yang tradisinya masih lestari tuh sampe sekarang. Rasisme di Indonesia itu terlalu biasa sampai kita sendiri ga pernah sadar bahwa hal ini adalah sebuah masalah besar. Pokoknya, mengharapkan Indonesia jauh dari kata Rasisme itu seperti ngarep kena amnesia attack kalo ketemu mantan; close to impossible.

Bukit Sakura Lampung, Nuansa Jepang di Bumi Tapis Berseri

Ga nyangka bisa bikin 4 postingan di awal bulan, terharu sekalihhh *banjir air mata. Udah lama banget aku ga seproduktif ini yah hehehehe… btw beberapa kali aku ketemu liputan tentang keindahan bunga yang mirip Sakura di Surabaya. Menurut si empunya cerita sih saking indahnya jadi ga perlu jauh-jauh lagi ke Jepang pas musim semi buat liat Sakura mekar. Aduhh akuh yang suka jejepangan ini jadi ingin sekali liat Sakura lagi kayak waktu ke Bukit Sakura Lampung. Hahaha 😜😜

Salah satu spot selfienya

Trademark Bukit Sakura dengan lampu neon.

Ada yang sudah pernah ke Bukit Sakura di daerah Langkapura, Tanjung Karang, Bandar Lampung? Dari Teluk Betung cuma makan waktu 20-30 menit aja untuk sampai ke lokasi wisata ini yang lumayan tinggi letaknya, karena waktu kesana bareng teman-teman ternyata harus masuk dulu ke dalam daerah yang rimbun dengan pepohonan. Wajar sih ya makanya dikasih nama Bukit, dari area parkir hingga masuk ke Bukit Sakuranya lumayan bikin ngos-ngosan kalo ditempuh dengan jakil alias jalan sikil πŸ˜‚. Tapi jalan masuk ke lokasi masih sangat jauh lebih mudah ketimbang waktu ke Muncak Tirtayasa di Lempasing, Teluk Betung Selatan. Dan karena masih rada-rada viral di antara para warga lokal sekitaran Bandar Lampung makanya lumayan gampang untuk pesen transportasi online seperti Grab/Gojek buat kalian yang ga punya kendaraan pribadi. Dua kali aku ke Bukit Sakura perjalanannya via GrabCar dan biayanya sekitar Rp 30,000-35,000 kalo ga salah. Tapi harganya beda-beda yah tergantung dari posisi jemputnya. Jadi silahkan pilih tempat lokasi yang lumayan deket kalo mau ngurangin tarif taksi onlinenya.

Area kafe dan rumah panggung.

Tadinya waktu pertama kali ke Bukit Sakura lumayan skeptis, beneran ga tuh ada Sakuranya? Tahu info soal tempat wisata ini juga pas ngeliat foto salah satu supervisor tempat kerja dulu yang pose pake hanbok sambil bersandar di pagar kayu. Nah, salah satu fasilitas yang disediakan layanan Bukit Sakura Kemiling adalah penyewaan baju tradisional Jepang dan Korea sebagai properti foto. Terakhir yang aku tahu, biaya sewanya sekitar Rp 25.000,- untuk Kimono dan Rp 35.000,- untuk hanboknya masing-masing per 30 menit. Tapi karena belum pernah coba buat nyewa jadi ga tau deh rasanya pake baju tradisional dari 2 negara di Asia Timur itu. Sebenarnya ga masalah sih, kalo mau dapetin foto yang sesuai dengan tema Jepang ya tinggal pake blouse atau dress potongan Kimono terus tinggal cari aja spot foto sama bunga Sakura yang diinginkan. Di sepanjang area Bukit Sakura Kemiling full sama pohon Sakura kok, walaupun ga serimbun yang kita liat di Drama Jepang sampe guedeee banget itu. Yahh namanya juga lokasi kekinian yang masih baru, jadi mungkin umur pohonnya juga masih muda banget. Tapi nuansa warna pink bunga Sakuranya bakal bikin kalian betah deh lama-lama disini, apalagi kalo suasanannya ga terlalu ramai dan anginnya masih bersahabat. Saran aja ya, kalo kesini mendingan bawa jaket atau pakai baju yang sedikit tebal, soalnya angin lumayan kencang jadi bawaannya dingin beud.

Suasana kafe dari bagian dalam.

Selain belasan pohon Sakura yang bisa kalian ajak jadi teman foto bareng (kalo ga punya pasangan πŸ˜‚), tersedia juga pondok-pondok kecil buat duduk santai, jembatan buatan plus balon udara sebagai dekorasi, area memanah dengan harga tiket Rp 20.000,- untuk kesempatan 4 kali memanah, outdoor cafe serta pertunjukan live music. Penyanyinya punya suara yang oke lho, jadi puas deh nongkrong disini. Aku kurang tau berapa kisaran harga makanan dan minuman yang dijual di cafenya, kayaknya sih sekitar Rp 10.000,- s/d Rp 25.000,-. Terus tiket masuk perorangnya juga rada lupa-lupa inget bayar berapa. Mungkin sekitar Rp 10.000 s/d Rp 30.000 tergantung kendaraan yang kalian pakai. Yaa pokoknya siapian aja budget agak banyakan biar ga malu gegara ga dibolehin masuk. Tapi barang bawaan ga ada yang dipungut biaya kok, jadi mau bawa bekal juga ga masalah.

Anyway, kalo dateng ke Bukit Sakura pas sore atau malam hari sebaiknya hati-hati ya. Terutama buat yang bawa motor mendingan ga usah pulang malem-malem banget soalnya lumayan gelap dan sepi. Kalo pulangnya ke arah Teluk Betung kan pasti tahu banget jalur jalannya ngelewatin Summit Bistro dan Bukit Mas yang sepinyaaa kayak ga ada kehidupan. Yang pake jasa transportasi online pun lebih baik pulangnya sebelum jam setengah 9 malem, coz kalo jam segitu udah susah mesen mobil/ojek. Sumpah ya, aku baru nyampe jam 11 malem gegara susah banget dapetin driver yang mau jemput ke Bukit Sakura Kemiling karena tujuan perjalanannya jauh dan waktu itu udah jam 9 malem. Itupun pake acara kena guyur hujan juga. Jadi sebaiknya hati-hati ya, mendingan berangkatnya serombongan aja kalo bisa biar pulangnya ntar konvoy atau pake mobil pribadi.

Kalo menurut aku sih lebih bagus ambil foto bunga Sakuranya pas menjelang sore, di mana matahari masih terang tapi ga bikin panas. Anginnya kan lumayan gede jadi kalo sore suasananya jadi adem. Yang aku suka dari tempat ini adalah pemandangan dari atas bukitnya yang bersih tanpa gedung tinggi. Kalo malam hari kelihatannya indah banget lho jadinya, soalnya yang keliatan kan cuma lampu-lampu dari hamparan kota yang jauh. Oh iya, kalo malam hari suasana bukit Sakura jadi penuh sama lampu neon warna-warni. Tapi jujurnya aku kurang suka karena jadi nutupin warna bunga sakuranya. After all, kalo ada yang kebetulan pengin liburan ke Lampung jangan lupa mampir ke sini yah.

(P.S. : Beberapa foto di atas aku ambil dari official Instagram accountnya Bukit Sakura Lampung dan hashtag #bukitsakurakemiling. Thanks buat teman-teman yang fotonya aku pinjam, semoga ga marah ya aku pajang-pajang disini hehehehe… Anyway, kalo ada yang mau bikin reservasi di sini bisa liat infonya di salah satu artikel blog yang aku dapet di Google.)

My Stupid Boss, and My own Work experience

Kayaknya aku belum pernah review buku ini yak? Hehehe.. padahal belinya udah lama deh, tapi aku emang rada males bikin postingan blog selama masih kerja. Sekarang mudah-mudahan bisa sering posting kayak dulu dan ga melulu nontonin orang di youtube. Hihi..

Well, aslinya kenapa majang buku ini karena menurutku pengalaman Chaos@work ngehadepin bossnya yang alakazam kelakuannya itu menghibur banget. Terus setelah berkali-kali baca buku ini aku jadi keinget pengalamanku sendiri pas masih kerja. Di mana-mana emang akan selalu ada aja atasan dengan kelakuan yang aneh, tapi kebetulan tempat kerjaku sih orang-orangnya masih sangat amat normal dibanding Bossnya mba Kerani. Lagi marah ya sewajarnya aja ga pake acara main langsung tuduh sana-sini. Malah karena mungkin lingkungan kerja diisi hampir semuanya perempuan (secara kita-kita kan SPG), bawaannya kayak lagi arisan. Yang kenceng sih ngomongin orangnya aja kali’ ya. *Mesem-mesem*

Suplayerku misalnya, orangnya lumayan agak cerewet dan kalo marah tuh ga bakal berhenti ngomong. Awal kerja dulu aja sampe pusing karena hampir tiap hari dapet wejangan meskipun akhirnya aku sadar kalo semua itu penting dalam pekerjaan. Kalau sudah ribut soal kompetitor dan omset kayaknya udah maleeesss banget mau jawab bbm/sms-nya, tapi kewajiban ya tetep mesti dipenuhi sebagai bawahan. Misalnya kalo sehari ga ngereport, doi bakal ngirim sms/bbm dari SPG lain sebagai contoh gimana seharusnya SPG itu tanggap dan aktif bekerja. Jadi tuh maksudnya ngode gitu biar dismsin yak.. hehehe.. *ngakak sendiri gw baca ginian* KadangMy-kadang sampe panas dingin sendiri kalo udah ngomongin omset sama kompetitor, ga bakal jauh-jauh dari “Duh, kecil banget..” “Waa rankingnya turun..” Tahu sih kalo harusnya aku mawas diri buat lebih keep up sama ekspektasi sang penggaji, tetep aja rasanya beteeee banget kalo udah dijawabin gitu sama boss. Euuuhhh kayak ga di anggep.

Mulai menginjak dua tahun kerja, aku udah mulai tahan banting sama omongan suplayer yang dikit-dikit ngebahasin pengurangan SPG dan tutup konter kalo lagi chat soal kerjaan. Waktu itu lawan shiftku masih enak, orangnya pintar ngomong juga jadi ga perlu nanya-nanya lagi gimana ngehandle kecerewetan si boss. Begitu doi resign gegara ada masalah, aku ketemu partner yang rata-rata susah beradaptasi dengan kondisi omset konter yang sepi dan suplayer yang cerewet. Pernah ada satu lawan shift yang orangnya polos banget sampe ga mudeng omongan suplayer;

Partner = Mbak, ternyata Bapak itu genit ya? Masa semalem sms aku di bales ‘Oke jelek’. Iihh Emangnya aku pacarnya kali?
Aku = (Bingung) Ha? Apa iya? Biasanya Bapak ga gitu kok. Emang kamu sms apa sama dia?
Partner = cuma kompetitor aja mbak, terus dijawabnya gitu. Ih, aneh ya mbak.
Aku = Hmm.. semalem dapet ranking berapa di kompetitor?
Partner = Ranking 5 mbak.
Aku = (langsung ketawa) Ya elah dek, maksudnya Bapak itu bukannya genit. Dia ngebales sms kamu maksudnya mau bilang Ranking kita jelek. Jadi maksudnya, ‘Oke, rankingnya jelek.” , Gitu..
Partner = Iya tah mba? Yaa orang nulisnya gitu ga jelas banget, kayak ngomong sama pacar.. (terus ketawa-ketiwi)

Kalo sudah gini kadang cuma bisa geleng-geleng kepala sendiri. Makanya setiap anak baru yang jadi partner shiftku pasti udah kukasih wanti-wanti supaya tanya dulu sama aku pas di chat sama suplayer. Untungnya semua pada nurut ya, walaupun masih tetep aja ada miskomunikasi. Secara si bos orangnya syupaaa sibuk jadi kalo ngetik chat itu singkat-singkat, jadinya suka salah pengartian. Sayangnya aku udah lupa sih apa aja kejadian salah baca chat suplayer yang di alami lawan shift aku, tapi yang aku inget emang hampir semuanya ngalamin termasuk aku juga. Aduh.. banyak cerita juga ya setelah dipikir-pikir. Hahaha..

Back to the topic, My Stupid Boss diceritakan dengan gaya bahasa sehari-hari berbumbu banyolan slapstick khasnya humor Indo ala novel-novelnya bang Raditya Dika. Bedanya, aku suka novel ini karena ceritanya konsisten dalam situasi yang sama. Kalo di novelnya Bang Radit tuh jumping dari satu ke yang lain sehingga aku sendiri ga nyambung kolerasinya di mana (jadi ujungnya cuma lucu aja). My Stupid Boss bisa dibilang fiksi humor yang bikin orang relate ke pengalaman kerjanya sendiri sehingga bawaannya jadi ngocol bin terheran – heran kenapa bisa ada orang seaneh itu jadi pemimpin perusahaan dan ada seorang sekuat itu yang bisa menjadikan pengalaman kerjanya jadi sesuatu yang menarik untuk di simak. Ga heran sih kalo akhirnya My Stupid Boss diangkat menjadi film layar lebar dan ga mengecewakan juga. Dan lucky bonusnya, tokoh Boss ini diperankan oleh Reza Rahardian yang sumpah gokil banget ngasil feel yang ngena sebagai atasan super ngeselinnya Diana. Hehehe.. Walaupun ga bisa nonton di bioskop gegara temen-temen aku lebih tertarik sama The conjuring, at least aku bisa nonton via shared video di Facebook. Dan novelnya sendiri aku beli di Gramedia, cuma lupa harganya berapa. Well, aku pengin beli buku lanjutannya karena yang terakhir aku tahu tuh Chaos@work sudah ngeluarin 5 buku serial My Stupid Boss. Semoga dapet kesempatan di lain waktu deh. Anyway, yang belum pernah baca, mendingan beli deh bukunya. Soalnya menurut aku lebih kocak baca bukunya sendiri ketimbang cuma tahu dari film.

Keluar Dari Zona Aman

Duluuuuu banget kayaknya aku pernah baca buku psikologi tentang keluar dari zona nyaman. Kalo ga salah sih pas SD yah (haha). Weits, gini-gini bahan bacaan aku di jaman SD bukan macamnya majalah Bobo atau komik Shin-chan, tapi udah merambah ke intisari-intisari majalah dan buku yang ngomongin life struggle dan history. Kalo anak jaman sekarang mah demennya goyang-goyangin jari telunjuk sama jari tengah aja tuh.

Baca lebih lanjut

This Week’s Reading list

Kayaknya udah lama banget deh sejak terakhir aku bikin post tentang dunia membaca seperti review novel dan sebagainya. Maklum, sekarang jarang banget nyempatin waktu buat nyari bahan bacaan. Dulu kalo lagi di rumah bisa berjam-jam mantengin laptop buat baca novel, eh.. sekarang yang harusnya gampang banget buat baca di aplikasi henpon malah kebanyakan mainan yutub sama instagram. Ehehe.. palingan kalo mau baca buku tuh pas lagi abis kuota doank *mesem-mesem*. Kemarin aku lagi baca buku bang Radit yang pertama, bawaannya kepingin beli buku lagi. Meskipun salah satu temen bilang enakan baca buku/cerita online, well.. hobby is not something you can measure on. Aku ga bilang baca buku lewat jalur online itu ga bagus, malah kebanyakan membantu banget selama ini buat aku yang kantongnya pas-pasan (padahal udah kerja). Tapi karena sekarang udah termasuk mampu beli buku dalam bentuk media cetak, kayaknya kok sayang kalo ga ngambil kesempatan buat menambah koleksi buku. Toh, itu juga termasuk impian aku dari kecil, kepingin punya perpustakaan sendiri. Alhamdulillah sekolahku punya banyak ragam bahan bacaan karena perpustakaannya kebetulan salah satu yang terlengkap di Bandar Lampung (yuk, yuk dateng ke Xaverius 1 Teluk Betung). Dari perpustakaan inilah lahir hobi yang sampai saat ini belum luntur, yaitu membaca. Wah.. dulu di SD aku udah baca banyak banget buku, dari ensiklopedi sampai novel remaja. Sebagian inget, sebagian sih kagak. Jadi kangen, hahaha…

Omong-omong soal aktif di instagram, gegara buka iklan di sono aku jadi donlod aplikasi Webcomics dan nemuin novel “Resign” karya Almira Bastari. Kamvreto banget tuh novel lucu bangettt,, ala-ala drakor gitu yang meskipun english-englishnya bikin aku agak terganggu (I dunno, I’ve never been one who likes english convo or terms added in Indonesian novels) tetep syuka sama kisah Alranita vs Tigran yang unyu. Love and hate relationship emang seru sih ya hahaha.. sayangnya kalo di Webcomics kan mesti dapet koin dulu kalo mau baca chapter non-gratis, dan kupon gratis buat baca “Resign” juga keluarnya tiap 5 hari sekali. Iseng-iseng buka Lazada buat ngintip harga novelnya, lah.. mehong boy! Hiks… Aku lagi belum mampu keluarin uang lebih buat beli kamu nak.. *nangis manja* Doain yaa manteman gajiannya ada sisa buat beli buku, aminnnn.

Aku punya reading list yang sebenarnya recommended buat kalian. Ini beberapa buku yang kemarin aku baca, tapi aku gabungin aja ya secara singkat biar enak;

1. Ten millions of Peach Blossoms, Pillow’s book 1-2 by TanQi GongXi.
Ah. 2 words for these masterpieces : Keren gila. Awalnya aku tau Chinese novel ini pas liat adaptasi dramanya yang aduhai ngena banget di hati. Memang banyak sih yang menghujat karya TanQi karena plagiarism-nya ke novel lain (novel boyslove pulak), tapi ga tau kenapa aku tetep syukaaa banget dengan ceritanya yang lucu dan kompleks ini. Berdasar pada kebudayaan, ajaran agama Budha dan kepercayaan para Dewa di China, serial-serial ini jadi novel Chinese favorit aku so far. Yang masih beredar secara umum sih Pillow’s Book 1-2 (Kisah antara Bai Fengjiu dan Donghua Dijun yang aseli sumpah bikin nagih buat nyimakin), tapi yang Ten Millions of Peach Blossoms udah ditarik peredarannya dari internet. So shame banget pokoknya. Versi Manhua dari ‘Peach Blossoms’ masih bisa di temuin sih, tapi imagenya menurut aku ga terlalu sesuai sama penggambaran di dalam novel. Kalo soal plot, sama persis. Tapi bagi aku yang udah baca dan nonton versi dramanya jelas bisa ngebedain mana yang sesuai dan yang kagak. Yah. We can’t have all we want. But it’s really and highly recommended. Silahkan cari aja Pillow’s booknya di gugle ya. Klo yang ‘Peach Blossoms’ aku dapet di Wattpad, tapi belum full complete jadi belum bisa aku rekomendasikan.

2. Bu Bu Jing Xin (Startling by Each Step) by Tong Hua.
Again, it’s actually a great shame novel ini ga pernah masuk pasar Indo. Ini keren-ren-ren gila! Buat kalian yang udah pernah nonton Drakor “Scarlet Heart : Ryeo”, FYI ceritanya terinspirasi dari novel ini. Bedanya cuma karakteristik awal si Hae Soo yang lebih kekanakan dibanding Maertai RuoXi. But most of all semua sama (namanya juga di adaptasi). Yang bikin lebih ngeselin lagi karena terjemahannya yang beredar di gugle cuma mentok di chapter 8. Meskipun bikin bete, aku pernah ngerasain sih strugglingnya sebagai translator. So let’s there’ll be any continuation for the translation *cross fingers*.

3. Pallace of Illusions by Chitra Banerjee Divakaruni.
Kalo kalian menggemari historical romance atau tertarik dengan cerita Mahabharata, Pallace of Illusions ini jadi novel yang aku rekomen buat dibaca. Novel ini menceritakan kronologi kehidupan Draupadi dan Mahabharata dari PoV-nya si Draupadi sendiri. Karena aku familiar banget dengan kisah Mahabharata karena sering nonton dramanya berulang kali dari kecil (yang versi tahun 70an ituloh), kayaknya unik aja mengikuti penjabaran Draupadi yang diceritakan jatuh cinta sama Karna daripada sama Arjuna. Walah, pokoknya lucu aja. Terus kan kalo Mahabharata biasanya mengisahkan wanita sebagai sosok yang penuh bakti sama keluarga dan suami, berkharisma dan penuh dharma. Lah kalo di sini ceritanya manusiawi banget, yang Ibu Kunti jadi ibu Mertua yang resentful sama menantu, atau si Draupadi sendiri yang menganggap mertuanya sebagai saingan. Aneh banget deh ga kayak cerita Mahabharata yang biasanya. Tapi menurutku disini sih letak bagian uniknya, retelling story emang punya nilai lebih dimana plotnya jadi lebih berkembang daripada versi original. Seneng banget bisa punya kesempatan baca buku ini.

4. Dua Ibu by Arswendo Atmowiloto.
Menurutku Pak Arswendo layak jadi bapak cerita anak-anak, soalnya novel-novel karyanya seperti “Mencari Ayah Ibu“, “Kenapa Bibi Tidak Pernah Pergi ke Dokter“, “Pesta Jangkrik” sampai “Keluarga Cemara” yang diadaptasi ke sinetron itu punya kesan yang ngena banget karena sarat dengan kisah keluarga dan masa anak-anak. Doa Ibu juga termasuk karya yang aku favoritkan, dan alhamdulillah aku bisa punya salah satu dari novel yang Pak Arswendo buat. Dulu aku seneng banget baca “Mencari Ayah Ibu” di perpustakaan, jadi aku familiar dengan gaya bahasa dan cerita Arswendo. Dua ibu dikemas dengan penggalan cerita anak-anak asuhan seorang ibu yang berkorban sepenuh hati untuk mereka meski kehidupannya selalu dalam kekurangan. Di akhir cerita, sang ibu meninggal dan seluruh anak asuhannya baik yang kandung maupun yang di asuh berkumpul sebagai penghormatan bagi ibu yang mereka kasihi. Arswendo Atmowiloto ingin menyampaikan bahwa tidak ada batasan mau itu kandung ataupun tidak, ibu adalah ibu yang bersedia merawat dan membesarkan anaknya dengan cara apapun. Bahkan ga ada batasan agama yang mengikat karena nyatanya dia mau merawat dan mengkhitan salah satu anaknya yang notabene berasal dari keluarga non-muslim. Menurut aku, menulis novel harus yang begini, jujur, sederhana dan pesannya sampai. Kalo sekarang agak susah nemu novel lokal yang ginian sih. Hahaha..

5. Resign by Almira Bastari
*Ngakak membahana* mahap yah mahap.. I can’t help it, beneran! Padahal aku aja belum selesai baca buku ini via Webcomics tapi udah main langsung masuk reading list aja. Abisnya lucu sih ceritanya jadi gemes pengin ngeshare ke blog. Awalnya pas liat judul novel ini aku kira bakal ngebaca novel non-fiksi tutorial resign dengan cara-cara nyeleneh dan kocak (maklum, kebanyakan baca novel humor jadi gini dah). Ga taunya novel romance toh ya hahaha.. Tapi field kerjaannya ga relate sih sama aku, soalnya aku ga yakin ada perusahaan yang karyawannya lembur tiap hari. Cuman ya kalo ada salut aja deh *tepuk tangan*… Aku yang dulu cuma lembur seminggu sekali aja ga tahan, apalagi pas puasa haduhhhh… Itu bisa sampe seminggu terus ga sakit-sakit berarti manusia super. Masa’ si Alranita masih mau lanjut nonton jam 9 malem padahal pulangnya paling cepet jam 7an? Aduh, kalo aku sih mendingan molor broh *nyengir kuda*. Anyway, doakeuuunnn pokoknya bisa beli buku ini ya manteman, sapa tahu diriku dapat bonus nyasar dari kantor terus adminnya insomnia dadakan gituhhh (ngarep). Amiiinnn..

Apa jadinya tanpa teknologi?

Years ago (cieh gayanya sok tuir), dulu kalo ga punya laptop bakalan susah ngerjain dokumen-dokumen penting. Inget banget pas di awal kuliah dulu dan belum punya laptop, ngerjain draft tugas translation yang panjangnya alakazam (tapi itu juga karena aku yang milih sih) sampe mau nangis karena ditulis dan disimpen di blog pribadi. Waktu itu kan ga ada smartphone canggih kayak sekarang yang semua aplikasi A sampe Z tinggal donlod terus dipake. Henpon ekeh cuma sebatas nokia alakadar yang cukup puas buat sms, telpon, denger lagu dan internetan terbatas akses WAP. Mau rental komputer atau ke warnet pun susah gegara di daerahku emang fasilitas yang begitu minim banget, belum lagi mahalnya itu. That’s how my uni life went, which was much of struggle.

Seminggu yang lalu aku dimintain tolong sama temen buat ngeprint data stok opname dari kantornya yang di format dalam bentuk PDF file. Secara karena hp aku yang sekarang (XiaoMi Redmi 5A) ga pake memocard, aku jadi bingung mesti gimana buat ngakses datanya ke komputer. Aku ga mau ngambil resiko connecting hp aku ke komputer yang isinya segala macem dipake orang, takut deh pokoknya. Jadi aku transfer file tersebut ke Google Drive terus aku buka lewat komputer rental deket kosan, abisnya langsung aku print. It’s that easy. Dulu, kenapa ga semudah itu? Seandainya teknologi smartphone merambah lebih cepat ke daerah tempat aku tinggal mungkin dulu aku ga perlu harus ribut minta Mamak beliin laptop. Padahal kalo di pikir-pikir, kebanyakan fungsi laptopnya pun cuma buat donlod anime banyak-banyak numpang wifi kampus dan storing file yang jumlahnya bejibun dari hp entah itu foto maupun lagu. Nah, kalo sekarang yang gituan juga bisa lewat hp kan, atau online storing via sosmed. Beneran, kalo ngebandingin dulu sama sekarang emang advanced banget pertumbuhan teknologi yang terjadi. Dan alhamdulillah aku masih punya kesempatan sebagai salah satu witnessnya ya. Hahaha..

Anyway, kita yang sekarang memang susah survive tanpa teknologi. Kadang suka kepikiran sama aku, “Apa jadinya kita tanpa teknologi?” Terutama kalo ngeliat sekarang konsumsi publik sama internet juga makin besar. Contoh aja kayak fasilitas transportasi online, yang honestly ngasih impact yang besar buatku pribadi. Kemana-mana ga perlu harus afal jurusan angkot, tinggal pesen aja ojek/taksi online. Duh… Seandainya ga ada yang ginian, jarak pasti tetap bakal jadi halangan. Sekarang pun, kalo mau komunikasi sama orang rumah juga ga susah. Ga punya pulsa juga bisa lewat Whatsapp karena adik udah punya smartphone. Walaupun sebenarnya nelpon juga tetep pake pulsa sih.. soalnya sinyal masih suka ngadat. But to me it’s a big improvement loh, dibanding tahun-tahun sebelumnya yang kalo mau nanya apa-apa atau mau kasih liat sesuatu ya ga bisa secara detil karena komunikasinya lewat sms dan telpon doank. Jujur deh, kalo di suruh jawab pertanyaan di atas, aku pasti bakal bilang, “Waduh, bakal repot.”

Tapiiiiii eh tapiii yaaa…. Itu kalo teknologi dipakenya dengan bijaksana lho. Dengan fungisnya yang bener. Kebanyakan orang menggunakan fungsi teknologi dengan cara yang salah, dan meskipun ga merugikan orang tetep aja unfaedah. Apalagi sekarang noh… Pada ngetrend abis bikin video musik atau lipsyinc video yang isinya cuma goyang kanan kiri ngasih liat bentuk badan sementang semok dan cantik. Mending kalo ga berhijab, ini mah berhijab syay.. have fun sih have fun tapi tolong yang berfaedah dikit. Sayang lho sudah menutup aurat tapi malah gitu. Belum lagi resiko-resiko yang lain.. Suka greget aja liat anak-anak jaman sekarang yang menggunakan smartphone mereka untuk hal yang unfaedah. Lah nanti bakal gimana ya?

Well.. intinya sih manusia sulit survive tanpa teknologi, tapi juga harus membatasi penggunaannya pada level yang lebih bisa diterima. Ga mau juga kan di masa depan nanti anak-anak kita baru lahir tau-tau goyang-goyang depan kamera sambil goyang dua jari?

​Nyobain Ayam Geprek Takis


Di Bandar Lampung, atau mungkin secara global di Lampung, menu ayam-ayaman kayaknya jadi sesuatu yang hits dan kekinian banget sehingga agaknya di mana-mana nemunya Ayam geprek inilah, ayam penyet itulah dan segala macem menu ayam lain di sekitaran Bandar Lampung. Tahun kemarin, Ayam Geprek Bensu lagi jadi buah bibir banget di chit-chatnya tempat kerja aku sampe akhirnya aku rasain sendiri enaknya di Lampung Fair. Setelahnya beberapa temen aku mulai posting menu ayam baru di sekitaran sini di IG, ngebikin ngiler yak. Tauk aja yang ngeliat lagi kondisi kanker alias kantong kering, hihi. (Beliin angguran mah, malah dipamerin)

Yaaa jadi pas bulan Januari kemarin tuh aku lagi iseng buka hashtag #TelukBetung di Instagram (maklum, instamania) dan nemuin resto ayam yang ternyata syupa dyeket cyinnn sama kosan ekeh. Cuma jalan 5 menit doank euy, ga pake naik kendaraan dulu sooo syupa hemat mat mat. FYI kalo nyari kuliner emang dimana-mana sih deket, Teluk Betung juga ga segitunya gersang keleus sama cafe dan tongkrongan kece. Ada El’s Cafe, Amnesty Coffee, Tong Tjie Cafe yang emang pas di Ground floornya Chandra Teluk betung sampe yang agak level atas dikit semacam Pavilliun Resto (denger-denger doi harganya hebring, belum pernah nyicip makan di sana sih akunya), Cuma ya berhubung daku ga suka baso, bosen makan mi dan nasi goreng/uduk mulu kan pengin lah ya makan yang dagingan dikit. KFC ya ada sih, tapi mahal mwahahahahaha (ketauan kan kisminnya)



First time going there, tempatnya di daerah pertokoan Pasar Tengah Teluk Betung (atau ada yang suka nyebutnya Mangga Dua, though I don’t know why). Dari Bank BCA KCP Teluk Betung tuh cuma jalan beberapa meter doank udah keliatan semacam spanduk bertuliskan nama menunya, Ayam Geprek Takis. Aku curiga nih kata “Takis”-nya nih aslinya anagram dari “Sikat”, ala-ala gaeol ya bok bahasa di bolak-balik 😁. Standar size for a resto, dengan at least 7 meja tersedia buat makan di tempat (bener kagak sih?). Dekor-dekornya sih juga belum heboh banget lah ya, seingetku ada semacam wall painting atau mural yang kayaknya digambar sama yang punya resto. Aduh, sayah jadi pengin gambar. Nanti ya kalo sempet. Maybe kalau masang plastik pelapis buat mejanya lebih rapi aku bisa bilang tempatnya nyaman, dan kalo masih nampung saran sih bisa kali’ ya dekor di tambah biar lebih ‘instagramable’ gitu (yaaaaaainstamainakkkkk). Nilai plusnya dari tempat ini adalah no noise, alias ga berisik beib! Jalan tempat restonya itu emang turning point yang ga rame-rame banget. Terus pas kesana juga ga banyak yang lagi makan di tempat (jadi ademm), daaaaaaannn da myusik bro.. Gamelan Bali! Ampun dijeeee dakuh makjleb gitu inget rumah, uhuk. Andaikan saat itu lagi makan bareng Memekuhhh… Hiksss…. 😭😭😭

Basically Paket Ayam Gepreknya terdiri dari Nasi + Ayam yang digeprek (YAIYALAH COY!) dan disiram sambal terus ditemenin tempe, timun dan kol goreng. Tingkat kepedasan dari sambalnya punya level dari 1 sampai 30 dan harga 15 ribunya itu untuk level 1 – 5, selebihnya sih nambah harga tergantung dari tingkatan level. Minuman yang ditawarkan sih mulai dari es teh tawar sampe Thai Tea dan kawan-kawan yang ga bisa aku inget, maklumin ya. Kalo penasaran ya dateng aja kali’ kesono. Yang bikin aku sering makan si ayam geprek Takis ini sebenarnya bukan cuma murah bin deket kosannya, tapi delivery service yang datengnya wuss via Whatsapp. Ga pake bete nunggu lama langsung dikirim ke tempat tujuan. Sip ga tuh?

Ada yang mau recommend tempat makan lain di sekitar Teluk Betung, Bandar Lampung? Contact pleeeeeeesssss, ntar aku kesana trus review yess??

Salah naik Go-Jek


Aku jarang nonton di bioskop, jadi ga hobi-hobi banget merhatiin film baru di XXI. 22 Desember 2017 juga kebetulan Grand Opening Trans Studio Mini di Way Halim Bandar Lampung, jadi bioskop CGV (bener ga sih nulisnya?) yang dibuka disono  bakal jadi serbuan cinema-lover. Sayah? Ga tau deh… Agak males mau jauh-jauh ke Way Halim buat nonton. Walaupun babang Go-jek dan Grab udah bikin markas yang deket banget dari kosan, masalahnya tuh kan biaya dari Teluk Betung ke Way Halim sekali jalan aja udah nyamain naik angkot 2 – 3 kali bolak balik. Cepet nyampe sih cepet nyampe tapi yaa ruginya ituloh..

 Ngemeng-ngemengin soal ojek online, baru aja aku dapet pengalaman lucu soal mesen Go-jek. Jadi ceritanya, sebelum day off temen emang udah ngajakin ke 21 buat nonton film baru. Ngajak sana-sini dapetlah satu lagi personnel buat diajak nobar secara ga mungkin juga kan jadi obat nyamuk diantara orang pacaran. Tapi pas di hari H-nya, pesenan doodle art yang lagi aku kerjain belum selesai gegara mager parah πŸ˜‚πŸ˜‚. Harusnya bisa selesai sebelum jam 12 malah jadi ga selesai-selesai, jadi aku langsung cancel acara dari pada bikin orang nunggu-nunggu. Then, henpon matot lobet. Yaudindahh sayah boci-boci. Pikiran juga kepingin istirahat aja deh di kosan mumpung lagi suasana hujan.

Jam setengah 3 henpon aku aktifin coz batrenya udah rada penuh, dan ternyata temen aku itu kirim Whatsapp nanyain udah selesai apa belum. pesenan aku udah selesai dari jam setengah 2 sih aslinya tapi karena aku udah cancel acara dan henpon matot jadi ga mikir lagi. Dan dia pun whatsapp kalo filmnya mulai jam 5 sore dan bukannya di MDS (Matahari Dept. Store alias Center Plaza kalo nama bekennya) melainkan di BKM (Boemi Kedaton Mall, tapi orang lebih kenal dengan akronim MBK). Otomatis aku bisa nyusul donk kesana. Yaa.. Mikirnya gitu pertamanya. Padahal buat siap-siap dari mulai mandi sampai mau berangkat aja udah makan waktu setengah jam lebih, sementara aku pesen gojek di spot yang bikin aku jalan sekitar 5 menit dari kosan biar waktu nunggunya ga bengong kayak orang bego. Sooo sangat banyak sekali waktu kebuang, but everything seemed fine at the beginning jadi aku belum bener-bener panik. Belum ada masalah sampai si mamas Go-jek dateng ngejemput. Awalnya dia nanya, “Kupangnya di mana mba?” padahal aku pesen untuk tujuan ke Mall Boemi Kedaton. Kalo di situasi berbeda dimana aku lagi ga gupek ngejer waktu, aku harusnya udah nyadar ada kesalahan disini. Tapiiiii dengan enaknya aku bilang, “Mungkin error kali’ mas. Berangkat dulu aja deh gapapa yang jelas anterin dulu saya ke BKM”. Si Mas Go-jek mas iya-iya wae yang penting bayar, which is kita go offline.

Udah jalan lewat Rumah Sakit Bumi Waras, I got some weird feeling kayaknya ada yang ga beres. Dan beneran aja, henpon yang biasa aku pake buat telpon dan sms doank berdering nomor hp ga dikenal. Jelas donk apa masalahnya, ternyata aku dari awal salah naik driver Go-jek.

Diulang yah, GW. SALAH. TERIMA. DRIVER.

*ketawa sambil ngerasa bodoh sendiri*

WHY, ON EARTH, GW HARUS SALAH NAIK GO-JEK PULAK?

Aku ngomong ke abang driver dengan perasaan was-was takut si abang marah gitu, tapi dia sendiri juga jadu ketawa karena terjebak di situasi yang lucu. kita berhenti dulu di pinggir jalan dan setelah ngomong bentar, akhirnya ngebut balik ke pick up location. Tukeran driver gitu deh jadinya, udah kayak lagi syuting FTV gitu deh ekehh.. Aku kira bisa berangkat dengan lancar ke BKM, tapi emang yaaa… My Lord is always in need to have a funny moment with human’s life. Tuh abang Go-jek yang beneran pesenan aku udah nunggu bareng dengan pemesan yang drivernya jemput aku. Huehehe.. karena ga enak, jadi kukasih aja goceng buat abang driver yang salah jemput tadi. Dermawan ga sih? (padahal efek malu) Sambil ketawa-tawa nahan malu, curhat gitu sama driver yang bener waktu kita jalan menuju ke BKM kalau aku juga aslinya udah mulai bingung dari pas driver satunya nanya “Kupangnya sebelah mana?” . But we went on aja deh, kan intinya aku buru-buru juga ke XXI biar ga telat nonton.

Ehhh ga taunyaaa..  byurrrr… Hujan turun. Lumayan deres, sementara aku ga pake jaket. Abang driver masih sempet nanya mau labas atau kagak, dan aku juga dilema soalnya ga pake pelindung apa-apa selain baju di badan (tapi pake helm sih). Makeup udah sok-sok ala Korea pake blush on tebel dibawah mata gitu, masa iya mau diancurin air hujan? Aku ngeromet parah dalam hati. Akhirnya karena hujannya makin deres, kami berhenti di depan semacem loket apaan gitu. Terus aku video call temen aku buat nginfoin kondisi terkini. Haha.. Efek nonton live report ya bok. Yang ngangkat pacarnya si temen.

Pacar temen : Mah, lu dimane?

Aku : Ujan Haaarr, gw masih di jalan.

PT : udah nyampe Karang blon? (Tanjung Karang maksudnya)

Aku : Borooo, gw baru lewat Bumi waras (RS. Bumi Waras). Udah mulai blum filmnya?

PT : Masih lama, 20 menitan lagi lah kira-kira.

Aku : Oh yadah, bilangin Anggun gw masih otw.

PT : Yaya, Anggun ke WC. Ntar gw bilangin.

Aku : Oke ‘kee, tiket gw blom dibeli kan?

PT : Blomm.

Aku : Yaya gapapa takut gajadi sayang duitnya.

Tau gak, legaaaa banget ternyata masih banyak waktu sebelum filmnya mulai. Abang Driver nanya lagi mau di labas atau ga, dan setelah mikir bentar aku pun bilang “Gapapa kak labas aja, kerja di mall ini udah biasa dingin.” Songong ya hehe.. Tapi emang aku mah lebih kuat nerjang air hujan ketimbang kena AC. Seenggaknya air ujan rada anget wkwkwk. So cuss juga kita ngelabas hujan yang udah mulai mereda. Lancar lancar dan lancar jalan, di depan Pusat Belanja Bambu Kuning jalanan macet dan kita stuck. Shieeet maaannn… Aku udah putus asa banget dan mikir kalo aku pastinya udah ditinggal sama temen nonton duluan. Jam udah nunjukin sekitar 15 menit sebelum film mulai. Macetnya bukan sekedar macet tapi macet parahrahrah yang bisa bikin orang stuck berjam-jam, bisa kali disempetin tiduran di trotoar kalo bosen.  Wajar sih, soalnya jam segitu kan emang pasnya orang-orang pada pulang kerja. 

Aku : Waduh, mas gimana ini? Macet banget.

Abang driver : Iya nih mba, kalo gitu ambil jalan sini aja lah.

Terus abangnya belok masuk ke Bambu Kuning yang di depannya ada jembatan penyebrangan (kan ada dua, yang di sebelah Telkom sama yang sebelah hotel. Yang sebelah hotel itu depannya ada jembatan). Entah gimana caranya dia ambil jalan muter-muter yang langsung nembus ke depan BKM. Gile, untung aja aku balik lagi nyari dia di pick location karena nyatanya dia tau jalan. Makasih yah Bang Imam! Di depan BKM itu jalanan udah kayak diserbu pasukan, rame banget sama macet! Pas kita nyampe dan berhenti di seberang BKM, hujan langsung turun ngebyur. Itu posisinya udah tinggal 5 menit sebelum film mulai. Yaudah gpp yang penting udah nyampe. Nyebrang jalannya alakazam banget saking macetnya, but I was on time! Sumpah berasa kayak prajurit menang perang deh pokoknya!

Turn out credit dan iklan yang muncul sebelum film di mulai ternyata panjang banget dan aku ngerasa bodoh sendiri kenapa pake gupekan segala mau on time. Padahal waktunya juga masih panjang sih, jadi aku pake aja buat touch up makeup yang berantakan gegara hujan tadi. Eh, aku nontonnya Lima Cowok Jagoan soalnya si Anggun (temen yang ngajak nonton) pengin nonton film komedi. Um.. Lucunya ya lucu standard, habis kayak lagi nonton parodi gitu; refering to Japanese game/anime character sama Resident Evil. Heavily RE reference, and I’m not much of a zombie fan. So di tengah-tengah udah ha ha maksa. Intinya sih sukses nonton, jadi ga sia-sia ngeriweh mesen Go-jek ampe segitunya.

Udahannya si Anggun bilang, “Mah, ke Lampung Fair yuk!” Aku jawab, “Gw berhenti dulu mesen Go-jek jauh-jauh! Capek gw!”