Merenung : Pengin Bisa Masak!

Dengerin ibu-ibu curhat itu sebenarnya agak mengundang rasa miris buat cewek wife-wannabe kayak aku ini (Kalo di bilang single ntar Ikhie marah lagi). Beneran.

Kemarin, sepupu dari pihak Bapak dateng ke rumah Uwak. Sepupu ini anaknya paman bapak dan Uwak, yang kebetulan bulan Maret lalu menikah dan tengah hamil tua. Yah, jadilah para ibu-ibu buka sesi curhat berjam-jam, cerita ini itu dan aku yang cewek sendiri di situ cuma ngangguk sesekali ngikutin pembicaraan. Ga jauh-jauh dari ngurus keluarga dan persalinan, termasuk cara nyenangin suami dengan masakan. Si Tante yang biasa kupanggil Batin ini memang ga bisa masak, namanya orang berada yang bisa gaji pembantu. Terus setelah nikah, sering sms Uwak nanyain bumbu dan cara masak ini-itu. Topik kemarin ya isinya lumayan banyak tentang masak, kedua setelah persalinan.

Lalu, si Uwak cerita begini tentang salah satu adik perempuannya, “Si M, kalau beberesan rumah, bisa di acungin jempol. Kalau kamu datang ke rumah Puan (Paman) kan bisa lihat sendiri bersih dan rapinya kalau dia yang urus. Tapi ya itu, tetap masaknya payah. Kepingin masak demi nyenangi suami malah justru bikin Mamak sendiri repot. Udah gitu, kerja rajin pun mulutnya juga rajin. Kalau anaknya lagi ikutan pas dia kerja, sumpah serapah yang keluar. Padahal kan bisa nunggu anak tidur dulu baru beresan, macam rumah pejabat saja beresannya musti begitu.”

Aku sih, diam saja ya pas dia cerita demikian. Sebenarnya buatku itu ga asing kok, karena di rumahku sendiri juga penerapannya harus demikian. Punya ibu yang selalu pengin rumah bersih dan rapi nuntun rajin level dewa. Pagi-pagi rumah harus rapi, bersih spotless, termasuk ke kamar mandi. Kalau sehari aja lupa kamar mandi disikat, alamat kena keluhan panjang seharian. Kek handuk ga di gantung setelah dipakai aja sudah jadi bahan ngomel, ya gimana? Tapi tentu, Mamak dari kecil sudah pandai masak. Dan ini yanh jadi renungan waktu denger Uwak cerita.

Sering banget orang bilang, “Sepandai-pandainya perempuan ngurus kerapihan dan kebersihan rumah, belum sempurna kalau masih ga bisa masak.” Setelatennya merawat rumah juga pasti tetep melihat ke mampu atau ga-nya istri masak. Kalau dari awal menikah udah tinggal berdua sama suami pan masih bisa dimaklumi lah sama si doi, paling kalau diomelin tinggal pasang muka melas unyu gitu. Hehe… Tapi kalau di depan mertua ketahuan ga bisa masak, ngenes yah. Ketemu yang baik pun pasti malu juga. Tiba-tiba aja jadi parno gini, aku mikir, “Mamahnya Ikhie gimana ya, ntar jadi sebel ga kalau tahu aku ga bisa masak?”

Dan jawaban yang muncul di hati agak nakutin. Sama Mamak emang udah banyak wejangan, nanti kamu di rumah mertua ga bisa masak gimana, nanti kamu tinggal di rumah orang ga bisa masak gimana, walah… Dan sejurus kemudian iklan Dapur Umami muncul di TV. Berhubung resep-resep iklan ini kelihatannya gampang dicoba, aku punya tekad tersendiri. It’d be good kalo dari sekarang nyoba nyari resep-resep masakan sederhana. Baru nyatetnya sih, belum berani nyoba. Sebenarnya waktu di rumah leluasa aja nyoba numis atau bikin sayur bening sendiri, tapi pan yang makan yo dewekno. Siapa tahu lah ya, ada kesempatan masak, udah ada resep kan enak. Hihih… Pokoknya musti tercapai dah biar bisa ngumpulin resep buat masak!!!

2 thoughts on “Merenung : Pengin Bisa Masak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s