Seruit Meriah

Katanya harus seperti filosofi makan seruit. Tau makanan khas Lampung ini? Aslinya sebenarnya cuma campuran sambal, lalapan dan ikan di dalam sebuah mangkuk yang di campur dan dimakan bersama nasi. Pakai tempoyak silahkan, atau jerus nipis saja ya bolehlah. Katanya sih, maksudnya memaknai makan bersama di satu lauk dan mengambil dari mangkuk yang sama. Jadi kesannya hangatlah gitu, keluarga sehati. Hehe.

Tapi kalau acara makan aku malah ga pernah ikutan, apalagi ngepas ada menu ikan. Berhubung kalau pulang kampung ke rumah Yayik dan Ji’da itu pasti wajib ikan sesuai dengan kebiasaan makan orang Lampung, daripada ga dimakan aku lebih baik belakangan aja deh.

Ga cuma di saat seperti itu aja, pernah ke rumah makan yang ada di dekat terminal Menggala, cuma aku sendiri yang makan sementara yang lain bersantap ria. Habis ga ada menu daging ayam, atau bahkan telur! Sudah nyoba untuk maksain diri-sendiri supaya bisa makan ikan, tetep aja ga bisa. Saudara dan kerabat sampai heran, kok anak orang Lampung ga suka ikan? Ga tau juga nih, aku sendiri bingung. Hahaha. Jangankan makan seruit atau ikan tok, dari jarak tertentu kalau sudah aromanya tercium itu pasti udah gimana gitu. Hegh, ga nahan. Bukannya ga pernah nyoba lho, tapi justru karena udah nyoba itu yang bikin aku ga suka. Hehehe..

Tapi jujur kalau ngomongin seruit, salut aja gitu. Isiannya bisa dibilang komplit, sambal terasi, rebusan seperti terong atau apa aja sesuai selera, tempoyak dan ikan tentu aja ga boleh ketinggalan. Ga selalu harus pakai tempoyak sih, kalau ga suka. Cuma tinggal di campur di mangkuk, udek-udek terus ambil aja dikit-dikit dan makan sama nasi. Yang seru liat tangannya itu, bentar-bentar ada yang nyomot, ada yang nambahin sambal atau ikan, ada lagi yang ngudek-ngudek, dan seterusnya. Makanya seru meskipun aku ga ikut makan. Jadi kerasa meriahnya makan bersama, ya toh? Dan makannya ngepas di tengah ruangan ala lesehan gitu, di gelaran tikar panjang. Itu momen yang hangat dan menyenangkan untuk dilihat. Pokoknya kalau makan di rumah orang Lampung tanpa menu seruit, katanya mak bangek alias ga enak. Maksudnya ga enak kalo belum nyeruit lho.😛

Mau lihat seruit?


Image randomly taken from Google.

Presentasi kebudayaan semester 2 dulu pas dapet tentang budaya Lampung, seruit aku deskripsikan sebagai, “a food that holds a deep philosophy about intimacy and warmness in family, which you can see how all members eat from one bowl of seruit together.” Ibarat makan sepiring berdua, kalau seruit itu kan makan semangkuk bersama. Lebih meriah kan jadinya? Nah, siapa yang udah pernah nyoba makan seruit bersama keluarga? Mau nyoba bikin sendiri pun, ga susah. Sambel terasi, ikan goreng atau bakar, terong rebus (atau yang lain juga bisa sih ditambahkan), dan tempoyak. Yang lainnya bonusan, kalau mau. Dipikir-pikir, gampang juga ya. Hahaha…😀

7 thoughts on “Seruit Meriah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s