Sahur dan Kopi

Lucu sendiri kalo ingat semasa kecil hingga pertengahan SMK, susah banget dibangunin sahur. Kadang-kadang bangunnya setengah jam dari waktu alarm dan itupun masih merem melek ngumpulin nyawa ke badan. 😀 Sekarang semakin menua umur, tubuh juga ga melulu perlu tidur. Entah karena udah biasa atau gimana, but I’m wide awake on time. Ga pernah lagi sampe kesiangan atau bangun terlambat. Alhamdulillah ya…

Beda dengan puasa tahun lalu, sahur ga kuisi dengan minum kopi. Kayaknya udah kapok banget dengan pengalaman sakit maag yang bikin kelancaran puasa terhambat. Soalnya minum obat maag setelah konsumsi kopi kan ga baik, toleransinya aja selang 1 jam. Dipikir-pikir kasihan juga sama lambung dan pencernaan sendiri, selama ini udah kerja keras mencerna makanan dan minuman yang kadang-kadang juga punya efek negatif terhadap organ tubuh. Contohnya, dulu semasa SD aku ketagihan minum minuman bersoda sehingga begitu dewasa ngerasain sendiri efek dari kebandelan masa kecil, setiap minum yang bersoda bisa sampe berhari-hari nyeri lambung. Meskipun berkafein, aku minum kopi setiap pagi bisa membantu melancarkan BAB lho. Cuma yang biasa kuminum emang b kopi instant sih.. Mana mungkin kuat minum kopi hitam pahit aseli. Awal-awal ketagihan minum kopi sempet sering mules-mules, tapi lama-kelamaan jadi hilang sendiri dan minum kopi juga ga ada masalah. Malahan, yang dulu-dulu sekalinya kena maag bisa muntah-muntah dan ga bisa bangun dari tempat tidur, eh… Sekarang udah ga separah itu. Tetep sih.. Posisi lagi berpuasa, mending hati-hati sama kondisi badan sendiri. Ada baiknya juga mengurangi konsumsi di bulan Ramadhan, persediaan torabika moccachino di rumah jadi hemat sehingga yang biasanya serenteng habis dalam seminggu jadi bisa sampe dua mingguan (biasanya segitu). Ah… Yang penting, adjust dulu sama puasanya. Hari pertama puasa kayak zombie nyasar gitu, tapi moga-moga hari ini sama lancarnya kayak kemarin. Selain itu, lumayan rajin ngupdate di blog nih.. Alhamdulillah. 🙂

Antara Membaca dan Review Buku

Beberapa bulan kemarin waktu mulai sering baca e-book di laptop aku sempet punya keinginan kepingin bikin weekly review tentang buku-buku yang udah kubaca. Kalo ditanya jumlah novel digital yang udah dikoleksi sih.. Jangan ditanya. Malahan masih banyak banget yang belum sempet kebaca. Tadinya mau kubaca satu persatu selama liburan, tapi malesnya itu lho… Yang ada malah re-read novel yang udah dibaca. Haha.. Kalo kayak gini gimana bisa review mingguan? Baca buku yang di download sendiri aja udah males.

So far review novel yang berhasil aku buat baru ada dua. Udah ada rencana kepingin buat lagi, tapi masalahnya adalah novel atau buku apa yang bakal di review. Ngereview itu sebenarnya gampang-gampang aja, soalnya kan udah dibaca. Apa susahnya menceritakan kembali apa yang kita tangkap dari buku yang udah dibaca? Tapi kalo ditanya soal buku apa yang ingin di review, itu sih lain cerita. Ada banyak banget novel yang ceritanya bagus dan aku suka, tapi kriteria novel yang menurutku worth direview itu ga cuma bagus dan aku suka. Harus ada point yang membuat novel tersebut menjadi sesuatu yang positive untuk dibaca. Misal, kalo mau review novel romance, tentunya ga sekedar cinta-cintaan kayak film drama. Waktu buat review tentang The Fault in Our Star, aku milih buku ini karena unsur romance dan tragedy-nya deep banget. Romansa cinta remaja tapi tetep tragedi karena mereka pasangan penderita kanker, ketemu dan berpisah karena kanker, dan masing-masing juga hidup dengan kesadaran pribadi dan lingkungan terhadap kanker. Biasanya aku benci baca novel tragedi, tapi ceritanya terlalu bagus untuk ga di review. Yaa jadilah… Tapi ga juga selalu tragedi mulu kan yang bisa di review, aku penginnya yang bener-bener unik. Makanya mesti nyari dulu di list novel mana yang bakal di review nantinya. Sayang sih novel digital dari Indonesia dikit banget koleksinya, kalo novel English kan banyak dan ada tempat yang resmi buat download gratis. Pernah saking ga nemu novel mana yang mau direview, aku langsung jengkel sendiri sampe kepingin review Fifty Shades of Grey daripada susah-susah.. Hahaha. 😛

Mungkin sekarang, lebih baik fokus membedah semua novel-novel yang belum dibaca daripada mikirin review. Bawaannya berasa ada tanggung jawab gitu, habisnya udah download banyak-banyak tapi nganggur di laptop. Itu bukan kebiasaan yang baik ya… #Mikir.

Tentang Niat, Obrolan dan Blog

Tadinya rencanaku mau mulai puasa di hari ini, tapi kok ga jadi. Semalem sampe jam 2.30 pagi di depan laptop baca komik dan udah niatan banget, “kebetulan nih, mendingan sahur deh..”. Pas itu juga udah laper banget 😛 . Ealaahh.. Begitu keluar kamar ada Mamak lagi nonton TV, dan keinginan buat sahur demi menjalankan puasa esoknya malah ga jadi. Wkwkwk.. Habisnya tak pikir lagi, orang rumah pada mulai puasa di hari Rabu, kalopun jadi mulai puasa hari ini juga ga bakal kuat ngeliat yang lagi makan-makan di dalam satu rumah. Jahh… Katanya niat tapi ga terlaksanakan deh akhirnya. Hmm…

Seperti tahun sebelumnya, awal puasa memang selalu jadi bahan perdebatan. Baik yang sudah memulai puasa lebih dulu atau sesuai dengan penetapan riuh rendah memperdebatkan masalah kapan seharusnya puasa di mulai. Dipikir-pikir lagi, bukankah semua kembali lagi ke niat? Mau kapan puasa dimulai, niatnya adalah tetap untuk menjalankan perintah Allah SWT. Apakah sesuai syariat Islamnya adalah kembali kepada si pelaku, karena selama itu ga melenceng jauh dari ketetapan kan ga perlu heboh. Semisal, yang berpuasa dua hari sebelumnya ternyata tidak menjalankan tata cara yang benar atau semacamnya. Entah mungkin sahurnya melewati jauh dari waktu yang ditentukan atau berbukanya pun bukan setelah maghrib, nah… Ini baru dipertanyakan. Kalau cuma selang sehari mah ya ga masalah toh? Mungkin bakal jadi masalah ya waktu Idul Fitrinya, bareng atau ga. Biasanya beda waktu awal puasa beda pula penetapan Idul Fitrinya. Karena aku juga bukan yang berwenang untuk ngomongin masalah kayak gini, daripada asplos alias asal nyeplos, mendingan dijalanin dulu aja deh puasanya. Harusnya bulan ini kan mulai masuk musim kemarau, tapi cuaca mendung terus. Ga bakal terlalu dehidrasi karena ga keringetan, cuma biasanya cepet banget laper soalnya kalori banyak kebakar buat menghangatkan suhu tubuh ya. Yaaahh yang penting kita jalanin aja lah puasa tahun ini dengan nikmat dan semangat nyokk. :mrgreen:

Ngomeng-ngemong, kemarin juga Mamak masak lontong dan opor ayam. Maksud hati kepingin menyajikan masakan buat menyambut puasa, tapi ternyata kecepetan lagi seperti tahun kemarin. Sebenarnya rada sebel juga sih kenapa malah ga tepat lagi, tapi pemerintah juga udah melakukan penetapan jadi mau diapain. Tetep ngedumel juga sih ujung-ujungnya. Hahaha… 😀

Eh iya, selain itu semalem aku juga diajakin ngobrol sama Ali soal blogger Enigma yang katanya kalo bikin post tun mendetil banget penjelasannya seperti essay intelektual sampe-sampe yang komen bisa sampe 400 orang (kayaknya sih gitu ceritanya). Dari apa yang dijelasin adekku, blogger ini termasuk rajin dan teliti. Maksudnya, kalo aku mah ga bakal kuat disuruh bikin post membedah topik tertentu trus nyari sumber ini itu sampe ngirim email segala ke institusi demi konfirmasi. Tapi aku salut kok sama dia, walaupun keliatan kurang kerjaan (pizzzz damai, damai :Db) soalnya ada postnya yang dari awal udah ketebak jelas jawabannya tapi masih juga dicariin bukti kemana-mana. Etapi begitulah namanya seorang penulis, menurutku orang seperti dia pasti kalibernya sekelas detektif (Ali bilangnya gitu) atau jurnalis koran/majalah tingkat internasional. Aku pernah baca artikel temen FB tentang dia dan sempet penasaran. Tapi udah lupa sih ya, soalnya itu dulu banget… Apalagi si Enigma ini sempet vakum. Sebagai seorang blogger dia itu devoted banget dan merupakan contoh bagi aku yang masih pemula. Ga gampang lho bikin post-post yang teliti sampe bisa nyari sumber ini-itu sebagai bukti. Kalo aku sih… Haha kayaknya jauh banget deh..

Yahh apapun ceritanya, yang penting diriku tetap setia blogging. Untuk saat ini lebih nyaman jadi daily blogger yang doyan ngoceh random di blog ga pake mikir. Hahaha 😀

Chicks in a box

chick

Though a bit smelly, I think we’re agree that chicks are the cutest thing to look at. 20 newborn chicks had been separated from their mother and placed in a small box. Since there’s a lot of stray cats in my neighborhood and my mother’s chickens are often gettting caught by them, my mom decided to put the chicks inside. It’s not unusual for mom to do something like this, but this time we got 20 and I should say that’s quite a number. They are just so cute together, stumbling and chirping along with others. Shame they’ll get scary when grow up. Haha.

Talking about chicks, I also recalled my school days when I still love using notebooks with cute pictures on the cover, and one of them was chicks. Or when I was introduced with ring binder books, collecting colourful and cute looking binder papers began to be one of my hobby. I once had gotten a paper with picture of a girl and chicks in soft green and yellow color, and it was one of my favorite at that time. No matter how many years had gone, baby chicks never fail to make girls squealing the word ‘cute’.

It seems that chicks always relate to the concept of childhood, since you almost can find everything with them on it; stationeries, lunchbox and waterbottle, blanket or even wallpaper. Have you ever thought that maybe chicks are the popular picture to use in a drawing book because it is one of the easiest animal shapes to draw? Moreover, they’re cute! Crappy picture of chicks even is still deemed cute! 😀

looks like a penguin, or is actually a baby penguin?

I don’t know why looking and writing about chicks give me ansty feeling and nostalgic moment of childhood days, but I guess there’s still a part in my heart that will never abandon my child side. Also, girls are sucker to cute things. How could you avoid those tiny yellow creatures with chirps and small eyes? I guess not. 😆

Adzannya kok…?

Hal teraneh baru aja terjadi waktu shooting down laptop, tiba-tiba terdengar suara adzan berkumandang. Jadi bingung sendiri, emang ini jam berapa? Perasaan ngelirik desktop tadi waktu udah menuju ke angka 4.30 sore. Apa jamku ya yang salah? Terheran-heran sendiri, kuperiksa jam weker di atas lemari kecil di sebelah tidur dan hp, keduanya sama-sama menunjukkan waktu 4.30 sore. He? Wadehek?? Apa ga salah tuh muadzinnya, adzan kok dikumandangkan jam segini?

Lantas aku keluar dari kamar, komentar ,”Lho kok aneh sih masjid yang di sono, tiba-tiba adzan jam segini. Salah jam ya?” Ternyata bapak juga tiba-tiba nongol dan ngasih komentar, “ketiduran tuh kayaknya yang jadi muadzin. Jam di hp bapak juga 4.30 kok.” Weeww… What’s happening? Baru kali ini denger ada yang salah waktu mengumandangkan adzan. Ckck..

Spekulasi soal adzan yang salah waktu memang cuma bisa sekedar ditebak-tebak, tapi lucu juga ya bisa sampe salah waktu begitu. Kalopun hal tersebut akibat jam dinding yang mati atau pengurusnya ketiduran kayaknya juga agak ga masuk akal. Yang jelas meskipun ga terlalu heboh tetep bikin kepala geleng-geleng sendiri, berasa lucu. Untung aja pas adzan maghrib ga salah lagi ya. 🙂

Btw ngomongin adzan, udah waktunya sholat nih. Selamat menunaikan sholat maghrib bagi umat muslim ya. Dan bentar lagi juga kita bakal menyambut bulan suci Ramadhan. Are you ready for Ramadhan fasting month? I’m looking forward to this too. Selain bulan penuh berkah, kapan lagi dapet sebulan makan jajanan yang enak-enak, ya ga? Wkwkwk..