Hidup Ngekos dan Mengatur Keuangan

Walaupun ga pernah ngalamin kehidupan sebagai anak kos, aku cukup tahu kok gimana susahnya tinggal jauh dari orang tua dan harus ngurus diri-sendiri. Kalo sakit, sakit sendiri. Kalo laper, mesti masak sendiri. Kalo mau beli sesuatu, pasti yang dipikir, “wah, uang simpanan cukup ga nih? Belum ada kiriman.” Masih untung kalo punya penghasilan tambahan sehingga ortu ga merasa terbebani. Tapi kan ada aja yang masih harus bergantung sama kiriman uang ortu. Waktu tinggal sekitar dua bulan di rumah saudara karena harus ikut ujian akhir susulan, uang 150 ribu di tangan jadi sangat sulit buat di atur penggunaannya. Yah… Yang megang juga anak SMP yang sebelumnya ga pernah bener-bener ngatur pengeluaran sendiri. Alhamdulillah waktu itu makan dan minum ditanggung saudara, coba kalo ga, gimana kali. Belajar dari pengalamanku yang dulu ga bisa ngatur pengeluaran sendiri, aku selalu berusaha untuk mawas diri untuk ga kalap saat bepergian. Misalnya seperti waktu perjalanan KKL ke Yogyakarta dan Bali, uang yang jadi bekal perjalanan dari orang tua aku gunakan hati-hati. Rata-rata teman-temanku yang lain, belum ada setengah perjalanan aja udah banyak menghabiskan uang. Bahkan banyak yang ngaku, ketika sampe di rumah sisa uang yang ada kurang dari 100 ribu padahal sebelumnya dititipkan sekitar 2 juta atau bisa lebih dari segitu untuk perjalanan. Waduh, orang tua mereka ngira-ngira ga ya waktu ngasihnya? Aku aja di kasih 1,5 juta untuk 10 hari perjalanan masih ada sisa 750 ribu. Ya gimana geh… ga belanja oleh-oleh kok. Haha… Ketika yang lain sibuk liat ini dan itu dan tergoda beli, aku anteng aja beli yang murah-murah dan gampang di bawa. Daripada membeli oleh-oleh yang mahal dan belum tentu disuka, akhirnya kupikir, “beli aja yang kecil-kecil. Yang penting oleh-oleh.”

Semasa SMK dulu, banyak sekali teman-temanku yang hidup ngekos atau mondok di ponpes yayasan. Karena di daerah sekitar sekolah kami memang banyak yang menyediakan tempat kos, aku sering mampir dan menunggu di kosan teman sambil nunggu dijemput. Rata-rata satu kamar di isi 3 orang atau lebih kalo ukuran kamar kosnya cukup besar. Tapi ada pula yang tetap menetap bertiga dalam satu kamar kos yang kecil, sama-sama agar membayar uang kos berpatungan. Tentunya biaya hidup ngekos jadi lebih ringan, karena kalo misalnya sebulan sewa kos itu sekitar 400 ribu dan dibagi tiga paling hanya perlu minimal 150 ribu sebagai keperluan wajib. Uang SPP sekitar 80 ribu kala itu, jadi yang harus tentu disiapkan tiap bulan adalah 230 ribu. Jika orang tuanya membekali 600 ribu untuk paling tidak 1-2 bulan, asalkan si anak tidak boros-boros amat pertengahan bulan kedua pasti baru agak pusing (hahaha..). Kenyataannya, suatu kali salah satu temanku dipanggil ke ruang administrasi gara-gara masalah pembayaran SPP. Dan ga tanggung-tanggung, ia belum membayar uang sekolahnya selama 3 bulan. Jadilah omelan terlontar dari si guru tata usaha ketika mendengar alasan temen saya. Ketika di tanya apakah ibunya tidak mengirim uang, dia menjawab bahwa ibunya rutin mengirim. Namun pada pertanyaan kenapa tidak bisa bayar SPP padahal selalu rutin dikirimi uang, dia ga bisa jawab. Sepertinya si ibu tahu bagaimana tipe orang seperti teman saya ini ketika ia langsung bertanya jumlah nominal yang dikirim oleh ibu si teman. Katanya, “Kok bisa, dikirimi 600 ribu untuk bayar sebulan saja ga bisa. Kosan-mu kan dekat sini, kamu juga ndak tinggal sendiri di situ. Bahkan saya saja yang sudah berkeluarga ini, uang belanja 600 ribu itu bisa cukup sampai 3 bulan lho.”

Tentu saja yang diomeli bakal marah jika ada yang membandingkan seperti itu. Waktu kutanya dengan pertanyaan yang sama, sambil melengos dia menjawab, “Ah.. Ga taulah Ai. Habis gitu aja.” Padahal setelah aku cari tahu ke teman kosnya, ternyata beberapa kali dia minta dikirimi uang tambahan ke ibunya yang single parent kurang dari satu bulan setelah pengiriman sebelumnya. Alasannya, ada biaya sekolah darurat. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah, teman saya ini membayar hutang kepada temannya setelah meminjam untuk nombok bon di warung, jajan berlebihan dan membeli barang-barang mahal. Terkadang uang kos pun tidak dibayarkan karena uangnya sudah habis duluan. Walah, apa ga kasihan ya dengan ibunya? Aku sampe ga habis pikir.

Makanya, belajar dari kejadian di atas seharusnya pengeluaran dikontrol supaya tidak menimbulkan hutang dan masalah lain yang berkelanjutan. Kalo pengalamanku, saat itu masih SMP, mungkin bisa dimaklumi. Tapi SMK yang notabene sudah cukup umur untuk mengurus diri sendiri, perilaku temanku ini bukan hal yang baik untuk ditiru. Apalagi kalo sampe bohong dan merugikan orang tua. Kepada orang tuanya juga, mungkin sedikit ceroboh karena ga kontrol keseharian anaknya di kos dan sekolah. Ga bisa disalahkan sih, soalnya rumahnya memang jauh. Tapi kalo begini ceritanya, bagaimana di masq depan kalo sudah berkeluarga? Apalagi dengan kebiasaan masa SMK yang suka boros dan berani bohong ke ortu soal uang kiriman. Wah.. Semoga aku ga sampai tergoda seperti itu deh.. Amin. Mendingan tahan laper seharian daripada hutang sana-sini sampe akhirnya ngebohongin orang tua. Untuk apa berfoya-foya untuk sesuatu yang ga penting kalo hal yang lebih baik bisa dilakukan, seperti menabung. Yah.. Ga semua orang berpikir ke arah situ ya agaknya. Contohnya seperti teman saya itu.

5 thoughts on “Hidup Ngekos dan Mengatur Keuangan

  1. saya termasuk yang agak boros, sampai akhirnya bermasalah dengan kartu kredit. tapi sekarang syukurlah dah mulai bisa. kartu kredit dah ditutup semua. dan kini kredit rumah. kalau saja kakak2 saya gak membantu saya dengan keras, mungkin gak akan bisa sampai sekarang.
    memang masalah uang itu susah, apalagi dengan kondisi sekarang yang kebanyakan mementingkan masalah penampilan dan lainnya itu.

    • Iya mas. Anak jaman sekarang, apa2 banyakan sudah ga mau yang biasa2. Konsumsi jadi lebih banyak dari apa yang diberikan orang tua. Mungkin kalo masih tinggal dengan orang tua ga masalah, lha ini ngekos dan ternyata begitu akhirnya yang terjadi. Apalagi teman saya ini ibunya single parent, punya anak perempuan dua-duanya SMK. Wah kasihan saya waktu itu, tapi yang ditegur ya ga mudeng geh.

  2. tau gak apa yang paling menarik dari postingan ini? Pake “geh”. Hihihi. Kangen rasanya ama Lampung. Jangan boros-boros geh jadi orang meskipun udah pegang uang. Gitu kan ya Mba Annie?😀

    • Betul sekali mas. Mending hidup itu sederhana aja ga usah banyak pengeluaran berlebihan, apalagi masih SMA. Gimana kalo udah kerja ato bahkan berkeluarga nantinya?

      Hehe masa sih? Liburan ke Lampung geh makanya mas. Hahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s