Kompak

Sekitar dua minggu yang lalu aku diajak makan pempek bareng temen-temen jurusan AMIK yang kebetulan lagi ga ada kelas karena hari itu listrik mati. Aslinya aku juga ga ada kelas sih, berangkat aja buat nyari bahan tugas. Ajakan tersebut juga karena aku mau nebeng pulang bareng sama temen dari AMIK yang kebetulan rumahnya searah. Jadilah, sepuasnya makan pempek di dekat Pasar Unit 2 dapat traktiran goban dari yang abis gajian (ceritanya mau show-off kalo udah kerja). Agak malu-malu gimana gitu soalnya cuma aku satu-satunya anak ABA yang ada di rombongan 13 orang tersebut. Makannya yaa… Ga malu. Namanya gratis hohoho…😛 Tapi diantara asik-asik nyomotin pempek dan es teh manis, terlontar komentar, “Kamu sih, Ai. Kelasmu ga kompak, ga kayak kita-kita…”

Yah, kompak. Orang-orang menggunakan kata ini dengan banyak cara yang bervariasi pada setiap situasi. Kalo sering hangout bareng, itu kompak. Kalo bikin kaos buat satu kelas, itu kompak. Bolos tanpa ngomong ke dosen dan main tancap gas ngebolang juga kompak. Sampe copas tugas dan nyontek berjamaah juga kompak. Akhirnya jadi bingung sendiri, kalo ga ikutan katanya ga kompak. Padahal belum tentu setuju melakukan suatu hal barengan, tapi begitu ngomongin kata “kompak” akhirnya ga bisa berkutik. Jadi, itu sebenarnya kompak ato maksa? Terkadang aku suka jengkel sendiri mikirin hal ini, aslinya kepingin cuek bebek aja. Ga kompak ya udah, ga da yang larang. Cuma masalahnya, asal sekali ga kompak bawaannya pasti jadi terkucilkan. Dikiranya sombong lah, ga mau berteman lah dan sebagainya. Padahal kan bukan begitu sebenarnya. Yaa tapi ga bisa ngomong juga, udah kalah sama sekian orang yang nyebutin kata “kompak” tersebut.

Jadinya waktu dikomentari begitu, aku mau marah pun bisanya cuma mendam aja dan sabar-sabar. Kepingin bilang kalo itu bukan hak mereka untuk menilai mana yang kompak atau tidak kompak, tapi posisi di situ juga cuma tamu yang numpang ditraktir akibat kebetulan. Ckck, situasi yang kayak gini nih kadang-kadang bikin aku suka sebel kalo barengan sama yang bukan satu kelas. Bawaannya berasa di bully deh..😐

Lebih dari itu, aku cuma sedikit keberatan kalo mereka bilang kelasku ga kompak. Menurut opiniku pribadi, kompak itu bukan berarti harus ngekor kemana-mana sementara protes cuma di simpan di dalam hati. Kompak itu berarti saling selaras satu sama lain, bisa bergerak secara bersama-sama ketika ingin melakukan sesuatu. Kalo kompak cuma dinilai berdasarkan berapa kali sekelas jalan bareng-bareng sih… Emang bisa jadi penentu kekompakan. Yang ada, berdasarkan pengalaman rata-rata orang menyatakan sikap kompak justru pada hal semacam contekan bareng, bolos bareng, bohongin guru/dosen bareng dan semacamnya. Penginnya ga mau ikutan karena banyak pertimbangan, tapi malah di serang dengan kata “kompak”. Jiah… Giliran hal positif palingan juga alasannya, “duhh maless… Capek… Kantong lagi nipis…” Ah… Absurdnya.

Yang jelas menurutku, seseorang ga bisa menilai kekompakkan suatu kelompok kalo ga pernah masuk ke dalam lingkup kelompok tersebut. Itu ga sopan namanya. Toh aku barengan sama mereka juga bukannya bertindak sebagai juri untuk menilai kekompakkan mereka. Kok yaa… Membully diriku soal kompak ga kompak… Hiks… Aku kan jadi galau… #ngesoddilantai.

4 thoughts on “Kompak

  1. Menurutku sebuah kelompok disebut kompak kalau bisa mengerjakan sebuah tugas bersama dengan baik dan tepat waktu. Jadi nggak harus selalu melakukan hal yang sama atau pergi bersama ke sebuah tempat. Sebaliknya, malah seringkali pergi ke berbeda arah dan melakukan hal yang berbeda demi menyelesaikan tugas masing-masing, hehe….🙂

    • Yep. Tiap orang kan tentunya punya urusan masing2, tapi bukan berarti mereka ga bisa kompak. Makanya kubilang, jalan bareng bukan berarti bisa bikin suatu kelas kompak terus. Siapa aja bisa jalan bareng meskipun mereka bukan sekelas.

  2. hmmmm, sesuatu yang rancu sih sebenarnya menilai kekompakan di suatu kelas. melakukan aktivitas bersama yang dilakukan seluruh penghuni kelas (minimal 30 individu berbeda) dimana semuanya enjoy melakukannya menurut saya hanya “kebutuhan sosial” untuk bisa diterima dengan mengatasnamakan “kebersamaan”.

    saya yakin pasti ada beberapa orang yang tidak terlalu menikmati aktivitas dan lebih memilih untuk melakukan hal lain. menurut saya kelas yang kompak justru dimana kita bisa menerima perbedaan ini dan mau mengalah. yang berkegiatan bisa menerima jika ada yang tidak bisa ikut dengan alasan bagus (ga mau ikutan bolos karena ga mau rugi bayar uang kuliah ato emang suka ama matkulnya, ato harga kaos butut dengan sablonan pas2an bernama kaos angkatan itu dirasa overated buat kantong mahasiswa rantau). Yang ga suka acara kumpul2 juga sesekali bisa mengalah dan menyempatkan diri ikut di momen2 yang layak dirayakan (saya nggak suka karaoke dan lebih memilih nonton pilem sendirian di kamar tapi klo ada temen yg ngajak karaoke dalam rangka ultah bolehlah ikut nemenin walaupun di TKP sama sekali nggak pegang mic dan asik berkutat sama french fries dan gorengan :D)

    • Idem sama ko Tama. Aku kayak lagi di bully waktu ditanya begitu. Antara memaklumi kalo mereka bisa nanya gitu ke aku meskipun ngerasa risih karena itu bukan urusan mereka menilai kelasku kompak ato ga. Yaahh. Yang tabah aja, mungkin positif pointnya bisa makan gratis nyahaha😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s