Kapan Yaa? Kapan-Kapan!!

Membaca post Mas Dani yang berapi-api tentang pertanyaan “kapan menikah?”, sebenarnya kalau dipikir-pikir aku juga sampai kenyang ditanya pertanyaan macam begini. Habis mau protes juga sama aja tuh, ga ngaruh juga dengan sifat manusia Indonesia yang “ramah”-nya memang agak melewati tanda palang pembatas. Kepingin sih, bilangnya “maklumkan saja..” Tapi kalau gini, bukannya kita yang ditanya ini ya, yang harusnya dimaklumkan kalau merasa tersinggung?


Ga tau deh, keramahan kerabat atau kenalan yang membuka percakapan dengan awalan pertanyaan begini nih idenya siapa. Cosmos kah?😆 Tapi hal seperti ini memang jadi bumbu biasa di kalangan masyarakat. Mungkin saking biasanya, ga mikir juga nih tentang hak dan teritori pribadi orang lain.

Keramahan orang kita yang semacam ini terkenal lho, ga cuma sebatas senyum-senyum kuda. Hehe..😀 pernah di mana gitu aku baca tentang turis yang merasa kesal dengan pengendara taksi Indonesia yang terus menanyainya hingga ia merasa itu bukan lagi bisa dianggap sebagai keramahan, namun lebih kepada interogasi berlebihan. Kita-kita yang biasa menghadapi bombardir pertanyaan setiap hari memang sudah biasa dan ga terlalu menanggapi dengan serius. Tapi pastinya pernah “ngena” di hati bukan?

Kembali ke masalah pertanyaan “kapan nikah”-nya tadi. Jujurnya, setiap ada yang nanya-nanya hal setipe begini, pikiranku biasanya amburadul jeleknya. Misal, “udah semester berapa?” di mulut ngomong “semester sekian,” padahal dalam hati sih, “apaan sih , belum tentu juga pas gw wisuda lo dateng.” Susah sekali untuk tidak berpikir skeptis meskiun pertanyaan yang diajukan hanya sekedar berupa keramah-tamahan. Apalagi kalau sudah bagian, “kapan nikah?” yang muncul, duhh.. Nyesek ga sih? Yang ditanya ini kan makhluk dengan perasaan, bukan komputer yang menjawab monoton semua pertanyaan mau sepribadi apapun itu.

Kadang pula suka malu kalau akhirnya juga ikut-ikut melontarkan pertanyaan stereotipikal ini ke orang lain, maksudnya sama juga kepingin bersikap ramah. Padahal diri sendiri belum tentu senang ditanya begini ya?
Itulah… Keramahan macam ini susah untuk ditahan dari peredaran karena sudah mengakar. Sudah terlalu biasa dilakukan. Akibatnya ya ada banyak, seperti : si korban tertanya jadi malas kumpul bareng teman dan saudara, atau jadi sakit hati dan menyimpan amarah, atau buru-buru menikah. Naaah… Nantinya pun pertanyaan yang terlontar lebih banyak lagi. Maksudnya masih sama, “keramahan”.

Ini juga bukan salah pertanyaan “kapan nikah?”-nya atau si penanya, tapi juga buah “keramahan” masyarakat. Supaya dianggap “ramah”, terlontar pertanyaan yang belum tentu jawabannya diingat oleh si penanya. Tapi kalau ga nanya, berarti dia itu “sombong”, lebih-lebih kalau jarang ketemu. Timbal balik keramah-tamahan ini yang menyebabkan orang jadi mempertanyakan sesuatu yang sebenarnya ga berhak untuk dipertanyakan. So, salah siapa nih?

Intinya, ramah itu boleh saja. Mau menanyakan kabar pun ga ada yang melarang. Tapi mbok ya, gunakanlah pertanyaan yang berlevel “aman”, misalnya kabar diri dan keluarga, atau frekuensi pertemuan. Setidaknya orang cukup nyaman untuk mengobrol dan menjawab pertanyaan. Jangan laju bertanya-tanya hal yang jelas bikin kesal, macam “kapan nikah?” lha, terus mau apa setelahnya kalau di jawab? Paling-paling kalau ga lupa ya jadi bahan gosip. Nambah dosa toh? Kan ramah itu bukan obligasi, melainkan sebuah kepribadian. Maunya dikenal sebagai pribadi “ramah”, sayang caranya salah, malah akhirnya jadi “sok ramah”. Rugi ya?

9 thoughts on “Kapan Yaa? Kapan-Kapan!!

  1. Mba Annie, baru sempet mampir lagi nih. Hehehe….
    Demi menghindari bertanya yang seperti keramahan ga penting ini, kadang saya nanyanya kabar dia, keluarga dan kerjaan. Ato kalo ga kabar temen yang dulu sama-sama kenal.
    Dan menurut saya wajar kalo yang ditanya merasa tersinggung dan menunjukkan ke penanya.
    Btw kangen lampung pas baca penggunaan “laju”. Ada satu yang saya inget, dari temen baik di Lampung dulu:Makkitengkiwen (gatahu ejaan persisnya sih). Hehehe. OOT

    • Ehehe…

      Iya nih mas. Ramah itu ga ada yang larang, tapi ramah juga setidaknya berhati-hati sama pertanyaan. Kan orang menanggapinya berbeda-beda.

      Hoho… Sebenarnya jarang pakai logat Lampung. Ini biar ada khasnya saja.😀

  2. tulisan gini ini sebagai pengingat sebenarnya. Soalnya aku juga gak suka diyanyai seperti itu, tapi kadang kala mulut keceplosan juga bertanya dengan orang lain dengan pertanyaan yang sama. jadi serba salah >.<

    • Bener mbak.
      Karena itu, mari kita coba untuk mulai membiasakan diri menjadi ramah dengan cara yg baik, yaitu dengan menahan lontaran pertanyaan yang sekiranya bisa menyinggung orang lain.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s