Aku Selalu Seperti Ini Tentang Pertemanan

Dulu bisa dibilang persahabatan itu hal terpenting dalam hidup aku. Dalam kondisi keluarga yang tidak menentu dan penuh kebimbangan, ada sedikit orang yang masih peduli. Ada yang bisa hibur meskipun aku ga minta.


Dari dulu, aku memang lebih suka ditinggal sendiri. Aku ga suka berkumpul dalam kelompok tertentu, dan kalau lagi dalam masalah aku lebih milih untuk duduk dan memikirkan dengan tenang. Di SMP, saat masalah mulai makin sulit untuk dihadapi; hutang keluarga, ujian kelulusan dan biaya ini itu, aku duduk sendiri mikirin hal-hal tersebut sampai akhirnya di panggil Bu Adriana yang waktu itu jadi wali kelasku. Dia ngasih saran bahwa harusnya aku cerita sama teman apa masalahku untuk bisa bikin perasaan tenang.

Aku punya pikiran lain mengenai hal ini. Bukannya aku ga nganggap mereka teman, bukannya juga aku ga percaya dengan mereka. Lagipula ga semua orang bisa bener-bener kuhargai sebagai teman, dan jika ada aku pasti nunjukkin hal tersebut. Tapi hidupku bukan bukan bahan cerita yang baik di antara teman-temanku. Aku ga suka menjelaskan hari ini mikir apa atau seperti apa keadaan keluargaku kalau aku merasa ga perlu. Intinya, aku senang sendiri.

Ternyata mereka sadar juga kalo aku sering menjauh, jadi sejak panggilan Bu Adriana meraka sering nemenin aku makan waktu jam istirahat. Meskipun agak kurang berkenan untuk cerita, aku sedikit ngaku bahwa ada kelegaan ketika berbagi kepada teman.

Waktu aku ikut ibu kabur ke Seputih Banyak untuk menghindari penagih hutang bapak, aku ga ngomong apa-apa sama teman-temanku. Mereka memang tanya lewat sms, tapi aku cuma jawab bahwa aku ga bisa sekolah lagi karena keluargaku lagi dalam keadaan sulit. Yang aku ga tau, selama aku tinggal di Seputih Banyak mereka nyariin aku ke rumah. Waktu tahu hal itu, terharu jadinya. Nyesal juga ga cerita, tapi namanya juga ga pengin. Haha.

Pas di minta Bu Adriana balik lagi ke Teluk Betung, aku ngerasa malu. Orang di sekolahku tau seperti apa kondisi keluargaku yang akhirnya harus maksa aku untuk ga masuk berminggu-minggu dan kabur dari kejaran orang. Ada yang nangis pula waktu aku datang ke sekolah. Semuanya termasuk guru-guru support aku sampai akhirnya perjuangan untuk lulus SMP berhasil juga. Masih aku kenang sampai sekarang masa itu, dan aku ga pernah berhenti berterima kasih kepada Bu Adriana Salempang, Suster Winanda HK. yang saat itu menjabat sebagai kepala sekolah, guru-guru SMP Xaverius 1 Bandar Lampung, teman-temanku Sandra, Jeane, Christine, Mutiara dan semua yang ga bisa aku sebutkan satu-satu. Kalau waktu itu ga ada support kalian, mungkin aku ga akan seperti sekarang yang bisa lulus SMK dan akhirnya kuliah.

Nah, kalo sekarang? Sayangnya sejak 7 tahun berlalu kami ga pernah lagi ngobrol bahkan meskipun sudah ada Facebook sebagai media komunikasi. Aku rasa, meskipun ada masa bahagia yang bisa kami kenang, dulu dan sekarang adalah waktu yang berbeda dan ga bisa disamakan. Sekarang pun aku tetap lebih senang sendiri, lebih senang dibiarkan dan lebih senang untuk di ajak bicara kalau berkepentingan. Dan juga, ada banyak orang yang ga suka sama sifatku yang bicaranya dianggap kasar sehingga mereka tersinggung. Jsdi kupikir, kalau pendapatku ga bisa diterima, apa aku juga bisa menerima orang sebagai teman?

Mungkin juga kencenderungan susah menerima teman ini karena sebuah kejadian yang sangat amat membekas di hati. Salah satu dari yang sudah kusebutkan di atas pernah datang main ke rumah. Karen postur tubuhnya kecil, tidak sesuai denganku yang memang bongsor sejak SD, kami kelihatan seperti orang dewasa dan ank kecil. Begitu dia pulang, bapak bilang, “bikin malu aja kamu bawa teman macam begitu ke sini. Coba liat bapak, mana ada teman bapak yang datang ga bawa motor kalo main ke rumah.”
Saat itu aku nangis sejadi-jadinya dan berpikir, “mungkin sebaiknya aku ga punya teman. Pilihannya cuma dua; Orang ga bisa menerima aku, atau orang tua yang ga bisa menerima mereka.” Dan akhirnya sejak itu pula aku bilang sama diriku sendiri bahwa sampai kapanpun aku ga akan bawa siapa-siapa ke rumahku, kecuali jika mereka datang sendiri. Aku juga bilang untuk ga terlalu dekat dengan orang lain, mau seperti apapun hubungan kami. Karena nantinya akan sama aja, itu semua akan berlalu dan menghilang seiring waktu berjalan.

Aku ga nyalahin siapapun yang berpikir bahwa harusnya aku berubah dan semacamnya. Tetapi pahami bahwa apa yang aku lihat dan rasakan adalah tidak sama dengan orang lain. Aku memang seperti ini, yang senang sendiri, tidak takut untuk bicara kasar, dan aku memang tegas. Ketika orang kenal aku, aku ga akan minta mereka untuk jadi temanku dan berharap aku jadi baik di mata mereka. Cara aku berteman dengan orang memang begini adanya.

Yah.. Sulit juga sih hidup seperti ini. Tapi memang begini kenyataannya. Haha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s