Seperti Ini “Broken Home”?

Semalem aku ikutan tweet JAWABJUJUR, ketemu pertanyaan begini, “pernah ga ngalamin yang namanya broken home?”. Wah, kalo ceritanya begini termasuk “Broken Home” ga nih?

Dulu pertama kali ngerasain kondisi keluarga kacau di kelas 3 SD, rasanya seperti pengungsi bencana gempa bumi. Mau ngapain aja udah takut, tapi lebih takut nanya emak yang pikirannya kalut. Barang-barang rumah di pack dan dibongkar lagi berulang-ulang. Setelah bapak pulang ke rumah sehabis beberapa hari kabur dari kejaran penagih hutang, aku pikir semua bakal tenang dengan menjual rumah dan mengontrak di tempat lain.

Ga taunya, masa hampir 6 tahun seperti makan buah simalakama. Kalau hari sekolah, mau pulang ke rumah udah ga ada gairah. Ribut terus pagi dan dan malam. Sampai akhirnya lagi-lagi bapak kabur menghindari kejaran hutang, kali ini kami benar-benar pergi dari rumah dan tinggal di Seputih Banyak di tahun 2007. Waktu itu yang terpikir, “ga apa-apa kalau ga bisa sekolah, yang penting hidupku dan emak sudah tenang.” kenyataannya, bapak datang lagi dan kami kemudian pindah ke Unit 3 di Tulang Bawang.

Baca lebih lanjut