Ketika Jadi “Pemilih”

Hi people!

Daku rasa pengalaman hari ini patut dijadikan renungan bahwa makna “pesta demokrasi” emang harus lebih dipahami lagi oleh masyarakat, termasuk aku. Bahkan bagi kita yang dianggap “generasi muda”, aku sendiri bingung sama kejadian ini.

Well, kita kan baru aja berheboh ria soal kemenangan Joko Widodo dalam pikada Jakarta kemarin. Karena aku bukan warga Jakarta, makanya ga sama antusiasnya kayak mereka. Wong bukan pemilihan di daerahku kok. Disini nih yang jadi permasalahannya. Ketika dapet kesempatan berpartisipasi dalam pemilihan kepala daerahku, justru aku ga tahu siapa kandidat-kandidatnya.


Mungkin sebenarnya aku yang kurang nyari informasi soal pemilu ini. Kemarin memang ada kampanye besar di daerah kota (soalnya tempat tinggalku jauh dari pusat perdagangan, termasuk pedalaman.) sampai ngundang artis segala. Untung ga dapet alamat palsu ya, hihi. Karena kupikir, “halah, belum tentu juga dapet undangan milih. Bodo’ ah..” jadi aku cuek aja. 2 hari sebelumnya, ternyata bukan cuma orang tuaku yang dapet undangan serta kartu pemilih. Daku juga dapet. Wuluh, terus gw milih siapa nih?

Terus iseng kutanya sama ibu semalam. Jawabnya, “lha, mamak aja ga tau siapa yang mau dipilih.”
Ya ampun, ibu dan anak sama parahnya. Haha. So, hari ini ketika pemilihan diadakan aku masih mikirin siapa yang bakal beruntung dapet suara sukarelaku. (ceilah sok penting. :p) jam sepuluhan, bapakku berangkat duluan untuk nyoblos. Begitu pulang, ibu nanya, “milih ga nih?” Aku sendiri cuma diem aja, bingung sendiri mau ikut pemilihan atau ga. Jujurnya, selain pemilihan ketua OSIS atau ketua BEM aku belum pernah ngerasain jadi seorang yang berkesempatan untuk memilih kepala daerah. Padahal sebelumnya sempat ada pemilihan lurah, tapi aku ga dapat undangan. Makanya itu aku cuek banget soal pilkada ini. Eh, ga taunya pas kali pertama malah gini ya. Hopeless deh..

Bapakku sih jawabnya, “Mau nyoblos atau ga ya ga masalah. Tapi saya milihnya nomer dua, soalnya kita udah dapet duit dari si nomer dua ini.”
Menceloslah hatiku denger kata “dapet duit” itu. Sambil rada-rada manyun, aku berangkat bareng ibu ke tempat penyoblosan. Sampe di sana, aku cuma ketawa dalam hati, tapi diem aja selama pencoblosan. Begitu masuk bilik suara, aku jadi galau. Tapi akhirnya dengan berat hati, paku tercoblos di gambar nomer dua. Setelah kertas suara di masukkan ke dalam kotak suara dan jari terbubuh tinta, aku pulang dengan kecewa.

Kenapa kecewa?
Yah, aku rasa kalian cukup bisa ngerti ya. Coba deh mikir, aku ga tau siapa aja kandidat yang mau kupilih. Ketika pemilihan tiba, pada akhirnya justru dukunganku jatuh pada yang melakukan money-politic. Pilihan itu bukan berdasarkan penilaian sendiri, tapi karena “dapet duit”. Ckck.. Kecewa deh aku jadinya. Rasanya jadi kayak ga berasa penting harus ikut pemilihan kepala daerah atau ga, soalnya ujung-ujungnya milih berdasarkan siapa yang ngasih komisi. Yang miris adalah, ini merupakan pertama kalinya aku ikut dalam “pesta demokrasi”. Ngapain ikut pesta demokrasi kalo gw aja gx menjalankan demokrasi dalam pemilihan?

You would think that it’s a simple matter. Cuma hal sepele. Tapi walaupun sepele, pasti kecewa juga kan kalo sesuatu yang biasanya dirimu liat di TV ternyata terjadi pula kepadamu? That’s why I’m so dissapointed of what I did. Gitulah..

Wes lah, sekian curhat ngenes Annie Tjia tentang pengalaman pertamanya ikut nyoblos, yang sama sekali ga ada bagus-bagusnya. Mungkin emang Tuhan belum ngasih kesempatan aku jadi warga negara yang baik, memilih pemimpin berdasarkan penilaian selective dan bukan dari embel-embel “dapat uang” dan sebagainya. Ini merupakan renungan buatku sendiri, yang masih harus mempertanyakan arti “demokrasi” yang sesungguhnya. Buat yang belum pernah ngalamin, ya jangan sampe. But it’s up to you honestly. Teori itu ga singkron sama prakteknya.

Until later aja lah people. Masih bad mood di atas topangan dagu..

Post ini dikategorikan dalam “Liburan Post Goal”.
Tentang “Liburan Post Goal”:
Liburan Post Goal: One Post One Day

One thought on “Ketika Jadi “Pemilih”

  1. Pingback: Liburan Post Goal: One Day One Post « Randomzation of Annie Tjia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s